Analisis terbaru dari Morgan Stanley Wealth Management menyimpulkan bahwa Solana (SOL) secara historis memberikan manfaat diversifikasi yang lebih baik ketimbang Ether (ETH) bagi portofolio investor institusi. Temuan tersebut dirilis dalam newsletter Crypto Long & Short edisi 15 Juli 2026 yang ditulis oleh Denny Galindo, Direktur Eksekutif Global Investment Office Morgan Stanley.
Galindo menyoroti perubahan lanskap investasi aset digital seiring masuknya produk exchange-traded products (ETP) berbasis Bitcoin, Ether, dan SOL ke pasar Amerika Serikat. Sejak peluncuran ETP spot Bitcoin pada Januari 2024, arus masuk ke instrumen tersebut telah melampaui 55 miliar dolar AS. Kehadiran opsi investasi baru memicu pertanyaan bagi investor: perlukah eksposur aset kripto, dan jika ya, apakah ETH atau SOL layak dipilih di samping Bitcoin.
Bitcoin memang dikenal memiliki korelasi rendah terhadap aset tradisional dalam siklus empat tahunan pasar kripto. Namun, integrasi kripto ke dalam sistem keuangan melalui futures, ETF, dan ETP membuat hubungan tersebut terus berevolusi. Bitcoin tetap mempertahankan karakteristik diversifikasi yang berbeda dari banyak aset konvensional.
Persoalan menjadi lebih rumit ketika investor melirik ETH dan SOL. Kedua aset itu umumnya kurang likuid dan lebih volatil dibanding Bitcoin. Sejak awal 2026, volatilitas ETH tercatat sekitar 35 persen lebih tinggi dari Bitcoin, sedangkan SOL menyentuh 44 persen di atasnya. Diversifikasi di dalam kelas aset kripto justru kerap menambah gejolak portofolio.
Manfaat diversifikasi bergantung pada arah korelasi. Aset bergejolak yang bergerak searah dengan sisa portofolio dapat mereduksi manfaat diversifikasi. Sebaliknya, aset yang bergerak berlawanan arah akan memperkuatnya. Dalam kurun empat tahun hingga April 2026, korelasi Bitcoin dengan ETH berada di angka 0,78. SOL mencatat korelasi 0,72 terhadap Bitcoin, sehingga peluang bergerak berbeda arah lebih terbuka.
Hal krusial terletak pada hubungan SOL dengan instrumen ekuitas. Saat SOL tidak sejalan dengan Bitcoin, ia secara historis lebih kecil kemungkinannya bergerak seirama dengan komponen portofolio tradisional seperti saham. Korelasi SOL terhadap indeks S&P 500 sedikit di bawah korelasi Bitcoin maupun ETH. Jika pola masa lalu berlaku, SOL berpotensi menjadi diversifier lebih efektif ketimbang ETH.
Bagi pembaca di Indonesia, analisis ini relevan seiring meningkatnya minat investor lokal pada aset digital melalui platform perdagangan kripto domestik seperti Tokocrypto, Pintu, dan Indodax. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bappebti telah menyusun rambu regulasi, namun produk ETP kripto belum tersedia di pasar modal Indonesia. Investor ritel tetap bisa menimbang proposisi diversifikasi SOL secara langsung melalui bursa spot.
Dampaknya meluas ke strategi alokasi institusi global yang kerap menjadi rujukan manajer investasi Indonesia. Jika SOL dinilai lebih efisien sebagai pelengkap Bitcoin, dana global berbasis indeks dapat mengubah bobot alokasi, yang pada gilirannya memengaruhi likuiditas dan harga di pasar emerging termasuk Indonesia. Volatilitas tinggi SOL tetap menjadi risiko utama yang tidak terhapus oleh diversifikasi.
Galindo menegaskan bahwa tidak semua investor mengejar manfaat diversifikasi. Ada tiga motif utama: pandangan kripto sebagai emas digital yang menguntungkan Bitcoin, keyakinan pada adopsi blockchain yang mendukung eksposur Bitcoin, ETH, dan SOL, serta tujuan diversifikasi murni yang bisa dipenuhi lewat portofolio Bitcoin saja atau kombinasi Bitcoin-SOL. “SOL might act as a better diversifier than ether,” tulis Galindo merujuk pada korelasi historis.
Ia menambahkan bahwa tulisan tersebut tidak merekomendasikan beli, jual, atau tahan aset tertentu. Hubungan historis tidak menjamin berlanjut ke masa depan. Diversifikasi pun tidak menghilangkan risiko kerugian. Pernyataan itu penting agar pembaca tidak salah tafsir terhadap temuan statistik.
Ke depan, ekosistem aset digital diproyeksikan terus meluas melampaui Bitcoin. Berita mingguan lain dalam newsletter yang sama mencatat persetujuan akhir OCC bagi trust bank Circle, eksperimen ledger blockchain Swift dengan 17 bank global, dan rencana aturan SEC AS untuk kemudahan fundraising token. Sberbank Rusia juga akan meluncurkan dompet kripto akhir tahun ini.
Perkembangan infrastruktur terregulasi itu akan mengubah cara institusi memandang korelasi antaraset. Investor Indonesia perlu memantau arahan Bappebti jika produk turunan kripto suatu hari dibolehkan, sebab preferensi diversifikasi SOL dapat memengaruhi struktur produk lokal di masa depan.