W3 & Crypto

Komunitas Bitcoin Luncurkan DOG Mode Lawan Pembatasan Data Non-Keuangan

Ringkasan

  • Leonidas meluncurkan DOG Mode pada 17 Juli 2026 untuk mem bypass BIP 110 yang mandek dengan melonggarkan relay Bitcoin Core.

Leonidas, tokoh penting ekosistem Ordinals dan Runes, mengumumkan klien Bitcoin open-source bernama DOG Mode pada Jumat, 17 Juli 2026. Inisiatif ini menjadi jawaban langsung atas proposal BIP 110 yang gagal mendapat dukungan penambang dan berupaya memangkas data non-keuangan di jaringan Bitcoin.

DOG Mode dirancang untuk memotong dua batasan yang selama ini berlaku di Bitcoin Core, perangkat lunak yang dipakai mayoritas node jaringan. Klien ini akan melonggarkan kebijakan relay dengan mengizinkan transaksi hampir sebesar satu blok penuh serta menurunkan batas debu (dust limit) menjadi satu satoshi. Perubahan itu berpotensi mengembalikan dana senilai 25 juta dollar AS yang selama ini terkunci sebagai padding oleh ekosistem Ordinals dan Runes.

Perselisihan soal data non-keuangan di Bitcoin telah berlangsung lama. Ordinals memungkinkan penyematan gambar dan teks ke dalam transaksi, sementara Runes menerbitkan token yang dapat diperdagangkan di atas rantai blok Bitcoin. Keduanya kerap dikritik karena memenuhi jaringan dengan data yang bukan transaksi pembayaran murni. Kelompok penganut restriksi menilai praktik tersebut menjadi spam yang menaikkan biaya dan membebani node.

BIP 110 muncul sebagai upaya formal untuk membatasi data sembarang lewat soft fork yang diaktifkan pengguna. Proposal itu mensyaratkan 55 persen dukungan penambang. Monitor BIP 110 mencatat angka dukungan nol pada periode berjalan dan tak pernah tembus 1 persen di periode mana pun. Tanpa suara mayoritas, proposal tersebut praktis mandek.

Leonidas mengambil jalur berbeda dengan tidak menyentuh aturan konsensus. Relay policy bersifat lunak karena hanya mengatur apa yang diteruskan sebuah node ke tetangganya. Bitcoin Core menolak transaksi yang dianggap tidak standar meski sah secara konsensus. Penambang yang menerima transaksi itu langsung masih bisa memasukkannya ke blok, dan blok tersebut tetap valid.

Di bawah DOG Mode, batas transaksi standar naik dari 400.000 weight unit menjadi 3.900.000 weight unit. Karena satu blok Bitcoin memuat empat juta weight unit, Core saat ini hanya meneruskan transaksi maksimal sepersepuluh blok. DOG Mode memungkinkan transaksi hampir sebesar blok utuh untuk diteruskan. Batas debu juga turun dari rentang 294 hingga 546 satoshi menjadi hanya satu satoshi.

Bagi pengguna Indonesia, gesekan ini relevan karena komunitas kripto lokal cukup aktif di Runes dan Ordinals melalui bursa serta dompet nonkustodian. Pembatasan di level node berdampak pada biaya dan kelancaran pengiriman token. Jika DOG Mode diadopsi luas, pemain lokal bisa menikmati on-chain fee lebih efisien dan likuiditas token seperti DOG meningkat karena dana padding kembali beredar.

Di sisi lain, BIP 110 hanya didukung segelintir node alternatif bernama Bitcoin Knots yang digemari kubu pembatas data. DOG Mode menjadi cerminannya: fork dari Core untuk kubu sebaliknya. Leonidas menegaskan kliennya akan menyimpang dari Core jauh lebih sedikit ketimbang Knots. Perbedaan pendekatan ini memindahkan arena pertarungan dari perubahan aturan jaringan ke penggunaan klien alternatif.

DOG Mode belum memiliki kode. Leonidas baru mengumumkan inisiatif dan meminta pengembang menyumbang rilis perdana, penambang memberi dukungan, serta pengguna menyebarkan slogan. Hingga Jumat, belum ada repositori, versi, maupun uji kinerja. Leonidas merupakan penggagas Runestone yang menyalurkan token DOG, sehingga pelonggaran debu secara langsung mengembalikan nilai ke pasar tempat tokennya diperdagangkan.

Harga DOG relatif tenang pasca pengumuman dengan penurunan 1,2 persen dalam 24 jam. Ketenangan itu mencerminkan pasar yang menunggu bukti kode nyata sebelum bereaksi. Tanpa implementasi, DOG Mode masih berupa wacana berpengaruh di tengah kubu yang saling berseberangan.

Langkah berikutnya bergantung pada kontribusi pengembang dan kesediaan satu penambang menerima fee dari transaksi berukuran besar. DOG Mode tidak butuh ambang batas maupun jendela sinyal seperti BIP 110. Hanya satu penambang yang bersedia menerima fee sudah cukup membuat transaksi terkonfirmasi.

Tren ke depan menunjukkan Bitcoin akan terus diuji lewat klien alternatif而非 konsensus. Kubu data non-keuangan dan pembatas sama-sama memilih jalur node daripada pemungutan suara jaringan. Persaingan ini akan menentukan wajah Bitcoin sebagai penyimpan nilai murni atau platform terbuka bagi aset digital lain.

Konteks Indonesia memperlihatkan regulasi kripto di bawah Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) fokus pada perlindungan konsumen dan perpajakan. Adopsi klien seperti DOG Mode tidak melanggar hukum lokal selama penyedia layanan tetap patuh pelaporan. Namun, dompet dan bursa lokal perlu menyesuaikan infrastruktur node jika ingin mendukung relay transaksi Ordinals dan Runes secara penuh.

Mengapa Ini Penting

Bagi Indonesia, kehadiran DOG Mode dapat menurunkan biaya transaksi aset digital di Bitcoin yang selama ini memberatkan pengguna lokal. Infrastruktur node domestik perlu bersiap jika relay policy bergeser karena berdampak pada layanan dompet dan bursa. Persaingan klien ini juga menguji posisi Bappebti dalam mengawasi aset di luar pembayaran murni. Tanpa aturan konsensus yang berubah, risiko fork tidak menghantui pasar, namun fragmentasi likuiditas mungkin muncul.

Sumber Asli
CoinDesk
Tanggal
17 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit