Sony resmi menghadirkan kembali salah satu headphone peredam bising paling ikonik dalam sejarah mereka, WH-1000XM4, melalui varian terbaru yang diberi nama WH-1000XM4C. Langkah ini mengejutkan banyak pihak karena perusahaan asal Jepang tersebut sebenarnya sudah melangkah jauh dengan merilis seri XM5 dan XM6. Kehadiran kembali model ini membawa desain lipat yang sempat dirindukan oleh para penggemar berat seri 1000X.
Secara visual, WH-1000XM4C hampir identik dengan pendahulunya yang dirilis pada tahun 2020. Sony tetap mempertahankan mekanisme engsel yang memungkinkan headphone ini dilipat menjadi lebih ringkas, sebuah fitur yang sempat dihilangkan pada seri XM5 dan baru kembali secara terbatas pada seri XM6. Kini, konsumen mendapatkan opsi warna baru, yakni lavender, sebagai penyegaran estetika di samping desain klasiknya.
Di balik kemiripan fisiknya, Sony melakukan beberapa penyesuaian teknis agar produk ini tetap relevan di pasar saat ini. Headphone ini kini mendukung Bluetooth 6 untuk konektivitas yang lebih stabil dan efisien. Selain itu, Sony memperbarui profil suara serta menyematkan 10-band EQ pada aplikasi pendamping, sebuah peningkatan signifikan dibandingkan batasan 5-band EQ pada model orisinal. Terdapat pula preset khusus gaming untuk memanjakan pengguna yang memanfaatkan headphone ini untuk sesi bermain gim.
Namun, ada catatan menarik terkait efisiensi daya. Meski membawa teknologi baru, Sony mengklaim daya tahan baterai XM4C sedikit lebih rendah, yakni mencapai 27 jam dengan fitur ANC aktif, dibandingkan 30 jam pada model sebelumnya. Kendati demikian, angka ini masih sangat memadai untuk penggunaan harian maupun perjalanan jarak jauh yang menuntut isolasi suara dari kebisingan lingkungan sekitar.
Keputusan Sony untuk membawa kembali teknologi lama, seperti penggunaan chip pemrosesan QN1 dan konfigurasi empat mikrofon, tentu memicu tanda tanya. Di saat kompetitor dan model terbaru Sony sendiri telah beralih ke chip yang lebih canggih dengan jumlah mikrofon yang jauh lebih banyak, XM4C terasa seperti sebuah eksperimen nostalgia yang dibungkus ulang. Apakah pasar masih membutuhkan teknologi enam tahun lalu di era modern ini?
Bagi konsumen di Indonesia, kembalinya seri legendaris ini bisa menjadi angin segar bagi mereka yang mencari perangkat audio premium dengan harga lebih terjangkau. Harga ritel yang dipatok sebesar 300 dolar AS (sekitar Rp4,7 juta) tentu menempatkan produk ini di segmen menengah-atas yang sangat kompetitif. Di tanah air, seri WH-1000XM selalu menjadi tolok ukur bagi para audiophile dan pekerja profesional yang mengandalkan fitur peredam bising di kantor terbuka atau transportasi publik.
Kehadiran XM4C juga bisa dilihat sebagai strategi Sony untuk mengamankan ceruk pasar yang lebih menyukai desain lipat ringkas dibandingkan model baru yang lebih kaku. Dengan maraknya tren produk audio yang kembali ke desain retro atau klasik, langkah ini mungkin bukan hanya soal nostalgia, melainkan respons terhadap permintaan pasar yang belum terpuaskan oleh perubahan desain pada seri XM5.
Selain meluncurkan XM4C, Sony secara bersamaan memperbarui lini produk entry-level dan midrange mereka, yakni WH-CH730N dan WH-CH530. Kedua model ini kini mendapatkan fitur 10-band EQ dan mode gaming yang sama. Bahkan, seri CH730N kini mengadopsi kemampuan lipat yang lebih ringkas, menjadikannya opsi menarik bagi pengguna yang memiliki anggaran lebih terbatas namun menginginkan kualitas audio khas Sony.
Fitur menarik lainnya yang disematkan pada seri CH adalah mode aman (safe mode) yang mampu membatasi volume maksimal. Fitur ini menjadi nilai tambah bagi orang tua yang ingin menjaga kesehatan pendengaran anak-anak mereka. Meski belum ada mekanisme penguncian untuk batasan tersebut, penambahan fitur ini menunjukkan komitmen Sony dalam memberikan nilai lebih pada produk kelas menengahnya.
Sony juga mencoba merangkul segmen pasar yang lebih luas melalui kolaborasi eksklusif dengan Hello Kitty. Paket bundel terbatas ini mencakup headphone seri XM6, CH730N, atau CH530 yang disertai dengan tas penyimpanan khusus dan aksesori bermerek Hello Kitty. Strategi pemasaran ini kerap terbukti efektif di pasar Asia, termasuk Indonesia, di mana produk edisi terbatas dengan sentuhan pop-culture memiliki basis penggemar yang cukup fanatik.
Ke depan, industri headphone tampaknya akan terus menyeimbangkan antara inovasi teknologi mutakhir dan kebutuhan akan kenyamanan desain yang sudah teruji. Sony telah menunjukkan bahwa mereka tidak ragu untuk menengok ke belakang jika itu berarti memberikan kepuasan kepada pengguna. Bagi para penggemar, pilihan untuk mendapatkan kembali desain klasik dengan sedikit peningkatan performa adalah kombinasi yang sulit untuk ditolak.
Pada akhirnya, kesuksesan XM4C akan sangat bergantung pada bagaimana pasar merespons harga yang ditawarkan dibandingkan dengan opsi headphone yang lebih baru. Selama keunggulan kenyamanan desain lipat masih menjadi prioritas utama bagi konsumen, Sony dipastikan telah mengambil langkah strategis yang tepat untuk memperpanjang usia pakai dari mahakarya audio mereka.