Ethereum Foundation menutup paruh pertama 2026 dengan perombakan organisasi terbesar dalam 12 tahun eksistensinya. Tekanan dari pengembang, investor, dan anggota komunitas atas lambatnya eksekusi serta terlalu fokus pada skalabilitas layer-2 memicu rentetan perubahan sejak Januari.
Februari lalu, salah satu direktur eksekutif co-founder, Tomasz Stańczak, menyatakan mundur setelah memimpin restrukturisasi awal. Beberapa pekan berselang, yayasan tersebut merilis mandat baru berbasis kerangka CROPS yang menekankan resistensi sensor, ketahanan, keterbukaan, privasi, dan keamanan. Dokumen itu mengubah wajah fondasi dari pembangun utama ekosistem menjadi penjaga jangka panjang.
Kritik yang mengemuka sejak akhir 2025 memang tidak menyenangkan. Banyak pihak menilai peta jalan Ethereum mengabaikan pengembangan lapisan dasar (base layer) demi mendukung solusi layer-2. Ketimpangan prioritas teknis ini memperbesar keraguan terhadap tata kelola organisasi yang berusia lebih dari satu dekade.
Setelah pengunduran diri Stańczak, gelombang kepergian para petinggi tidak terbendung. Sembilan pemimpin senior, peneliti, dan eksekutif meninggalkan yayasan dalam beberapa bulan berikutnya. Angka tersebut mencatatkan periode pergantian staf paling masif sejak organisasi berdiri.
Juni menjadi titik balik drastis. Hsiao-Wei Wang, direktur eksekutif co-founder lainnya, mengajukan pengunduran diri. Hanya beberapa hari kemudian, Ethereum Foundation mengumumkan pemotongan sekitar seperlima tenaga kerja, yakni 54 posisi, sekaligus menurunkan anggaran operasional tahunan hampir 40%. Sisa staf ditata ulang ke dalam lima kelompok operasi inti.
Di Indonesia, ekosistem blockchain mengandalkan grant dan riset dari yayasan tersebut untuk mengembangkan aplikasi terdesentralisasi. Ribuan pengembang lokal di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta membangun proyek di atas Ethereum, mulai dari keuangan terbuka hingga identitas digital. Penyusutan organisasi ini berpotensi mengurangi aliran pendanaan langsung, namun membuka peluang kolaborasi dengan entitas baru yang lebih lincah.
Masyarakat kripto Tanah Air selama ini familiar dengan layer-2 seperti Arbitrum atau Optimism untuk menghindari biaya gas tinggi. Jika fondasi induk fokus pada pengawasan jangka panjang, percepatan adopsi institusional mungkin justru diambil alih oleh lembaga seperti Ethereum Institutional. Hal ini sejalan dengan minat perbankan dan manajer aset di Indonesia yang mulai menyisipkan aset digital ke portofolio.
Di sisi lain, regulasi Bappebti yang membatasi perdagangan aset kripto sebagai komoditas turut memengaruhi cara entitas baru beroperasi di Indonesia. Tanpa kehadiran fondasi pusat yang kuat, edukasi standar protokol mungkin bergeser ke inisiatif swasta, baik lokal maupun global.
Pimpinan Ethereum Foundation menegaskan bahwa rentetan perubahan tersebut bukan pertanda kemunduran. Mereka menyebut penataan ulang sebagai kebutuhan organisasi agar lebih ramping dan berkelanjutan secara finansial. Pernyataan itu sekaligus meredam spekulasi yang berkembang di forum-forum komunitas tentang masa depan jaringan.
Munculnya institusi paralel mempertegas arah baru. ETHLabs, yang didukung perusahaan perbendaharaan ETH terbesar, lahir untuk mempercepat riset protokol dan koordinasi ekosistem di luar struktur yayasan. Pada Juli, Ethereum Institutional diluncurkan guna membantu perusahaan, manajer aset, dan nirlaba mengadopsi Ethereum melalui riset dan standar. Kemudian hadir EthSystems, perusahaan untung yang membangun infrastruktur transaksi rahasia untuk lembaga keuangan.
Ke depan, bentuk Ethereum akan bergantung pada jaringan organisasi independen daripada fondasi tunggal. Model ini mengubah pola tata kelola terdesentralisasi dari sisi sosial, bukan sekadar protokol. Pengamat memperkirakan riset lapisan dasar bakal tetap berjalan, namun dengan koordinasi yang lebih tersebar.
Bagi pengguna Indonesia, perubahan ini mungkin tidak terasa langsung pada harga ETH atau kecepatan transaksi. Namun, dalam dua hingga tiga tahun, ekosistem bisa menyaksikan lebih banyak produk keuangan terdesentralisasi yang dikembangkan oleh entitas non-yayasan. Komunitas lokal perlu memetakan mitra strategis baru agar tidak tertinggal dalam arus transformasi global tersebut.