W3 & Crypto

Perang AS-Iran Tekan Bitcoin, Saham, dan Picu Lonjakan Minyak

Ringkasan

  • Ketegangan militer AS dan Iran di Selat Hormuz pada 14 Juli 2026 menekan bitcoin ke $62.600 serta mengangkat harga minyak hampir 4%.

Senin dan Selasa pekan ini, pasar keuangan global bergetar setelah Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan militer di sekitar Selat Hormuz. Bitcoin kehilangan nilai signifikan dalam 24 jam, turun dari $64.453,92 menjadi $62.600 per koin. Penurunan itu mencerminkan pelarian investor dari aset berisiko di tengah kecemasan inflasi yang dipicu kenaikan harga energi.

Tidak hanya kripto, indeks saham pun ikut tertekan. Patokan minyak Brent melonjak hampir 4% ke level tertinggi empat pekan. Sementara itu, indeks CoinDesk 20 melemah 0,6%, bursa Eropa turun sekitar 1%, dan kontrak berjangka AS melemah 0,3%. Pergerakan ini menandai berbaliknya arus modal yang sebelumnya menikmati euforia perdamaian singkat.

Akar krisis bermula dari penutupan de facto Selat Hormuz yang telah berlangsung 136 hari. Jalur strategis itu sebelum konflik mengangkut seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Serangan terhadap kapal tanker memaksa pengalihan rute serta memicu apa yang disebut trader sebagai "Nacho trade" (Not a Chance Hormuz Opens), taruhan bahwa selat tersebut tetap tertutup.

Eskalasi terbaru terjadi ketika Iran menembakkan rudal balistik ke pangkalan udara AS di Yordania pada Selasa. Respons Pentagon berupa serangan ke sasaran Iran selama lima jam guna merebut kendali selat. Peristiwa itu langsung mendorong harga minyak ke puncak sebulan terakhir dan menekan sentimen risk-on di pasar kripto.

Mekanisme ekonominya cukup jelas. Minyak mahal memperbesar risiko inflasi jangka pendek, yang kemudian mengerek yield obligasi Treasury AS dan memangkas daya tarik aset sensitif suku bunga seperti bitcoin. Data prediksi pasar menunjukkan peluang kenaikan suku bunga The Fed bulan ini naik ke 36%, sementara imbal hasil obligasi dua tahun menyentuh 4,28%.

Bagi Indonesia, gejolak ini memiliki dampak ganda. Sebagai negara net importir minyak, kenaikan Brent berpotensi menambah beban subsidi energi dan memperlebar defisit neraca perdagangan. Di sisi lain, komunitas kripto lokal yang mencapai jutaan pengguna turut merasakan penyusutan nilai portofolio karena bitcoin masih menjadi jangkar utama pasar aset digital domestik.

Bandingkan dengan situasi Juni lalu, ketika perdamaian semu membantu bitcoin rebound dari titik terendah. Kini, investor ritel di Jakarta, Surabaya, atau Makassar kembali menghadapi volatilitas yang sama. Platform perdagangan lokal seperti Tokocrypto atau Pintu kerap mencatat lonjakan volume jual saat panik menyebar, meski data pasti baru tersaji nanti.

Sektor yang paling terdampak adalah penambang kripto rumahan dan perusahaan fintech yang menawarkan produk berbasis bitcoin. Kenaikan harga listrik akibat subsidi energi yang tertekan bisa memperkecil margin operasional. Namun, beberapa analis menilai adopsi kripto di Tanah Air tetap resilien karena motif investasi jangka panjang, bukan sekadar spekulasi harian.

Menurut data Arkham, pemerintah AS pada Senin memindahkan aset kripto sitaan senilai $288 juta ke platform Coinbase Prime. Pergerakan tersebut menambah tekanan jual di pasar karena sinyal likuidasi oleh otoritas. Di saat bersamaan, rasio kapitalisasi altcoin terhadap bitcoin stagnan sejak gagal menembus garis resistensi utama, menunjukkan minimnya momentum baru.

Pasar prediksi juga merekam penurunan odds pembukaan kembali Hormuz akhir tahun dari 65% menjadi 56%, dengan peluang bulan ini nyaris nol. Kondisi itu menguatkan skenario stagflasi ringan jika konflik berlanjut. Pernyataan dari Chair The Fed Kevin Warsh sebelumnya memperingatkan bahwa data inflasi akan menentukan langkah kebijakan Juli.

Laporan CPI Juni yang dirilis hari ini menjadi ujian kritis. Ekspektasi konsensus memproyeksikan inflasi headline melambat ke 3,8% dari 4,2% secara tahunan, sementara inflasi inti bertahan di 2,9%. Angka yang lebih dingin dapat meredam taruhan kenaikan suku bunga, sedangkan print yang panas akan mengukuhkan pengetatan moneter.

Ke depan, hingga selat strategis itu benar-benar dibuka, bitcoin dan saham global akan rentan terhadap berita geopolitik setiap jam. Investor Indonesia disarankan memantau yield Treasury dan harga minyak sebagai barometer risiko. Volatilitas tinggi dipastikan bertahan setidaknya hingga akhir bulan, sejalan dengan probabilitas reopening Hormuz yang masih tertutup rapat.

Mengapa Ini Penting

Volatilitas bitcoin yang dipicu geopolitik luar negeri menunjukkan bahwa pasar kripto domestik tidak kebal dari sentimen global, sehingga OJK dan Bappebti perlu memperkuat edukasi manajemen risiko bagi investor ritel. Lonjakan harga minyak juga dapat mempercepat rencana pemerintah untuk mengintegrasikan energi terbarukan ke dalam operasi penambangan kripto di dalam negeri guna menjaga stabilitas biaya. Di sisi lain, penutupan Selat Hormuz mengingatkan pentingnya diversifikasi rute pasokan teknologi dan chip yang selama ini melalui jalur laut strategis bagi industri elektronik Indonesia. Proyeksi suku bunga The Fed yang naik akan menekan arus modal asing ke startup teknologi lokal, mempersempit pendanaan ventura di tengah tahun.

Sumber Asli
Coindesk
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit