Startup asal Pennsylvania, Mosqitter, tengah merevolusi cara dunia mengendalikan populasi nyamuk melalui integrasi kecerdasan buatan (AI) pada perangkat perangkap nyamuk mereka. Inovasi ini hadir di tengah lonjakan kasus penyakit bawaan nyamuk secara global, di mana data WHO mencatat rekor 14,6 juta kasus demam berdarah pada 2024, meningkat tajam dari 6,5 juta kasus pada tahun sebelumnya.
Perangkat besutan Mosqitter bekerja dengan meniru sinyal biologis manusia, seperti panas tubuh, aroma kulit, dan hembusan karbon dioksida. Dengan menangkap nyamuk betina sebelum masa bertelur, perusahaan mengklaim dapat memutus siklus reproduksi nyamuk secara signifikan tanpa melibatkan bahan kimia berbahaya. Saat ini, lebih dari 5.000 unit perangkat telah terpasang di lima benua, menandai pertumbuhan pesat dibandingkan dengan 250 unit pada tahun 2022.
Namun, langkah paling ambisius dari startup ini adalah peluncuran Febris Monitoring System. Sistem ini mengubah perangkat keras tersebut menjadi sensor data yang mampu melakukan pengawasan lingkungan secara real-time. Dengan memanfaatkan sistem visi komputer, Mosqitter dapat mengidentifikasi spesies nyamuk secara akurat melalui analisis karakteristik biologis yang divalidasi oleh para entomolog.
Proses identifikasi dilakukan dengan memasukkan citra nyamuk ke dalam jaringan saraf tiruan (neural network) yang kemudian dicocokkan dengan dataset eksternal. Sistem ini memberikan skor kepercayaan untuk setiap hasil temuan, layaknya tiga hakim yang memberikan putusan dalam sebuah persidangan. Selain itu, data lingkungan seperti kecepatan angin, kelembapan, dan suhu turut diolah untuk memprediksi risiko penyebaran penyakit di suatu wilayah.
Bagi Indonesia, teknologi ini menawarkan potensi solusi mitigasi penyakit tropis yang sangat relevan. Mengingat demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang kronis, sistem pemantauan berbasis AI seperti Febris dapat memberikan peringatan dini bagi otoritas kesehatan untuk melakukan tindakan preventif sebelum terjadi wabah besar di wilayah tertentu.
Saat ini, Mosqitter menargetkan pasar institusional seperti bandara, pemerintah kota, dan universitas. Di bandara internasional seperti Heathrow dan Gatwick, teknologi ini digunakan untuk memantau risiko masuknya nyamuk invasif dari luar negeri melalui jalur transportasi udara. Pendekatan berbasis data ini memungkinkan pembuat kebijakan untuk mengambil keputusan berdasarkan bukti empiris, bukan sekadar asumsi.
Model bisnis Mosqitter kini bergeser dari sekadar penjualan perangkat keras ke layanan berlangganan data. Perangkat Mosqitter Mini dijual seharga 199 dolar AS untuk konsumen ritel, sementara sistem profesional Grand dibanderol 1.999 dolar AS. Pendapatan dari layanan analitik dan dasbor Febris diproyeksikan tumbuh pesat hingga mencapai 3,5 juta dolar AS pada tahun depan.
Kendati demikian, tantangan utama bagi adopsi teknologi ini di Indonesia adalah biaya operasional dan infrastruktur digital yang merata. Penggunaan sensor AI memerlukan konektivitas stabil untuk transmisi data ke pusat analitik. Selain itu, kolaborasi antara sektor swasta dan kementerian kesehatan menjadi kunci agar teknologi pengawasan ini tidak hanya menjadi alat komersial, tetapi juga instrumen kebijakan publik.
CEO Mosqitter, Anastasiia Romanova, menegaskan bahwa Febris tidak berfungsi sebagai alat diagnosis penyakit, melainkan sebagai sistem peringatan dini. Dengan mengetahui spesies nyamuk yang hadir di suatu area, otoritas kesehatan dapat memetakan potensi risiko transmisi penyakit secara lebih presisi. Ini adalah langkah maju dari metode konvensional yang seringkali bersifat reaktif.
Perusahaan kini tengah menggalang pendanaan sebesar 5 juta dolar AS untuk mempercepat pengembangan sistem Febris. Hingga saat ini, Mosqitter telah mengumpulkan modal sebesar 1,9 juta dolar AS. Fokus utama mereka ke depan adalah menjalin kemitraan dengan distributor lokal yang memiliki jaringan kuat dengan pemerintah di berbagai negara, termasuk wilayah dengan beban kasus penyakit tropis yang tinggi seperti Brasil dan India.
Seiring dengan perubahan iklim yang memperluas habitat nyamuk ke wilayah baru, kebutuhan akan pengawasan berkelanjutan menjadi semakin krusial. Mosqitter berupaya memposisikan diri sebagai penyedia infrastruktur data kesehatan, di mana perangkat fisik hanyalah pintu masuk untuk mengumpulkan data biologis yang berharga bagi pencegahan pandemi di masa depan.
Dengan memanfaatkan AI, Mosqitter tidak hanya membunuh nyamuk satu per satu, tetapi juga memahami pola perilaku mereka secara kolektif. Transformasi dari perangkat pembasmi menjadi jaringan pengawasan global ini mencerminkan tren teknologi IoT yang semakin cerdas dalam memecahkan masalah kesehatan lingkungan yang kompleks.