Sejumlah besar anak-anak di seluruh dunia kini menghadapi kondisi suhu ekstrem yang semakin berbahaya akibat perubahan iklim. Studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances mengungkapkan bahwa 560 juta anak di bawah usia 10 tahun mengalami setidaknya satu bulan tambahan stres panas setiap tahunnya akibat pemanasan global.
Stres panas diukur menggunakan WetBulb Globe Temperature (WBGT), yaitu standar internasional yang mempertimbangkan suhu, kelembaban, kecepatan angin, dan penutupan awan. Ambang batasnya ditetapkan pada 28 derajat Celsius. Jika tidak ada tindakan pencegahan yang diambil, suhu di atas ambang ini dapat menyebabkan dehidrasi, kejang panas, bahkan gagal organ akibat overheat.
Anak-anak justru lebih rentan terhadap stres panas dibandingkan kelompok usia lain. Tubuh mereka yang kecil dengan rasio permukaan tubuh yang besar terhadap massa tubuhnya membuatnya cepat panas. Keringatannya yang masih berkembang juga menghambat kemampuan regulasi suhu tubuh. Mereka sepenuhnya bergantung pada orang dewasa untuk tetap terhidrasi dan berada di tempat yang sejuk.
Di Indonesia, kondisi ini semakin mengkhawatirkan. Kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, hingga Medan seringkali mengalami suhu di atangka 35 derajat Celsius, terutama pada musim kemarau. Infrastruktur yang belum optimal dan akses terbatas ke pendingin udara membuat anak-anak di wilayah informal atau pinggiran kota lebih rentan.
Menurut studi, dampak stres panas akibat perubahan iklim paling parah terjadi di negara-negara di Global Selatan yang justru paling sedikit berkontribusi pada emisi karbon. Negara-negara ini cenderung memiliki populasi muda dan infrastruktur yang kurang tahan terhadap ekstremasi iklim.
Jika target Paris tidak tercapai dan suhu global naik 2 derajat Celsius, jumlah anak-anak yang terpapar stres panah ekstra bisa mencapai 650 juta. Ini berarti lebih dari separuh jumlah populasi anak di bawah 10 tahun di bumi akan hidup dalam kondisi suhu yang tidak nyaman dan berbahaya.
"Saya berharap studi ini meningkatkan kesadaran bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman di masa depan, tetapi sudah terjadi sekarang dan sudah mempengaruhi kesehatan anak-anak," ujar Rosa Pietroiusti, peneliti doktor di Vrije Universiteit Brussel dan penulis utama studi.
Di sisi lain, pemerintah dan komunitas perlu bertindak cepat. Solusi seperti energi terbarukan—terutama surya dan angin—bisa mengurangi polusi yang memanaskan planet. Namun, aksesnya masih terbatas di banyak negara berkembang.
Indonesia perlu mempercepat transisi energi dan meningkatkan kebijakan iklim untuk melindungi generasi muda. Anak-anak adalah masa depan. Jika kita tidak bertindak sekarang, masa depan mereka akan semakin panas dan tidak menjanjikan.