Investor modal ventura berpengalaman, Yvonne Bajela, resmi meluncurkan dana investasi independen pertamanya bernama Evertrue dengan modal segar sebesar 17 juta dolar AS atau sekitar Rp267 miliar. Langkah ini diambil setelah Bajela menghabiskan lebih dari satu dekade berkecimpung di ekosistem modal ventura, termasuk perannya di LocalGlobe dan Impact X Capital Partners. Dana yang terkumpul ini melampaui target awal, menunjukkan tingginya kepercayaan investor terhadap rekam jejak Bajela dalam mendukung perusahaan rintisan kelas kakap seperti Wise dan Marshmellow.
Evertrue akan berfokus pada pendanaan tahap awal bagi perusahaan rintisan di Inggris dan Eropa. Bajela menetapkan rata-rata investasi sebesar 350 ribu poundsterling per perusahaan, dengan target menyuntikkan modal ke setidaknya 20 startup dalam tiga tahun ke depan. Keputusan untuk mendirikan dana sendiri di tengah ledakan kecerdasan buatan (AI) dianggap sebagai momentum strategis. Menurutnya, AI telah mengubah ekonomi pendirian perusahaan sekaligus menciptakan peluang baru bagi investor tahap awal.
Meski demokratisasi teknologi memungkinkan siapa saja untuk membangun produk dengan lebih mudah, Bajela menekankan bahwa membangun bisnis yang tahan lama tetap menjadi tantangan besar. Ia berencana mencari pendiri startup yang memiliki wawasan mendalam terhadap suatu masalah, kemampuan eksekusi yang tidak biasa, dan ambisi besar. Pengalamannya bekerja di berbagai pasar global, termasuk Jepang saat di Mitsui dan karier awalnya di Goldman Sachs, membentuk perspektifnya dalam menilai potensi talenta di luar batas geografis.
Proses penggalangan dana di tengah pasar yang menantang bukanlah perkara mudah. Bajela mengakui bahwa penolakan setelah berbulan-bulan diskusi adalah bagian terberat dari perjalanannya. Namun, keteguhan tersebut membuahkan hasil dengan dukungan dari lima investor institusional, termasuk British Business Bank. Menariknya, Bajela sengaja membatasi ukuran dana agar tetap fokus pada investasi dengan keyakinan tinggi, alih-alih terpaksa menyalurkan modal hanya karena memiliki kas yang melimpah.
Di sisi lain, ekosistem startup di Inggris sedang berada dalam fase krusial dengan munculnya pusat AI di King's Cross. Perusahaan seperti Revolut dan ElevenLabs menjadi bukti nyata bagaimana pasar Inggris mampu melahirkan entitas global. Bajela melihat peluang besar untuk menangkap talenta-talenta menjanjikan ini sejak fase awal, terutama karena banyak pendiri di Eropa memiliki aspirasi ekspansi ke pasar Amerika Serikat.
Bagi ekosistem startup di Indonesia, langkah Bajela memberikan pelajaran berharga mengenai pentingnya spesialisasi dan disiplin modal. Di Indonesia, di mana pendanaan tahap awal sering kali terpengaruh oleh tren global, para pendiri lokal kini harus lebih fokus pada pembangunan bisnis yang berkelanjutan daripada sekadar pertumbuhan cepat dengan bakar uang. Strategi Bajela yang memprioritaskan kualitas pendiri di atas kuantitas investasi bisa menjadi model bagi manajer dana lokal di tanah air.
Pasar modal ventura Indonesia saat ini memang sedang mengalami penyesuaian setelah era pendanaan masif berakhir. Investor kini lebih selektif, mirip dengan apa yang dilakukan Bajela di Eropa. Transisi dari fokus pertumbuhan ke profitabilitas menuntut disiplin yang sama seperti yang diterapkan Evertrue. Jika startup lokal mampu menunjukkan ketangguhan dan visi jangka panjang, modal domestik maupun asing tetap akan mengalir, meskipun dengan kriteria yang jauh lebih ketat.
Ke depannya, Evertrue diprediksi akan menjadi pemain kunci yang menjembatani startup Eropa dengan kebutuhan global. Fokus mereka pada AI dan fintech mencerminkan kebutuhan industri saat ini akan solusi yang memecahkan masalah nyata. Bajela sendiri menyatakan bahwa kesuksesan sebuah dana tidak diukur dari besarnya nominal, melainkan dari kualitas perusahaan yang berhasil dibangun di bawah portofolionya.
Tren ini menunjukkan bahwa di tengah ketidakpastian ekonomi global, modal tetap tersedia bagi mereka yang memiliki rekam jejak teruji. Bagi para pendiri startup, khususnya di sektor AI, ini adalah waktu untuk membuktikan bahwa produk mereka bukan sekadar tren sesaat, melainkan fondasi bagi industri masa depan. Bajela berkomitmen untuk terus memantau 'jarak' yang telah ditempuh oleh seorang pendiri, sebuah metrik yang ia anggap krusial dalam membentuk perspektif bisnis yang matang.
Seiring dengan semakin terintegrasinya pasar teknologi dunia, kolaborasi antara investor berpengalaman seperti Bajela dengan talenta lokal akan semakin intensif. Indonesia, dengan populasi digital yang masif, harus mulai memposisikan diri untuk menarik minat investor yang memiliki visi jangka panjang serupa. Fokus pada fundamental bisnis dan inovasi yang memiliki daya tahan tinggi adalah kunci utama untuk memenangkan kepercayaan investor global di masa depan.