Apple bersiap mencetak sejarah baru dengan peluncuran iPhone lipat pertamanya dalam sebuah ajang besar yang dijadwalkan berlangsung esok hari. Langkah ini menandai masuknya raksasa teknologi asal Cupertino tersebut ke pasar perangkat layar lipat, tujuh tahun setelah Samsung merintis kategori ini melalui Galaxy Fold.
Meski tampak terlambat, kehadiran Apple diprediksi akan mengubah peta persaingan secara drastis. Berdasarkan bocoran yang beredar, perangkat ini akan mengusung desain layar lipat dengan bentuk yang lebar dan ringkas, menyerupai ukuran paspor. Desain ini secara mengejutkan selaras dengan tren yang belakangan diadopsi oleh berbagai produsen Android seperti Xiaomi, Huawei, hingga Oppo.
Fenomena ini menunjukkan pengaruh Apple yang masih sangat kuat dalam mendikte arah desain industri ponsel pintar. Meski produsen Android telah merilis perangkat serupa lebih awal, muncul spekulasi kuat bahwa Apple telah merancang konsep ini sejak 2017. Rantai pasok Apple yang masif memungkinkan informasi mengenai desain ini bocor lebih dulu ke kompetitor, sehingga memaksa mereka melakukan adaptasi sebelum produk Apple benar-benar tersedia di rak toko.
Keterlibatan Samsung sebagai pemasok panel layar untuk iPhone lipat ini mempertegas dinamika tersebut. Samsung, yang selama ini menjadi penguasa pasar ponsel lipat, kini berada dalam posisi unik sebagai pemasok komponen bagi rival terbesarnya. Hal ini menegaskan bahwa strategi Apple bukan sekadar mengikuti pasar, melainkan membentuk standar baru yang akan diikuti oleh pemain lain.
Bagi CEO baru Apple, John Ternus, peluncuran ini menjadi ujian besar pertama dalam memimpin perusahaan. Ternus, yang memiliki latar belakang kuat di bidang teknik perangkat keras, diharapkan mampu mempertahankan dominasi Apple dengan mengintegrasikan keunggulan perangkat keras dengan ekosistem layanan yang selama ini menjadi kunci loyalitas pengguna.
Pasar ponsel layar lipat sendiri saat ini masih tergolong ceruk dengan pangsa pasar hanya 1,6 persen secara global pada 2025. Namun, masuknya Apple diprediksi akan menjadi katalis yang mendorong kategori ini menuju arus utama. Analis memperkirakan pertumbuhan pengiriman perangkat lipat akan melonjak hingga 20 persen seiring dengan kehadiran iPhone lipat tersebut.
Di Indonesia, pasar ponsel lipat masih didominasi oleh seri Samsung Galaxy Z Fold dan Flip yang telah memiliki basis pengguna setia. Namun, kehadiran iPhone lipat kemungkinan besar akan memicu pergeseran minat konsumen kelas atas di tanah air. Pengguna Indonesia yang cenderung sangat loyal pada ekosistem iOS kini memiliki alasan baru untuk beralih ke perangkat lipat tanpa harus meninggalkan kenyamanan integrasi iCloud dan iMessage.
Keberhasilan Apple di masa lalu dalam mempopulerkan teknologi yang dianggap 'terlambat' sudah terbukti melalui berbagai lini produk. Saat Apple memutuskan untuk masuk, produsen lain seringkali merasa perlu untuk menyelaraskan diri agar tidak tertinggal dalam tren pasar yang baru terbentuk. Ini adalah pola yang berulang, dari perangkat tipis hingga desain laptop modern.
John Ternus menghadapi tantangan untuk membuktikan bahwa Apple tetap relevan sebagai inovator utama. Jika Apple berhasil mengubah persepsi publik terhadap ponsel lipat dari sekadar eksperimen menjadi kebutuhan sehari-hari, maka posisi mereka sebagai pemimpin pasar akan semakin kokoh dalam satu dekade ke depan.
Langkah selanjutnya bagi industri ponsel pintar adalah standarisasi pengalaman pengguna pada layar lipat. Dengan Apple di dalam permainan, pengembang aplikasi pihak ketiga dipastikan akan lebih serius dalam mengoptimalkan antarmuka mereka untuk perangkat layar fleksibel. Hal ini akan menguntungkan seluruh ekosistem, baik pengguna iOS maupun Android di masa depan.
Sementara itu, para pesaing Android kini berada dalam posisi defensif. Mereka harus segera mencari pembeda yang unik agar tidak sekadar dianggap sebagai pengekor desain Apple. Inovasi pada sektor baterai, ketahanan engsel, dan harga menjadi medan pertempuran berikutnya yang akan menentukan siapa yang mampu bertahan di pasar premium.
Secara keseluruhan, peluncuran ini bukan sekadar tentang perangkat baru, melainkan tentang bagaimana sebuah perusahaan mampu mengorkestrasi pasar global. Apple tidak selalu menjadi yang pertama menciptakan teknologi, tetapi mereka kerap menjadi yang paling efektif dalam menjadikannya sebuah standar industri yang harus dimiliki banyak orang.