Mizuho Securities, bank investasi asal Jepang, secara resmi menurunkan peringkat saham Circle Internet Financial menjadi underperform dari sebelumnya netral pada perdagangan 14 Juli 2026. Pemangkasan target harga juga dilakukan dari $85 menjadi $50 per lembar, menyusul evaluasi ulang terhadap ketahanan bisnis penerbit stablecoin USDC tersebut di tengah persaingan yang makin ketat.
Saham Circle sempat diperdagangkan melemah 0,6% di level $62,63 pada saat berita diterbitkan. Langkah Mizuho ini dipicu oleh kehadiran OpenUSD, stablecoin baru yang diklaim memiliki model distribusi reserve income jauh lebih terbuka dan berpotensi menggerus margin keuntungan Circle dalam jangka panjang.
Dalam catatan kepada klien, tim analis yang dipimpin Dan Dolev menjelaskan bahwa OpenUSD diperkenalkan pada 30 Juni oleh konsorsium Open Standard yang beranggotakan lebih dari 140 mitra, termasuk Mastercard, Stripe, Coinbase, dan BlackRock. Skema yang digunakan memungut biaya operasional kecil dan menyalurkan hampir seluruh imbal hasil dari cadangan treasury kepada penerbit serta distributor.
Berbeda dengan USDC yang mengambil porsi besar imbal hasil sebelum membagikan sebagian kepada mitra seperti Coinbase dan Binance, pendekatan pass-through ini mengubah peta kekuatan tawar di industri. Mizuho memproyeksikan biaya distribusi dan transaksi Circle pada 2027 melonjak ke 73% dari sebelumnya 64%, sehingga memperkecil ruang laba operasional.
Imbasnya, estimasi EBITDA disesuaikan untuk 2027 dipotong menjadi $699 juta dari $1,09 miliar. Angka tersebut berada sekitar 25% di bawah konsensus analis Wall Street yang mematok $941 juta. Meski bank tersebut memprediksi suku bunga sedikit lebih tinggi di 2027, kenaikan yield cadangan dinilai tak cukup menutup tekanan harga dari kompetitor.
Penurunan momentum USDC turut memperkuat argumen Mizuho. Pasokan beredar stablecoin besutan Circle itu susut ke sekitar $73 miliar dari hampir $80 miliar pada Maret. Secara keseluruhan, kap pasar stablecoin global menyusut $10 miliar sejak Mei karena aktivitas perdagangan kripto melemah dan munculnya penerbit yang sudah memenuhi regulasi baru.
Ancaman nyata bagi Circle muncul dari jadwal negosiasi ulang kesepakatan revenue-sharing dengan Coinbase pada Agustus mendatang. Dukungan Coinbase terhadap OpenUSD dipandang memperkuat posisi tawar bursa tersebut untuk meminta bagian reserve income lebih besar. Situasi ini menciptakan dilema bagi Circle yang mengandalkan Coinbase sebagai saluran distribusi terbesar.
Dari perspektif Indonesia, gejolak di pasar stablecoin global relevan karena mayoritas transaksi aset kripto domestik masih bersandar pada dollar-pegged coin, terutama USDC dan USDT. Pengguna di platform lokal seperti Indodax, Pintu, dan Tokocrypto kerap memakai USDC sebagai jembatan likuiditas ke pasar DeFi internasional.
Apabila margin Circle tertekan dan likuiditas USDC berkurang, bursa Indonesia mungkin akan lebih mengandalkan USDT yang sudah mendominasi volume. Di sisi lain, masuknya konsorsium berbasis OpenUSD dengan dukungan raksasa pembayaran bisa menawarkan biaya transfer lebih murah untuk remitansi diaspora, namun butuh kejelasan perlindungan konsumen dari OJK yang kini mengambil alih regulasi aset kripto dari Bappebti.
Bank sentral melalui Bank Indonesia memang tengah mengembangkan infrastruktur mata uang digital wholesale, namun belum ada stablecoin rupiah yang beroperasi penuh di sektor ritel. Persaingan antarpenerbit dollar seperti ini sekaligus menggarisbawahi urgensi penyediaan alternatif lokal agar ketergantungan terhadap aset luar negeri berkurang.
JPMorgan dalam laporan terpisah menyebut kesepakatan Hyperliquid dengan Circle dan Coinbase menciptakan kondisi prisoner's dilemma yang ikut menekan pendapatan stablecoin berbasis dollar. Kombinasi antara ancaman model terbuka dan manuver pesaing membuat tahun 2027 menjadi fase penentuan bagi kelangsungan ekonomi USDC.
Ke depan, Circle dituntut mencari cara mempertahankan mitra tanpa mengorbankan terlalu banyak margin, mungkin lewat inovasi produk atau ekspansi ke layanan keuangan tokenisasi. Sementara itu, pengguna Indonesia perlu memantau dinamika ini dan mempertimbangkan diversifikasi aset demi mitigasi risiko likuiditas.