Phong Le, petinggi yang memimpin Strategy setelah perusahaan berganti nama dari MicroStrategy, mengungkapkan batas toleransi ambang krisis bagi konglomerasi bitcoin publik terbesar di dunia. Dalam tayangan Bloomberg TV pada Selasa (14/7), ia menegaskan manajemen tidak akan terprovokasi melakukan likuidasi atau penjualan panik kecuali harga BTC menyentuh rentang 8.000 hingga 10.000 dolar AS. Pernyataan itu disampaikan di tengah fluktuasi pasar kripto yang masih bertengger di kisaran 64.500 dolar per koin.
Le menjelaskan bahwa pada level penurunan tersebut, barulah pihaknya perlu mengevaluasi risiko utang yang disandang. "Hingga titik itu tercapai, kami merasa sangat aman terhadap neraca keuangan," ujarnya. Artinya, potensi terkoreksinya bitcoin hingga 85 persen dari nilai sekarang baru akan mengguncang struktur modal perusahaan.
Strategy dikenal sebagai pemegang bitcoin publik dengan kepemilikan terbesar secara global. Mereka sejak era Michael Saylor rutin meminjam dana dan menerbitkan surat berharga untuk menumpuk aset digital tersebut. Transformasi dari perusahaan perangkat lunak analitik menjadi kendaraan investasi BTC menjadikan kinerja saham MSTR sangat berkorelasi dengan harga kripto.
Salah satu instrumen yang mereka rancang adalah saham preferen bernama STRC. Produk ini menawarkan imbal hasil dividen tahunan 13 persen dengan tujuan menyediakan arus kas guna membiayai pembelian bitcoin tambahan. STRC dirancang mempertahankan nilai pari 100 dolar, namun gagal menahannya sejak April dan sempat terpuruk di bawah 75 dolar pada akhir Juni.
Tekanan terhadap STRC membatasi fleksibilitas Strategy untuk menerbitkan saham baru dan mengonversinya menjadi likuiditas guna membeli BTC. Le menyoroti bahwa membangun cadangan dolar AS menjadi tuas penting untuk memulihkan harga STRC ke sekitar 90 dolar saat ini. Penguatan cadangan tunai dianggap krusial menyusul pelajaran berharga beberapa bulan terakhir.
Bagi pembaca di Indonesia, sikap tenang eksekutif AS ini kontras dengan volatilitas yang kerap memicu kecemasan investor ritel lokal. Meski perdagangan aset kripto legal di bawah pengawasan Bappebti, masyarakat Indonesia mayoritas berposisi sebagai spekulan eceran yang mudah terpengaruh sentimen harian. Ketahanan perusahaan berbasis utang seperti Strategy sulit ditiru karena ekosistem pendanaan kripto institusional di Tanah Air masih terbatas.
Dampaknya meluas ke persepsi pasar global. Ketika entitas sebesar Strategy mengklaim aman di level BTC 8.000 dolar, hal itu dapat menahan kepanikan institusional lainnya. Namun bagi pengguna Indonesia, hal ini mengingatkan pentingnya memahami profil risiko pribadi. Jangan mencampuradukkan strategi korporasi dengan kapasitas dompet individu yang tak memiliki akses kepada surat utang kompleks.
Perbandingan dengan situasi domestik menunjukkan bahwa bursa kripto lokal seperti Indodax atau Tokocrypto lebih berfungsi sebagai sarana pertukaran, bukan penerbit instrumen derivatif terstruktur. Regulator juga melarang penyediaan produk leverage berlebihan bagi ritel. Ini membuat investor Indonesia terlindungi dari skenario kebangkrutan terkait utang, namun juga tak bisa menikmati agresivitas return ala MSTR.
"Yang kami butuhkan adalah membangun struktur modal yang mampu bertahan di pasar bearish sekaligus memetik keuntungan saat siklus bullish," kata Le menyinggung filosofi perusahaan. Ia menambahkan bahwa akses likuid ke mata uang dolar AS sangat vital selama beberapa bulan belakangan, sehingga pihaknya akan terus menambah cadangan tersebut.
Terkait valuasi, Le mengemukakan bahwa selama harga saham MSTR di atas nilai aset bersih bitcoin yang dimiliki, berarti pemegang saham mengapresiasi kinerja perusahaan melebihi sekadar harga BTC. Metrik mNAV sempat jatuh di bawah 1 pada akhir Juni, namun kini merangkak ke 1,02. Artinya, premi tipis mulai muncul kembali meski MSTR masih terkoreksi 36 persen year-to-date dan 78 persen dari puncak 12 bulan lalu.
Ke depan, Strategy diproyeksikan akan terus menimbun dolar tunai sebagai bantalan. Langkah itu sekaligus menyiapkan mereka jika STRC kembali tertekan. Penurunan bitcoin ke level 8.000-10.000 dolar memang masih tampak jauh, tetapi sejarah kripto mencatat koreksi ekstrem pernah terjadi dalam satu siklus.
Tren adoptasi institusional global diprediksi berlanjut meski dengan kehati-hatian baru. Di Indonesia, pengamat memperkirakan minat terhadap bitcoin sebagai lindung nilai akan tumbuh seiring inflasi, namun tanpa eksposur produk sintetis. Masyarakat perlu belajar dari kisah Strategy: ambisi besar menuntut pondasi permodalan yang tak mudah goyah.