Artificial Intelligence

Intero Biosystems Kembangkan Organ Intestin Mini untuk Gantikan Uji Coba Hewan

Bagikan: X Facebook WhatsApp Telegram LinkedIn
Intero Biosystems Kembangkan Organ Intestin Mini untuk Gantikan Uji Coba Hewan

Ringkasan

  • Startup Intero Biosystems meluncurkan GastroScreen, organoid usus manusia untuk menggantikan uji coba hewan dalam pengembangan obat, guna meningkatkan akurasi data dan efisiensi klinis.

Pengembangan obat-obatan selama ini sangat bergantung pada model hewan, sebuah metode yang sering kali menemui jalan buntu karena perbedaan biologis antara spesies. Intero Biosystems, startup asal Denver, kini menawarkan solusi alternatif melalui GastroScreen, sebuah teknologi organoid usus manusia yang dikembangkan di laboratorium untuk mensimulasikan respons tubuh manusia secara lebih akurat sebelum obat diuji ke manusia.

Organoid ini berukuran sekitar satu milimeter dan dirancang untuk meniru struktur usus manusia yang kompleks. Berbeda dengan model sel datar sederhana yang hanya mereplikasi sebagian kecil fungsi usus, GastroScreen mengandung berbagai jenis sel dan jaringan yang relevan secara biologis. Inovasi ini memungkinkan perusahaan farmasi, bioteknologi, hingga industri kimia untuk melakukan pengujian keamanan dan efikasi produk dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi.

Ketergantungan industri farmasi pada hewan uji selama ini memicu kritik karena tingkat kegagalan obat yang tinggi di tahap uji klinis manusia. Madeline Eiken, salah satu pendiri sekaligus CTO Intero Biosystems, menekankan bahwa perbedaan fundamental antara tikus dan manusia menjadi penyebab utama mengapa banyak kandidat obat gagal saat diuji secara klinis. Dengan menggunakan jaringan hidup yang menyerupai organ asli, perusahaan dapat memitigasi risiko kegagalan sejak tahap awal penelitian.

Sejak didirikan pada 2024, Intero telah mengumpulkan pendanaan pre-seed senilai 2,3 juta dolar AS dan berhasil mencatatkan pendapatan lebih dari 400.000 dolar AS dalam setahun terakhir. Model bisnis mereka tidak hanya menjual organoid, tetapi juga menyediakan suplai nutrisi sel, bahan kimia eksperimental, serta layanan desain riset khusus. Pendekatan ini terbukti menarik bagi banyak perusahaan yang ingin beralih dari metode tradisional tanpa harus membangun laboratorium organoid sendiri.

Pergeseran ini didorong pula oleh perubahan regulasi di Amerika Serikat. FDA telah merilis rencana untuk mengurangi ketergantungan pada uji coba hewan dengan mendukung metode alternatif seperti organ-on-chips dan model berbasis AI. Panduan baru mengenai metode non-hewan atau New Approach Methodologies (NAMs) memberikan kerangka kerja bagi perusahaan untuk memvalidasi temuan mereka tanpa perlu menyiksa hewan, yang pada akhirnya mempercepat adopsi teknologi organoid di industri.

Di Indonesia, adopsi teknologi organoid masih berada pada tahap awal riset akademis. Sebagian besar perusahaan farmasi lokal masih sangat bergantung pada uji in vivo konvensional atau data sekunder internasional. Keterbatasan infrastruktur laboratorium canggih dan biaya tinggi menjadi penghalang utama implementasi teknologi ini di tanah air. Namun, kesadaran akan etika riset dan efisiensi biaya jangka panjang berpotensi mendorong kolaborasi antara peneliti lokal dengan startup global seperti Intero di masa depan.

Bagi industri farmasi Indonesia, kehadiran teknologi ini menawarkan peluang untuk meningkatkan kualitas riset pengembangan obat herbal atau produk bioteknologi lokal agar memenuhi standar global yang semakin ketat terhadap penggunaan hewan. Jika Indonesia mampu mengadopsi metodologi serupa, daya saing riset medis nasional di mata internasional akan meningkat signifikan.

Charlie Childs, CEO Intero, menjelaskan bahwa perusahaan saat ini berada di tahap kedua dari tiga fase validasi. Mereka telah membuktikan bahwa GastroScreen mampu merespons obat anti-inflamasi dan senyawa pemicu kerusakan usus dengan pola yang sama seperti pada manusia. Tahap terakhir akan melibatkan perbandingan langsung hasil organoid dengan data klinis nyata dari mitra perusahaan farmasi.

Langkah strategis Intero ke depan adalah otomasi produksi. Saat ini, mereka mampu memproduksi beberapa ribu organoid per batch, namun target mereka adalah mencapai skala ratusan ribu. Mereka juga melihat potensi besar untuk mengintegrasikan data biologis yang dihasilkan oleh organoid ke dalam model kecerdasan buatan, yang nantinya akan dilisensikan kepada perusahaan teknologi maupun farmasi besar.

Dengan memposisikan diri sebagai penyedia data biologis yang presisi, Intero tidak hanya sekadar menjual alat, tetapi juga menjadi pemain kunci dalam ekosistem riset masa depan. Personalisasi pengobatan melalui sel pasien sendiri menjadi visi jangka panjang perusahaan, di mana setiap individu nantinya bisa memiliki model organoid yang merepresentasikan profil genetik unik mereka untuk uji efikasi obat yang benar-benar personal.

Mengapa Ini Penting

Berita ini krusial karena menandai pergeseran paradigma dalam riset medis global menuju metode non-hewan yang lebih etis dan akurat. Bagi industri farmasi Indonesia, ini adalah pengingat bahwa standar riset internasional bergerak ke arah presisi biologis yang tidak lagi menoleransi ketidakakuratan data dari model hewan. Adopsi teknologi ini dapat memangkas biaya kegagalan pengembangan obat secara drastis jika diimplementasikan dengan tepat.

Pertanyaan Umum

Apa isi utama artikel "Intero Biosystems Kembangkan Organ Intestin Mini untuk Gantikan Uji Coba Hewan"?

Startup Intero Biosystems meluncurkan GastroScreen, organoid usus manusia untuk menggantikan uji coba hewan dalam pengembangan obat, guna meningkatkan akurasi data dan efisiensi klinis.

Mengapa Artificial Intelligence ini penting?

Berita ini krusial karena menandai pergeseran paradigma dalam riset medis global menuju metode non-hewan yang lebih etis dan akurat. Bagi industri farmasi Indonesia, ini adalah pengingat bahwa standar riset internasional bergerak ke arah presisi biologis yang tidak lagi menoleransi ketidakakuratan data dari model hewan. Adopsi teknologi ini dapat memangkas biaya kegagalan pengembangan obat secara

Sumber Asli
TechCrunch
Tanggal
2 jam lalu
Waktu Baca
4 menit