W3 & Crypto

Operator Teleprompter Trump Tertangkap Main Prediction Market Pakai Informasi Orang Dalam

Ringkasan

  • Operator teleprompter Trump, Gabriel Perez, bertaruh di Kalshi pakai info orang dalam dan menang 100.000 dolar AS.

Gabriel Perez, operator teleprompter Presiden Amerika Serikat Donald Trump sejak 2016, memanfaatkan akses informasi internal untuk bertaruh di platform prediksi Kalshi. Ia meraup lebih dari 100.000 dolar AS dari pasar taruhan yang mempertaruhkan isi pidato pejabat tinggi.

Kalshi melaporkan Perez ke Commodity Futures Trading Commission (CFTC) setelah tim pengawasan internal mendeteksi transaksi mencurigakan. Robert DeNault, kepala penegakan aturan Kalshi, menyatakan perusahaan langsung menyerahkan bukti kepada regulator dan menjatuhkan sanksi kepada yang bersangkutan.

Kasus ini membuka mata publik terhadap celah etis di industri prediction market yang sedang naik daun. Platform seperti Kalshi dan Polymarket memungkinkan pengguna bertaruh pada hampir semua peristiwa, termasuk apa yang akan diucapkan seorang presiden dalam forum resmi. Pasar bertajuk "mentions" menjadi ladang bagi mereka yang memiliki akses lebih awal terhadap naskah pidato.

Perez diduga menaruh taruhan pada lebih dari selusin acara, mulai dari pidato bersama kongres Februari lalu, upacara penganugerahan Medal of Honor, hingga sesi di World Economic Forum. Setiap acara memberi ia gambaran pasti mengenai kalimat yang akan dilontarkan Trump, keunggulan yang mustahil dimiliki petaruh biasa.

Fenomena insider trading di pasar prediksi bukan baru terjadi. Karyawan Google, anggota parlemen, staf kampanye, tentara AS, hingga mantan anggota Kongres George Santos pernah dilaporkan menggunakan informasi orang dalam untuk bertaruh. Hal ini memicu debat soal batas antara judi, investasi, dan manipulasi opini publik.

Bagi Indonesia, isu ini relevan seiring masuknya minat terhadap aset kripto dan platform prediksi berbasis blockchain. Meski Kalshi tidak beroperasi resmi di Tanah Air, pola serupa berpotensi muncul pada bursa kripto lokal atau aplikasi prediksi berhadiah yang marak di media sosial. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) perlu belajar dari kasus ini sebelum pasar serupa tumbuh tanpa pengawasan.

Dampaknya melampaui soal uang. Kepercayaan publik terhadap integritas informasi politik bisa tergerus bila orang dalam memanipulasi pasar demi keuntungan. Di negara dengan ekosistem media sosial masif seperti Indonesia, risiko disinformasi berbalut taruhan jauh lebih cepat menyebar.

Kalshi belum menjawab pertanyaan apakah petaruh lain yang ikut pasar tersebut akan mendapat pengembalian dana. CFTC melalui juru bicaranya, Zach Fulton, menolak membenarkan atau menyangkal adanya investigasi. Sikap tertutup ini umum di kalangan regulator federal saat kasus masih bergulir.

"Tim pengawasan kami segera menandai dan melaporkan transaksi ini ke CFTC setelah investigasi internal," ujar DeNault dalam pernyataan tertulis. "Kami mengenakan sanksi dan membantu regulator dengan bukti yang kami kumpulkan, seperti halnya setiap pelimpahan kasus."

ABC News melaporkan bahwa CFTC dan Perez telah membahas penyelesaian melalui pengembalian keuntungan serta komitmen tidak mengulangi tindakan serupa. Jaksa federal memutuskan tidak membuka penyelidikan pidana, sehingga kasus berhenti di jalur administratif.

Ke depan, Kalshi sudah menetapkan aturan wajib bagi pengguna untuk mengungkap status kepegawaian sebelum bertaruh di pasar dengan risiko manipulasi tinggi. Langkah ini mungkin diikuti platform lain guna mencegah kebocoran informasi tingkat negara.

Tren prediksi berbasis peristiwa politik dipastikan bertahan. Tantangannya bukan melarang taruhan, melainkan membangun sistem verifikasi identitas dan batas transaksi yang sulit dimanipulasi orang dalam. Tanpa itu, pasar prediksi akan terus jadi ajang monopoli informasi segelintir elit.

Mengapa Ini Penting

Indonesia belum punya kerangka hukum spesifik untuk prediction market, padahal minat masyarakat terhadap aset berbasis prediksi politik terus tumbuh di platform sosial. Kasus Perez menunjukkan bahwa tanpa identitas terverifikasi, elit berpotensi mendominasi pasar dan merugikan publik. Regulator lokal perlu memetakan risiko ini sebelum model bisnis serupa masuk secara resmi. Penguatan literasi digital tentang batas judi dan manipulasi pasar menjadi krusial untuk melindungi pengguna domestik.

Sumber Asli
The Verge
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit