Swift dan Stripe mengambil langkah besar pekan ini untuk menguasai infrastruktur pembayaran digital masa depan. Swift memperluas jaringan penyelesaian berbasis blockchain ke lebih dari 40 lembaga keuangan, sementara Stripe mengajukan penawaran tak diminta senilai 53 miliar dolar AS untuk mengakuisisi PayPal.
Pergerakan kedua raksasa itu menunjukkan pergeseran strategi di industri pembayaran global. Persaingan tidak lagi sebatas membuktikan bahwa teknologi blockchain dapat berfungsi, melainkan memperebutkan distribusi, dompet pengguna, dan lapisan penyelesaian transaksi. Pengumuman Swift pada Selasa disusul langsung oleh manuver Stripe, yang ingin menyatukan jaringan merchant dengan salah satu dompet konsumen terbesar di dunia.
Swift selama ini menjadi tulang punggung pesan keuangan lintas batas dengan menghubungkan lebih dari 11.500 institusi dan memroses triliunan dolar setiap tahun. Ekspansi jaringan berbasis blockchain mereka menyusul uji coba bersama 17 bank global. Langkah ini mempertegas niat institusi mapan untuk membangun rel pembayaran tokenisasi sendiri而非 menyerahkannya kepada pelaku kripto murni.
Stripe menawarkan 53 miliar dolar AS kepada PayPal, angka yang menurut Reuters dianggap terlalu rendah oleh dewan direksi PayPal dan masih menghadapi tantangan regulasi serta pendanaan. Jika terwujud, akuisisi itu akan menggabungkan pemroses pembayaran untuk jutaan bisnis dengan 439 juta akun aktif PayPal yang mencatat volume transaksi 1,79 triliun dolar pada 2025. Kombinasi tersebut berpotensi mengurangi ketergantungan pada perantara seperti Visa dan Mastercard.
Ilies Larbi, pendiri dan CEO Ouinex, menyebut situasi ini sebagai perlombaan mengendalikan generasi berikutnya dari infrastruktur pembayaran global. Menurutnya, nilai sesungguhnya bukan sekadar transfer dana, melainkan penguasaan dompet, penerimaan merchant, ekonomi cadangan, dan penyelesaian lintas batas. Pandangan serupa disampaikan Pankaj Bengani dari Meld, yang menilai stablecoin sudah bertransisi dari eksperimen menjadi infrastruktur pembayaran inti.
Bagi Indonesia, tren ini relevan karena perbankan dan fintech lokal mulai menjajaki settlement berbasis ledger terdistribusi. Bank Indonesia melalui proyek Garuda menguji wholesale CBDC, sementara penyelenggara dompet elektronik seperti OVO, DANA, dan GoPay berpotensi menghadapi tekanan jika rel global beralih ke stablecoin terintergrasi. Pengguna domestik mungkin kelak melakukan pembayaran lintas batas dengan biaya lebih murah, namun otonomi sistem pembayaran nasional bisa terancam bila rel dikuasai aktor asing.
Jason Li dari Solayer dan MPCVault menekankan bahwa nilai 53 miliar dolar Stripe justru ada pada basis konsumen PayPal, bukan teknologi stablecoin. Menggaet 400 juta orang agar benar-benar memakai stablecoin adalah biaya terbesar. Stripe sudah memiliki penerbit, rantai, dan sisi merchant; yang dibelinya adalah dompet konsumen. PayPal sendiri mengoperasikan stablecoin USD berbasis Paxos yang menjadi jembatan antara keuangan tradisional dan aset digital.
Rob Hadick dari Dragonfly menilai akuisisi itu masuk akal secara finansial karena Stripe dan PayPal memroses volume serupa, tetapi Stripe hanya mengantongi seperlima pendapatan bersih PayPal. Penggabungan membantu Stripe menghubungkan bisnis pemrosesan merchant yang berisiko komoditas dengan ratusan juta akun PayPal. Kendati demikian, Hadick memperingatkan integrasi merger sebesar itu sangat sulit dilakukan.
Eric Queathem dari Velocity menambahkan bahwa akuisisi tersebut membuka jalan Stripe melampaui pembayaran merchant menuju ekosistem konsumen terbesar. Siapa pun yang menguasai sisi konsumen infrastruktur berbasis blockchain akan menentukan arah adopsi massa. Steven Rossi dari Worksport melihat tujuan utamanya adalah kontrol siklus transaksi: dari cara konsumen bayar hingga rel penyelesaian di latar belakang.
Citi dalam catatan risetnya menyimpulkan persaingan stablecoin kini menjadi permainan penetapan bawaan. Skala akan menguntungkan stablecoin yang menjadi default di merchant, dompet, atau transaksi otomatis terbesar, bukan yang memiliki teknologi terbaik. Benjamin Sarquis Peillard dari Cap memprediksi lebih banyak fintech akan menerbitkan stablecoin sendiri dan memindahkan backend ke blockchain demi efisiensi biaya.
Ke depan, persaingan akan semakin mengitikberatkan pada distribusi dan kemitraan ekosistem rather than inovasi protokol. Lembaga seperti Swift mewakili incumbent yang beradaptasi, sedangkan Stripe-PayPal merepresentasikan konsolidasi fintech demi skala. Di Indonesia, pengawas perlu mempersiapkan regulasi agar pelaku lokal tidak sekadar menjadi pengguna rel asing, tetapi memiliki posisi tawar dalam infrastruktur pembayaran digital kawasan.
Tren penerbitan stablecoin korporat juga berpeluang masuk ke Asia Tenggara. Jika raksasa ritel atau super-app regional mencontoh langkah tersebut, peta pembayaran lintas batas akan berubah cepat. Yang pasti, kendali atas dompet dan rel penyelesaian kini menjadi aset strategis setara dengan jaringan kabel fiber atau satelit komunikasi di era sebelumnya.