W3 & Crypto

Popularitas Bluesky Menurun, Fokus Strategis Beralih ke Protokol AT Proto

Ringkasan

  • Bluesky mencatat penurunan jumlah pengguna aktif hingga 27,2 persen pada pertengahan 2026, memicu pergeseran fokus perusahaan dari aplikasi sosial menuju pengembangan protokol terdesentralisasi.

Jejaring sosial terdesentralisasi Bluesky kini menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan basis penggunanya. Data terbaru dari Similarweb menunjukkan penurunan signifikan pada jumlah pengguna aktif bulanan (MAU) global Bluesky yang menyentuh angka 10,4 juta pada Juni 2026, atau merosot 27,2 persen secara tahunan. Tren negatif ini juga terlihat pada pengguna aktif harian (DAU) yang kini berada di kisaran 3 juta, turun 25,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan ini menandai fase sulit bagi platform yang sempat meroket pasca-pemilu Amerika Serikat pada akhir 2024. Meskipun jumlah akun terdaftar terus bertambah, data menunjukkan bahwa minat untuk menggunakan aplikasi seluler Bluesky secara konsisten justru memudar. Sejak mencapai puncak popularitasnya pada kuartal keempat 2024 dengan rata-rata 22,1 juta pengguna aktif bulanan, aplikasi ini telah kehilangan lebih dari separuh basis penggunanya dalam kurun waktu kurang dari dua tahun.

Fenomena ini memberikan sinyal bahwa lonjakan pengguna yang didorong oleh ketidakpuasan terhadap X (sebelumnya Twitter) bersifat sementara. Banyak pengguna yang sempat bermigrasi kini tidak lagi menjadikan Bluesky sebagai platform utama mereka. Namun, di balik penurunan angka pengguna aplikasi, manajemen Bluesky di bawah kepemimpinan CEO Toni Schneider tampaknya memiliki agenda yang lebih luas.

Bluesky kini tidak lagi memposisikan dirinya sekadar sebagai kompetitor langsung media sosial milik Elon Musk. Strategi perusahaan mulai bergeser pada pengembangan AT Proto, sebuah protokol terdesentralisasi yang menjadi fondasi bagi ekosistem aplikasi dan komunitas daring yang lebih luas. Proyek-proyek seperti BlackSky dan Eurosky, serta aplikasi berbasis video seperti Skylight, membuktikan bahwa teknologi di balik Bluesky mulai diadopsi pihak lain secara mandiri.

Langkah diversifikasi produk juga terus dilakukan, termasuk peluncuran alat riset bertenaga kecerdasan buatan, Attie, serta pengembangan fitur privasi data. Fokus pada privasi ini diprediksi akan menarik segmen pengguna baru yang selama ini menghindari ruang publik media sosial tradisional dan lebih memilih ekosistem komunitas yang tertutup serta aman.

Di sisi lain, perbandingan data dengan platform lain memberikan gambaran menarik mengenai pergeseran perilaku pengguna. X sendiri mengalami penurunan jumlah pengguna aktif bulanan sekitar 3 persen secara tahunan pada Juni 2026. Sebaliknya, Threads milik Meta justru mencatatkan pertumbuhan pesat dengan kenaikan pengguna aktif harian mencapai 21,3 persen menjadi 147 juta pada Juli 2026.

Untuk pasar Indonesia, tren ini memberikan pelajaran penting mengenai loyalitas pengguna media sosial. Masyarakat Indonesia yang terbiasa dengan ekosistem aplikasi yang terintegrasi cenderung lebih cepat berpindah ke platform yang menawarkan kemudahan akses dan fitur yang familier. Meskipun konsep desentralisasi menarik secara filosofis, tantangan dalam menciptakan retensi pengguna tetap menjadi hambatan utama.

Bagi pengembang lokal di Indonesia, pergeseran strategi Bluesky menuju model berbasis protokol dapat menjadi inspirasi. Alih-alih membangun aplikasi dari nol yang memakan biaya besar, fokus pada infrastruktur atau protokol terbuka yang bisa dimanfaatkan oleh banyak pihak mungkin menjadi masa depan media sosial yang lebih sehat dan tahan sensor.

Meski angka keterlibatan (engagement) menurun, komunitas inti Bluesky yang tersisa menunjukkan loyalitas yang cukup tinggi. Rasio keterikatan antara pengguna harian dan bulanan berada di angka 29 persen, setara dengan performa Threads. Ini menunjukkan bahwa meskipun basis pengguna menyusut, kualitas interaksi di dalam ekosistem tersebut tetap terjaga.

Ke depannya, keberhasilan Bluesky tidak lagi diukur dari jumlah unduhan aplikasi di toko digital, melainkan dari seberapa luas protokol AT Proto diadopsi oleh pengembang aplikasi pihak ketiga. Jika model ini berhasil, Bluesky akan bertransformasi dari sekadar jejaring sosial menjadi tulang punggung internet masa depan yang lebih demokratis dan terdesentralisasi.

Strategi ini memang berisiko meninggalkan pengguna awam yang hanya mencari platform berbagi teks sederhana. Namun, dengan terus menambahkan fitur pendukung seperti privasi data yang lebih ketat, Bluesky berusaha membangun nilai unik yang sulit ditiru oleh raksasa teknologi seperti Meta atau X.

Sebagai penutup, perjalanan Bluesky membuktikan bahwa di industri teknologi, momentum awal bukanlah jaminan keberlangsungan. Inovasi mendasar pada level protokol, jika dieksekusi dengan tepat, seringkali memiliki dampak jangka panjang yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar memenangkan perang jumlah pengguna aktif di satu aplikasi saja.

Mengapa Ini Penting

Berita ini menjadi krusial bagi industri teknologi Indonesia karena menyoroti kegagalan model 'Twitter-killer' berbasis aplikasi tunggal dalam mempertahankan pengguna. Bagi developer lokal, pergeseran Bluesky ke arah protokol terbuka (AT Proto) menunjukkan bahwa masa depan media sosial mungkin tidak lagi bergantung pada satu aplikasi pusat, melainkan pada ekosistem protokol yang bisa saling terhubung. Implikasinya, strategi startup lokal harus mulai mempertimbangkan interoperabilitas daripada sekadar mengejar pertumbuhan pengguna yang bersifat instan.

Sumber Asli
TechCrunch
Tanggal
11 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit