Para kolektor film fisik dan penggemar animasi kini memiliki alasan kuat untuk beralih dari layanan streaming. Film animasi populer KPop Demon Hunters kini tersedia dalam format fisik 4K Blu-ray dengan harga promosi yang sangat kompetitif, yakni hanya 24,99 dolar AS atau sekitar Rp390 ribu di Barnes and Noble. Harga ini bahkan lebih rendah dibandingkan biaya langganan bulanan Netflix Premium yang mencapai 26,99 dolar AS di Amerika Serikat.
Potongan harga yang signifikan dari harga asli 49,95 dolar AS ini menjadi penawaran menarik bagi mereka yang selama ini bertahan berlangganan platform streaming hanya untuk mengakses satu atau dua judul film favorit dalam kualitas 4K. Dengan memiliki salinan fisik, konsumen tidak lagi terikat pada biaya bulanan yang terus merangkak naik dan memiliki kendali penuh atas koleksi mereka tanpa khawatir akan penghapusan konten oleh penyedia layanan.
Edisi Criterion Collection ini bukan sekadar cakram film biasa. Paket tersebut menawarkan kualitas teknis premium yang mencakup master digital 4K, dukungan Dolby Vision HDR, serta tata suara Dolby Atmos yang imersif. Selain itu, pembeli akan mendapatkan dua cakram Blu-ray tambahan beresolusi 1080p, satu di antaranya berisi fitur eksklusif seperti dokumenter proses pembuatan film, animatik durasi penuh, hingga video lirik.
Kehadiran fisik dalam paket ini juga menjadi daya tarik tersendiri. Criterion menyertakan kartu pos koleksi dan esai mendalam yang ditulis oleh kritikus film ternama, Karen Han. Kombinasi antara kualitas teknis papan atas dan nilai tambah dari konten bonus membuat paket ini menjadi barang wajib bagi para kolektor di tengah musim liburan akhir tahun.
Di pasar Indonesia, fenomena ini mencerminkan pergeseran perilaku konsumsi media. Meskipun layanan streaming seperti Netflix, Disney+ Hotstar, dan Vidio mendominasi pasar, ada ceruk pasar kolektor yang mulai kembali melirik format fisik. Kualitas streaming sering kali terganggu oleh stabilitas koneksi internet, sementara format 4K Blu-ray menawarkan bitrate yang jauh lebih tinggi dan stabil tanpa kompresi yang merusak detail visual.
Namun, tantangan utama bagi penggemar di Indonesia adalah ketersediaan barang fisik berformat 4K Blu-ray yang cukup langka. Selain harga impor yang tinggi akibat pajak dan biaya pengiriman, dukungan perangkat pemutar 4K Blu-ray di Indonesia juga tidak sepopuler konsol game atau smart TV. Hal ini membuat kepemilikan koleksi fisik menjadi hobi yang cukup eksklusif.
Bagi audiens lokal, strategi harga yang diterapkan Barnes and Noble ini sebenarnya bisa menjadi tolok ukur efisiensi biaya hiburan. Jika seseorang hanya berlangganan layanan streaming untuk satu judul film, menghitung ulang biaya kepemilikan fisik jangka panjang justru bisa lebih menguntungkan secara finansial. Ini adalah bentuk investasi aset digital dan fisik yang tidak akan hilang meski langganan bulanan dihentikan.
Cameron Faulkner, editor di The Verge, menyoroti bahwa kemudahan untuk memesan secara daring dan mengambil di toko fisik menjadi strategi ritel yang efektif untuk menggerakkan stok. Meskipun Amazon sempat menyesuaikan harga, penawaran dari toko fisik tetap memberikan nilai lebih bagi mereka yang menginginkan produk segera tanpa menunggu proses pengiriman.
Tren ini diprediksi akan terus berlanjut di mana perusahaan media mulai menyadari bahwa penonton menginginkan kepemilikan permanen atas karya yang mereka cintai. Di tengah ketidakpastian lisensi film di platform streaming yang sering berpindah-pindah, memiliki salinan fisik adalah jaminan bahwa akses terhadap film tersebut tidak akan pernah dicabut.
Ke depan, kita mungkin akan melihat lebih banyak studio film yang merilis edisi kolektor terbatas untuk menyaingi dominasi platform digital. Bagi industri hiburan, ini adalah cara untuk memonetisasi kembali konten lama dengan memberikan nilai tambah yang tidak bisa diberikan oleh algoritma streaming. Bagi konsumen, ini adalah kemenangan kecil dalam menghemat pengeluaran hiburan bulanan sekaligus membangun perpustakaan film pribadi yang berkualitas tinggi.