Perseteruan terbuka antara CEO Saber Interactive, Matthew Karch, dengan mantan karyawannya terkait penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam pengembangan video game memanas. Karch membantah tudingan bahwa perusahaan mengganti penulis naskah permainan "Rideshare Stimulator" dengan ChatGPT, klaim yang langsung disangkal oleh penulis utama yang bersangkutan, Stella Sacco.
Sacco, yang mengaku sebagai mantan lead writer untuk proyek tersebut, menulis di Bluesky bahwa dirinya digantikan oleh ChatGPT di tengah pengembangan. Ia juga menegaskan bahwa seluruh suara penumpang dalam permainan itu dihasilkan oleh AI. "Entah mereka mengubah arah di suatu titik atau mereka tidak mengungkapkannya di Steam," tulis Sacco, merujuk pada kenyataan bahwa daftar penjualan game di platform Steam tidak mencantumkan penggunaan AI generatif.
Permainan "Rideshare Stimulator" sendiri dideskripsikan sebagai simulasi mengemudi yang mendalam, di mana pemain berperan sebagai pemilik bisnis rideshare. cuplikan gameplay yang beredar memang menunjukkan adanya dialog dan audio penumpang yang kualitasnya menunjukkan kemungkinan kuat dihasilkan oleh AI.
Melalui pernyataan resmi kepada The Verge, Karch menegaskan, "Baik Saber maupun Unigine [studio pengembang] tidak mengganti penulis mana pun dengan AI." Ia menambahkan bahwa game tersebut memiliki mode "free-ride" eksperimental yang membutuhkan AI karena jumlah penumpang yang tak terbatas. Karch juga mempertahankan posisi perusahaan dengan menyatakan keyakinan pada penggunaan alat AI untuk meningkatkan pengalaman bermain dan perilaku NPC, sebuah praktik yang menurutnya sudah dilakukan Saber sejak didirikan pada 2001.
Namun, pernyataan Karch justru memancing respons tajam dari Sacco. "Kemarahan saya karena dibilang pembohong oleh pernyataan itu aside, Anda tidak bisa bermakna mengatakan kedua-duanya 'penulis menulis cerita' dan 'komputer menulis teks'," ungkap Sacco. Ia menilai pernyataan Saber berusaha memiliki dua kaki sekaligus. "Jika perjalanan yang saya tulis ada di sana, dan juga perjalanan yang ditulis AI ada di sana, maka AI tetap digunakan, dan saya tetap diganti, sebagaimana Saber beritahu saya yang akan mereka lakukan pada Desember 2023," tegasnya.
Penggunaan AI generatif dalam industri kreatif, termasuk game, memang menjadi isu yang sangat sensitif. Di satu sisi, teknologi ini menjanjikan efisiensi dan kemampuan untuk menciptakan konten dinamis dalam skala besar. Namun, di sisi lain, hal ini memunculkan kekhawatiran serius mengenai etika, hak cipta, dan nasib tenaga kerja manusia.
Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana kebijakan perusahaan mengenai AI dapat berbenturan dengan pengalaman langsung karyawan. Pernyataan CEO yang menyangkal adanya penggantian penulis, sambil di saat bersamaan mengakui penggunaan AI untuk konten naratif, menciptakan area abu-abu yang membingungkan dan memicu perdebatan.
Bagi industri game, baik global maupun Indonesia, kasus ini adalah studi kasus penting. Di Indonesia, di mana komunitas pengembang game lokal terus bertumbuh, diskusi tentang batas-batas etis penggunaan AI dalam produksi kreatif menjadi semakin mendesak. Apakah AI akan menjadi alat bantu atau pengganti total? Siapa yang berhak atas karya yang dihasilkan dengan bantuan AI?
Situasi ini juga menggarisbawahi pentingnya transparansi. Ketiadaan pengungkapan penggunaan AI generatif di halaman Steam untuk "Rideshare Stimulator" memperkuat kekhawatiran konsumen dan kritikus tentang bagaimana potensi teknologi ini disembunyikan. Bagi pemain, mengetahui bahwa dialog yang mereka dengar mungkin dihasilkan mesin dapat mengubah persepsi terhadap orisinalitas dan kedalaman narasi permainan.
Ke depannya, kemungkinan akan semakin banyak kasus serupa yang muncul. Tekanan untuk mengurangi biaya dan mempercepat siklus pengembangan akan mendorong lebih banyak studio beralih ke AI. Namun, tuntutan akan akuntabilitas dan pengakuan atas kontribusi manusia juga akan semakin keras dari pihak pekerja maupun konsumen yang peduli.
Kasus Saber Interactive ini pada akhirnya bukan hanya tentang satu game atau satu perusahaan. Ia merupakan cerminan dari pergulatan besar industri kreatif dengan revolusi AI: bagaimana menyeimbangkan inovasi teknologi dengan perlindungan terhadap hak dan profesi manusia.