W3 & Crypto

Ether Anjlok 4 Persen Ikut Tergesa Pasar Chip Asia, Bitcoin Lebih Tahan

Ringkasan

  • Ether turun 4 persen ke US$1.850 pada Jumat (17/7) saat penjualan massal saham semikonduktor Asia menyeret seluruh aset kripto, meski ETF Ether AS justru mencatat aliran masuk besar.

Pasar kripto merasakan getaran dari ledakan jual saham semikonduktor di Asia pada Jumat (17/7). Ether (ETH) melorot 4 persen ke US$1.850, koreksi dua kali lipat lebih dalam dari Bitcoin yang hanya turun 2 persen ke US$63.400. Token HYPE milik Hyperliquid menjadi tertekan paling parah, anjlok 10 persen ke US$60 — penurunan harian terdalam sejak Juni lalu.

Solana turun 2 persen ke US$75, XRP melorot 2 persen ke US$1,09, dan BNB menyusut 2 persen ke US$571. Dogecoin dan TRON juga ikut merosot masing-masing 2 persen. Bitcoin justru menunjukkan ketahanan relatif, hanya turun 1 persen selama seminggu terakhir setelah gagal menembus resistensi US$65.000 dua kali.

Pemicu utama bukan datang dari dalam ekosistem kripto, melainkan dari pasar ekuitas tradisional. Indeks MSCI Asia Pasifik anjlok 3 persen menuju level terendah dua bulan. Nikkei 225 Jepang runtuh 5 persen — hari terburuk sejak Maret — sementara Taiwan Semiconductor Manufacturing (TSMC) mencatat penurunan harian terdalam sejak April 2025. Produsen memori Kioxia sempat terpental 16 persen pada perdagangan intraday.

Kondisi ini kontras tajam dengan pekan lalu. Pada Jumat sebelumnya, Bitcoin naik 4 persen bersamaan dengan lompatan 8 persen Kospi Korea Selatan dan pencatatan saham depositori AS SK Hynix senilai US$26,5 miliar. Sekarang para investor menanyakan apakah rally AI tahun ini telah berlari terlalu cepat, dan jawabannya muncul dari pita perdagangan chip, bukan dari data on-chain.

Yang menarik perhatian analis adalah gerakan Ether. ETF spot Ether AS justru mencatat aliran masuk bersih hampir US$97 juta dalam tiga hari pertama pekan ini, melebihi total seluruh pekan lalu. Hampir seluruh dana masuk ke produk BlackRock. Namun, aliran dana besar itu tidak mampu menopang harga saat sentimen pasar chip berbalik negatif.

Meja OTC Wintermute menilai minggu ini sebagai "konsolidasi di bawah resistensi, bukan pelanjutan tren naik". Volume spot justru mengecil saat harga mendekati puncak, bukan membesar — tanda klasik kelemahan momentum. Metrik on-chain dari Glassnode juga belum mengonfirmasi pembalikan tren, sementara Indeks Fear and Greed stagnan di 25, zona ketakutan ekstrem.

Di sisi lain, minyak bergerak berlawanan arah dengan hampir semua aset risiko. Brent naik ke US$85 per barel, catat kenaikan mingguan 12 persen — terbesar sejak April. Escalasi konflik di Timur Tengah sudah memasuki hari kelima serangan AS ke Iran, dan lalu lintas tanker di Selat Hormuz mulai menipis. Lonjakan energi ini menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi yang baru saja mereda usai data CPI AS hari Selasa.

Bagi pasar Indonesia, korelasi kripto dengan saham semikonduktor global menegaskan bahwa aset digital tidak lagi bergerak dalam gelembung terisolasi. Ketika investor global mengurangi risiko pada sektor teknologi keras, kripto ikut tersapu. Hal ini relevan mengingat indeks saham teknologi lokal seperti PT Telkom dan emiten data center juga sensitif terhadap siklus capex chip global.

Para trader di bursa kripto domestik seperti Indodax dan Tokocrypto perlu memperhatikan spread funding rate dan open interest yang mulai menyempit — indikator spekulasi leverage berkurang. Jika korelasi dengan ekuitas Asia tetap tinggi, koreksi bisa meluas ke level dukungan berikutnya Ether di US$1.800 dan Bitcoin di US$62.000.

Kebijakan moneter Bank Indonesia yang relatif stabil menjadi penyeimbang. Berbeda dengan Fed yang masih berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama akibat tekanan inflasi minyak, BI memiliki ruang manuver lebih lega. Ini bisa membuat aset rupiah dan obligasi domestik lebih menarik dibanding kripto jangka pendek.

Ke depan, mata pasar akan tertuju pada laporan pendapatan TSMC dan panduan kuartal depan. Jika panduan pendapatan menunjukkan perlambatan permintaan AI, tekanan jual pada kripto kemungkinan berlanjut. Sebaliknya, jika aliran ETF Ether tetap masif saat harga turun, itu sinyal akumulasi institusional yang bisa jadi fondasi rebound saat sentimen makro membaik.

Mengapa Ini Penting

Koreksi ini membuktikan kripto kini berkorelasi erat dengan siklus capex semikonduktor global, bukan lagi narasi terpisah. Bagi investor Indonesia, ini berarti analisis fundamental harus mencakup laporan pendapatan TSMC dan Nvidia, bukan hanya metrik on-chain. Lonjakan minyak akibat geopolitik Timur Tengah menambah risiko stagflasi yang bisa memaksa Fed menahan suku bunga tinggi — tekanan jangka panjang bagi aset risiko termasuk kripto. Paralelnya, aliran masuk ETF Ether yang masif saat harga turun sinyal akumulasi institusional, peluang entry bagi yang punya horizon menengah.

Sumber Asli
CoinDesk
Tanggal
17 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit