Roblox memperkenalkan fitur bernama Build yang memungkinkan pengguna membuat game langsung dari perangkat seluler dengan bantuan kecerdasan buatan. Peluncuran dilakukan Kamis pekan ini, dan fitur tersebut menargetkan pengguna tanpa pengalaman pemrograman sama sekali.
Cara kerjanya cukup sederhana. Seseorang cukup mengetikkan perintah berbasis teks, misalnya ingin membuat game petualangan santai di hutan lebat, lalu sistem akan menghasilkan versi awal game tersebut. Pengguna dapat mengubah hasilnya dan membagikannya kepada teman. Roblox menyatakan fitur ini memanfaatkan rangkaian model AI, baik yang sumber terbuka maupun milik perusahaan sendiri, untuk menangani mekanika permainan, lingkungan, karakter, gaya visual, hingga suara.
Langkah Roblox bukanlah yang pertama di industri. Perusahaan raksasa seperti Google, Microsoft, dan Tencent sebelumnya telah membangun perangkat serupa untuk generasi konten game berbasis teks. Namun, kehadiran fitur semacam ini memunculkan dilema baru terkait kualitas ekosistem kreatif di platform hiburan digital.
Kekhawatiran utama datang dari kalangan pengembang dan pemain. Mereka menilai penurunan batas masuk pembuatan game melalui prompt teks berisiko membanjiri platform dengan produk berkualitas rendah dan berulang. Persaingan pun bertambah ketat karena kreator harus berhadapan tidak hanya dengan sesama manusia, tetapi juga konten buatan AI yang diproduksi dalam hitungan menit.
Survei State of the Game Industry pada konferensi tahun ini memperlihatkan angka yang tegas. Sebanyak 52% profesional industri game menganggap kecerdasan buatan generatif memberi dampak negatif bagi sektor mereka. Temuan itu mencerminkan resistensi yang nyata di tengah euforia otomatisasi.
Roblox mencoba meredam kritik dengan sistem kurasi berbasis retensi pemain. Game hasil generate AI akan diperlakukan sama dengan game lain: jika tidak dimainkan, maka tidak akan ditampilkan menonjol. Perusahaan menegaskan sistem penemuan mereka menyoroti judul dengan retensi jangka panjang, bukan sekadar output massal yang disebut sebagai "AI slop".
Dampak dari tren ini perlu dicermati di Indonesia. Negara kita memiliki basis pengguna Roblox yang besar, terutama pelajar. Kemudahan membuat game tanpa coding dapat memicu ledakan kreativitas lokal, sekaligus menguji literasi digital anak muda terhadap konten berkualitas. Di sisi lain, pengembang indie Tanah Air yang selama ini berjuang secara mandiri bisa terdesak oleh banjir konten instan.
Persaingan di ekosistem game Indonesia memang sudah padat. Komunitas kreator lokal seperti di Discord dan event Game Prime kerap menonjolkan karya original. Kehadiran AI生成 di platform global seperti Roblox berpotensi mengubah lanskap tersebut, di mana volume bukan lagi ukuran satu-satunya, melainkan daya tahan pemain.
"Sistem penemuan kami dirancang untuk menonjolkan game dengan retensi pemain jangka panjang, yang tidak termasuk konten sampah AI. Kualitas di beranda tidak berubah: jika tak ada yang memainkannya, tak ada yang menemukannya," tulis Roblox dalam pernyataan resminya. Tujuannya, menurut perusahaan, tetap mempercepat proses kreasi di semua level pengalaman.
Uji coba publik Build akan dimulai 28 Juli mendatang. Tahap awal terbatas untuk pengguna di Selandia Baru berusia sembilan tahun ke atas dengan verifikasi umur. Pengguna 16 tahun ke atas berhak memublikasikan karya ke audiens global. Roblox menyediakan versi dasar gratis serta opsi berbayar.
Pengembangan Roblox tidak berhenti di Build. Perusahaan juga meramu agen AI untuk membantu kreator melakukan uji coba dan analitik, yang dijadwalkan hadir beberapa bulan ke depan. Mereka sebelumnya sudah merilis model fondasi AI untuk aset 3D serta chatbot pendamping pengembang. Model pembentukan adegan yang bisa menciptakan seluruh scene 3D dari satu prompt juga sedang digarap.
Pengumuman ini muncul sesaat setelah Roblox memutuskan menghentikan fitur panggilan video avatar "Roblox Connect" yang diluncurkan 2023. Arah strategi perusahaan jelas berlabuh pada otomatisasi kreasi. Bagi Indonesia, momentum ini mengingatkan pentingnya kebijakan literasi dan kurikulum teknologi yang membekali generasi muda tidak sekadar menjadi konsumen, tetapi pencipta yang kritis terhadap output mesin.