Visa memperkenalkan Visa Stablecoin Platform (VSP) pada Kamis (16/7) sebagai layanan perusahaan yang memungkinkan lembaga keuangan menerbitkan, menyimpan, mentransfer, dan menukar stablecoin Open USD melalui satu sistem terintegrasi. Langkah ini diambil di tengah memanasnya persaingan pasar stablecoin global, yang langsung menekan harga saham Circle sekitar 5% pada hari yang sama.
VSP hadir dengan dukungan penuh terhadap Open USD (OpenUSD), stablecoin anyar dari konsorsium Open Standard. Platform tersebut menyertakan infrastruktur dompet, fitur penerbitan dan penukaran token, serta koneksi langsung ke jaringan pembayaran Visa yang sudah ada. Dengan demikian, bank, perusahaan fintech, dan pelaku kripto dapat membangun produk berbasis stablecoin tanpa harus mengganti sistem operasional mereka saat ini.
Stablecoin merupakan aset kripto yang nilainya dipatok tetap, umumnya mengikat nilai terhadap dolar Amerika Serikat. Berbeda dengan bitcoin atau ether yang harganya fluktuatif, stablecoin banyak dipakai untuk pembayaran, transfer lintas batas, dan penyelesaian transaksi karena memadukan kecepatan blockchain dengan stabilitas harga. Penggunaannya semakin luas seiring kebutuhan akan penyelesaian dana yang efisien di era digital.
Visa menyediakan layanan Wallet-as-a-Service, konektivitas blockchain, serta fitur keamanan seperti alur persetujuan ganda, catatan audit, dan daftar izin transfer. Integrasi dengan jaringan pembayaran Visa memungkinkan institusi memasukkan stablecoin ke dalam pengelolaan kas, penyelesaian, dan produk pembayaran secara langsung. Strategi ini memperluas langkah Visa di aset digital setelah sebelumnya mendukung penyelesaian stablecoin untuk mitra tertentu dan kartu terkait kripto.
Open Standard, penggagas Open USD, bukan pemain biasa. Konsorsium ini didukung oleh Visa, BlackRock, Alphabet, dan Coinbase. Model yang ditawarkan cukup disruptif: menghapus biaya penerbitan dan penukaran, serta mengembalikan hampir seluruh pendapatan cadangan kepada mitra distribusi. Jika berhasil, struktur ekonomi stablecoin bakal bergeser dari penerbit ke perusahaan yang menyalurkannya.
Tekanan kompetitif langsung dirasakan Circle, penerbit USDC yang merupakan stablecoin terbesar kedua di dunia setelah USDT milik Tether. Saham Circle turun sekitar 5% pada Kamis dan terus terbebani sejak Open Standard diperkenalkan. Investor khawatir model bagi hasil baru dapat menggerus profitabilitas penerbit stablecoin mapan yang selama ini mengandalkan selisih pendapatan cadangan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan karena bank dan fintech lokal mulai menjajaki settlement lintas batas berbasis stablecoin untuk efisiensi biaya. Meski Bank Indonesia masih melarang penggunaan aset kripto sebagai alat bayar, penggunaan stablecoin untuk koridor B2B dan remitansi masih mungkin melalui sandbox regulasi. Kehadiran platform kelas Visa dapat mempercepat adopsi infrastruktur serupa oleh perbankan nasional jika izin diperluas.
Di sisi lain, ekosistem kripto domestik seperti Pintu, Tokocrypto, dan Indodax sudah memfasilitasi perdagangan stablecoin, namun belum menyentuh layanan penerbitan terintegrasi ala VSP. Jika model Open USD masuk ke Asia Tenggara, distributor lokal berpotensi mendapat margin lebih besar ketimbang sekadar menjadi tempat pertukaran. Hal ini dapat mengubah peta persaingan exchange regional dalam dua tahun mendatang.
Jack Forestell, Kepala Produk dan Strategi Visa, menyatakan bahwa stablecoin membuka lapisan uang terprogram baru, namun kendala utama institusi bukan pada konsep melainkan realitas operasional. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa VSP dirancang untuk menjawab hambatan teknis dan kepatuhan yang selama ini menahan adopsi massal oleh lembaga keuangan global.
Visa sendiri sebelumnya sudah menyediakan layanan penyelesaian stablecoin untuk mitra terpilih dan memperluas layanan pembayaran lintas batas berbasis blockchain. Peluncuran VSP menunjukkan komitmen panjang perusahaan untuk tidak sekadar mendukung kripto, tetapi membangun pipa infrastruktur yang dikelola penuh oleh Visa.
Ke depan, persaingan stablecoin akan bergeser ke arah siapa yang menguasai distribusi dan integrasi jaringan, bukan sekadar siapa yang menerbitkan. Model tanpa biaya penerbitan dari Open Standard dapat memicu perang margin yang memaksa penerbit lama berinovasi atau kehilangan pangsa pasar. Lembaga keuangan di pasar berkembang termasuk Indonesia perlu memantau tren ini untuk menyiapkan strategi kemitraan yang tepat.
Proyeksi berikutnya adalah masuknya lebih banyak institusi besar ke konsorsium Open Standard seiring bukti adopsi VSP. Jika Visa sukses menggabungkan dompet, penerbitan, dan jaringan pembayarannya dalam satu sistem, batas antara perbankan tradisional dan infrastruktur blockchain akan semakin tipis di level global.