Manajer investasi terbesar di dunia, BlackRock, mengalami penyusutan nilai portofolio aset digital yang signifikan sepanjang tahun lalu. Dana kelolaan produk kripto mereka anjlok hampir 39% menjadi 48,8 miliar dolar AS per akhir kuartal II 2026, dari posisi 79,6 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Ironisnya, penurunan tersebut terjadi di tengah derasnya arus masuk modal baru. BlackRock mencatat net inflow sebesar 15,1 miliar dolar AS ke dalam produk kripto mereka selama 12 bulan terakhir. Namun, angka tersebut tertelan oleh depresiasi pasar yang mencapai 45,8 miliar dolar AS, sebagaimana tertuang dalam laporan kinerja perusahaan pada Juli 2026.
Kondisi ini mencerminkan betapa eratnya bisnis ETF kripto BlackRock dengan fluktuasi harga aset digital global. Selama kuartal II, produk aset digital perusahaan bahkan mencatat net outflow sebesar 3,1 miliar dolar AS. Hal itu terjadi karena pasar kripto memang sedang melemah secara umum.
Bitcoin, sebagai aset kripto dengan kapitalisasi terbesar, kehilangan nilai lebih dari 14% pada kuartal tersebut dengan harga berada di kisaran 65.060 dolar AS. Ether, token native jaringan Ethereum, mencatat penurunan lebih dalam yakni mencapai 25% di periode yang sama. Lesunya harga dua aset utama ini langsung memukul nilai portofolio yang dikelola BlackRock.
BlackRock memang agresif memperluas jajaran produk ETF kripto sejak meluncurkan spot bitcoin ETF (IBIT) dan spot ether ETF (ETHA) pada 2024. Belakangan, mereka memperkenalkan iShares Bitcoin Income ETF (BITY) yang menawarkan strategi covered call untuk menghasilkan pendapatan pasif, bukan sekadar mengekor harga bitcoin. Meski begitu, kontribusi bisnis kripto masih sangat kecil, yakni di bawah 1% dari total pendapatan komisi perusahaan.
Di Indonesia, fenomena anjloknya nilai aset kripto global ini relevan dengan jutaan penghuni ekosistem perdagangan aset digital. Meski produk ETF kripto ala BlackRock belum tersedia secara legal di dalam negeri, penurunan harga bitcoin dan ether secara langsung memengaruhi nilai portofolio investor lokal di platform seperti Indodax, Pintu, atau Tokocrypto. Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mencatat pertumbuhan investor kripto domestik yang masif, sehingga guncangan harga global langsung terasa di dompet digital mereka.
Lebih dari itu, posisi BlackRock sebagai pengelola 60 miliar dolar AS cadangan Circle juga bersinggungan dengan ekosistem stablecoin di Tanah Air. USDC, yang diterbitkan oleh Circle, banyak digunakan oleh pelaku bisnis kripto Indonesia untuk lindung nilai terhadap volatilitas. Dengan pangsa sekitar seperempat dari pasar stablecoin global senilai 300 miliar dolar AS, langkah BlackRock menguasai manajemen cadangan menjadi sinyal penting bagi stabilitas instrumen tersebut di pasar berkembang termasuk Indonesia.
Dampaknya bagi pembaca Indonesia adalah kesadaran bahwa aset kripto, meski menawarkan imbal hasil tinggi, sangat rentan terhadap tekanan makroekonomi global. Investor ritel di sini perlu memahami bahwa institusi sekelas BlackRock pun tak bisa lepas dari siklus bearish. Ke depan, regulasi OJK yang mulai mengambil alih kewenangan sektor kripto dari Bappebti diharapkan bisa memberikan perlindungan lebih, namun tak menghapus risiko pasar.
Martin Small, Chief Financial Officer BlackRock, memberikan perspektif menarik terkait arah bisnis perusahaan ke depan. Ia menuturkan bahwa 5 miliar dompet kripto di seluruh dunia merupakan kanal distribusi baru bagi produk investasi tradisional mereka. “Mereka semua adalah calon pengguna baru portofolio model, UKM, rekening terkelola, dan format tokenisasi. Kami ingin membangun manajer aset yang melekat secara native pada dompet digital,” ujar Small dalam paparan kinerja.
BlackRock sendiri menargetkan pendapatan tahunan 500 juta dolar AS dari bisnis kripto pada 2030, melompat lebih dari sepuluh kali lipat dari basis komisi saat ini yang hanya 40 juta dolar AS. Ambisi ini menunjukkan bahwa raksasa investasi tersebut tetap optimistis meski sedang menghadapi turbulensi nilai aset.
Proyeksi ke depan menunjukkan BlackRock akan berupaya menjadi manajer cadangan pilihan utama di industri stablecoin. Mereka juga akan memanfaatkan tokenisasi sebagai jembatan antara keuangan konvensional dan dunia kripto. Strategi ini diprediksi akan memicu arus masuk institusional baru yang lebih terstruktur.
Bagi ekosistem keuangan digital Indonesia, tren tokenisasi dan integrasi dompet kripto ke produk investasi tradisional layak dicermati. Jika BlackRock sukses membangun ‘asset manager native dompet digital’, akses investor lokal ke produk global berpotensi terbuka melalui kemitraan lintas batas. Hal ini bisa mengubah peta persaingan perusahaan teknologi finansial di dalam negeri dalam lima tahun mendatang.