Meta resmi meluncurkan fitur baru yang memberikan kendali lebih besar kepada pengguna kacamata pintar mereka. Kini, pemilik perangkat tersebut dapat memilih untuk tidak mengikutsertakan data visual yang dikumpulkan oleh kacamata dalam proses pelatihan model kecerdasan buatan (AI) perusahaan. Langkah ini merespons kekhawatiran privasi yang semakin meningkat terkait pengumpulan data visual di ruang publik.
Kebijakan ini diimplementasikan langsung melalui aplikasi Meta AI. Pengguna akan menerima notifikasi pop-up yang menjelaskan bahwa data visual—seperti hasil terjemahan menu atau identifikasi tanaman—selama ini digunakan untuk pengembangan produk. Jika pengguna memutuskan untuk tidak berpartisipasi, Meta tidak akan menyimpan data tersebut setelah proses pemrosesan selesai.
Untuk mengaktifkan fitur ini, pengguna perlu memastikan kacamata dalam kondisi terhubung dengan ponsel dan tidak berada di dalam wadah pengisi daya. Pengaturan tersebut dapat ditemukan pada menu Meta AI di dalam aplikasi pendamping, dengan opsi khusus bertajuk "store visual data from AI experiences". Bagi pengguna yang memiliki lebih dari satu perangkat, pengaturan ini harus dilakukan secara manual pada setiap unit kacamata.
Meta menegaskan bahwa ada konsekuensi bagi pengguna yang memilih untuk tidak membagikan data mereka. Fitur-fitur tertentu, seperti pengingat visual (visual reminders), kemungkinan besar tidak akan berfungsi optimal. Sebagai contoh, kemampuan kacamata untuk mengenali objek dan memberikan pengingat untuk membeli barang di kemudian hari akan terhambat karena sistem tidak lagi menyimpan data visual yang diperlukan untuk memproses permintaan tersebut.
Di balik kemudahan ini, Meta juga memperbarui pusat bantuan mereka dengan penjelasan lebih transparan mengenai penggunaan data visual. Perusahaan mengakui bahwa data yang dihasilkan saat pengguna berinteraksi dengan fitur AI, termasuk Live AI, dapat ditinjau secara manual oleh manusia. Proses tinjauan manusia ini menjadi bagian krusial dalam melatih model AI agar lebih akurat dan relevan bagi pengguna.
Penting untuk dicatat bahwa kebijakan ini tidak berlaku untuk semua rekaman. Data visual yang dimaksud hanyalah data yang dikumpulkan saat fitur AI aktif. Meta menegaskan bahwa foto dan video yang diambil oleh pengguna secara konvensional, yang ditandai dengan lampu LED rekaman menyala, tidak termasuk dalam kategori data yang digunakan untuk pelatihan model AI.
Bagi industri teknologi, langkah ini merupakan upaya Meta untuk menyeimbangkan inovasi produk dengan regulasi privasi yang semakin ketat di berbagai negara, terutama Uni Eropa dan Amerika Serikat. Transparansi mengenai keterlibatan manusia dalam peninjauan data menjadi poin penting yang sering disoroti oleh para pengawas privasi global.
Di Indonesia, adopsi kacamata pintar berbasis AI memang belum semasif pasar Amerika Serikat. Namun, dengan semakin banyaknya perangkat wearable yang masuk ke pasar domestik, isu privasi data visual menjadi sangat relevan. Pengguna di Indonesia perlu lebih sadar bahwa setiap interaksi dengan asisten berbasis AI pada perangkat pintar sering kali melibatkan pengiriman data ke server perusahaan pengembang.
Regulasi privasi data di Indonesia, melalui Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP), mewajibkan perusahaan untuk memberikan transparansi penuh atas penggunaan data pengguna. Kebijakan Meta ini sebenarnya sejalan dengan semangat UU PDP, di mana hak subjek data untuk menarik kembali persetujuan atau menolak pemrosesan data harus difasilitasi oleh pengelola data.
Sebagai perbandingan, banyak pengembang teknologi lokal atau regional masih berfokus pada fungsionalitas produk daripada detail privasi yang mendalam. Langkah Meta ini bisa menjadi standar industri (benchmark) bagi perusahaan teknologi lainnya yang beroperasi di Indonesia untuk lebih terbuka mengenai bagaimana data visual diproses dan dilatih demi keamanan pengguna.
Ke depannya, integrasi AI ke dalam perangkat keras (hardware) akan menjadi tren yang tak terelakkan. Tantangan utama bagi perusahaan seperti Meta adalah mempertahankan kepercayaan pengguna tanpa harus mengorbankan kualitas kecerdasan perangkat. Jika perusahaan gagal memberikan kontrol privasi yang memadai, penolakan dari sisi pengguna bisa menghambat adopsi teknologi kacamata pintar di masa depan.
Pada akhirnya, pengguna memiliki peran aktif dalam menjaga privasi mereka sendiri. Dengan adanya opsi opt-out ini, Meta memberikan tanggung jawab kepada pengguna untuk menentukan sejauh mana privasi visual mereka ingin dikorbankan demi kenyamanan asisten berbasis AI. Ini adalah langkah maju, namun edukasi berkelanjutan bagi pengguna tetap menjadi kunci utama.