W3 & Crypto

Ether Ungguli Bitcoin Berkat Derasnya Dana ETF BlackRock

Ringkasan

  • Ether melonjak 11% sepekan di AS berkat ETF BlackRock, sementara bitcoin dan altcoin lain melemah.
  • Fenomena ini terjadi pekan ini.

Ether memimpin penguatan pasar kripto besar pekan ini dengan lonjakan sekitar 11 persen dalam tujuh hari, sementara mayoritas token utama lainnya stagnan atau melemah. Dominasi tersebut ditopang oleh masuknya dana ke exchange-traded fund (ETF) spot ether di Amerika Serikat, yang hampir seluruhnya mengalir ke produk berbiaya rendah milik BlackRock.

Pada Kamis, harga ether berada di kisaran 1.920 dollar AS, naik 2,2 persen dalam sehari dan membukukan kapitalisasi pasar sekitar 231 miliar dollar AS dengan volume harian 12 miliar dollar AS. Bitcoin tertahan di 64.600 dollar AS, turun 0,3 persen hari itu meski masih naik 4,2 persen sepekan. Di bawah keduanya, tren pasar justru negatif: Solana turun 1,1 persen ke 77 dollar AS, TRON melemah ke 0,32 dollar AS, dan Hyperliquid kehilangan 1,8 persen ke 66 dollar AS.

Penguatan ether tidak bisa dijelaskan oleh data inflasi AS yang melunak pada Selasa lalu, karena sentimen tersebut menopang seluruh pasar secara merata. Faktor pendorong utamanya berasal dari aliran dana institusi ke ETF spot ether. Menurut SoSoValue, dana ETF tersebut menyerap 96 juta dollar AS dalam tiga hari pertama pekan ini, sudah melebihi total 84 juta dollar AS sepanjang pekan lalu. Pada Juni akhir, produk tersebut justru kehilangan 82 juta dollar AS hanya pada 25 Juni.

Konsentrasi dana sangat mencolok. Dari 53,8 juta dollar AS yang masuk pada Rabu, ETF ETHA besutan BlackRock menyerap 45,3 juta dollar AS, sedangkan ETHB menambah 4 juta dollar AS. Delapan produk lain harus berbagi sisa kurang dari 5 juta dollar AS. Keunggulan BlackRock terletak pada biaya administrasi yang hanya 0,25 persen, berbanding 2,5 persen pada Grayscale Ethereum Trust yang sejak peluncuran telah kehilangan 5,3 miliar dollar AS.

Sumber permintaan baru datang dari Robinhood Chain, jaringan layer-2 yang mulai beroperasi pada 1 Juli. Jaringan ini menggunakan ether untuk biaya transaksi dan menyelesaikan settlement di Ethereum. Volume perdagangan terdesentralisasi hariannya melampaui 800 juta dollar AS, mayoritas berupa transaksi memecoin. Kehadiran infrastruktur semacam ini memberi ether utilitas nyata di luar fungsi penyimpan nilai.

Bitcoin menunjukkan ketahanan yang berbeda. Nansen mencatat arus keluar dari bursa tetap stabil meski ketegangan Timur Tengah meningkat, tanpa rotasi signifikan ke stablecoin yang biasanya menandai penarikan dana investor. Tingkat pendanaan berjangka berada di dekat nol, sinyal bahwa posisi long berlebih yang memicu likuidasi beruntun pada Juni telah bersih. Dominasi bitcoin berada di 58,3 persen.

Bagi pembaca Indonesia, tren ini relevan karena ETF kripto belum tersedia secara legal di dalam negeri, namun minat aset digital terus tumbuh melalui pedagang aset kripto berizin Bappebti. Derasnya dana institusi global ke ether menunjukkan pergeseran preferensi yang bisa memengaruhi harga aset serupa di pasar lokal. Investor ritel Indonesia yang berburu imbal hasil sering mengikuti narasi global, termasuk rotasi ke token dengan utilitas ekosistem kuat.

Pasar kripto domestik masih didominasi bitcoin dan beberapa altcoin populer seperti XRP serta dogecoin, yang pekan ini masing-masing naik sedikit di atas 2 persen. Ether belum menjadi pilihan utama di banyak platform lokal, kendati beberapa exchange sudah menyediakan staking dan simpanan berbasis Ethereum. Ketergantungan pada sentimen luar negeri membuat harga di Indonesia rawan terimbas langsung oleh keputusan ETF AS.

Grayscale tetap menghadapi tekanan keluar karena selisih biaya yang lebar. BlackRock memanfaatkan skala dan reputasi untuk menguasai likuiditas institusi. Pergeseran ini mencerminkan matangnya pasar ETF kripto AS di mana efisiensi biaya menjadi penentu arus masuk.

Ke depan, jika Robinhood Chain mempertahankan volume di atas 800 juta dollar AS per hari, permintaan ether untuk gas akan memberi lantai harga yang lebih kokoh. Namun, volatilitas ETF bitcoin yang keluar-masuk dalam 48 jam menunjukkan alokator belum membangun posisi permanen. Ether berpotensi memimpin siklus pendek, selama institusi AS tetap memilih produk berbiaya rendah dan ekosistem layer-2 terus ekspansi.

Proyeksi bagi Indonesia bergantung pada kebijakan regulator terkait ETF dan produk turunan kripto. Jika OJK dan Bappebti membuka jalur institusi serupa, arus masuk bisa lebih terukur dan melindungi ritel dari gejolak eksternal. Sementara itu, edukasi ekosistem Ethereum perlu ditingkatkan agar utilitasnya dipahami di luar sekadar spekulasi harga.

Mengapa Ini Penting

Indonesia belum mengizinkan ETF kripto, namun arus institusi AS ke ether akan memengaruhi harga aset di bursa lokal yang mengacu pada pasar global. Pergeseran ke token berguna secara ekosistem seperti ether menuntut regulator dan exchange domestik menyiapkan produk edukatif dan turunan yang aman. Jika tidak, ritel Indonesia akan terus rentan terhadap manipulasi narasi serta volatilitas yang dicetak oleh pemain institusi luar negeri.

Sumber Asli
CoinDesk
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit