W3 & Crypto

ETF Bitcoin dan Ether Catat Arus Masuk setelah Inflasi AS Melandai

Ringkasan

  • Aset ETF spot bitcoin dan ether di AS mencatat arus masuk bersih pada Selasa setelah data inflasi AS melandai, memicu optimisme pasar kripto global.

Dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) spot bitcoin di Amerika Serikat menyerap sekitar 181 juta dolar pada perdagangan Selasa. Jumlah tersebut membalikkan outflow senilai 425 juta dolar yang terjadi sehari sebelumnya. Di sisi lain, ETF ether juga membukukan arus masuk bersih sebesar 58 juta dolar.

Penguatan tersebut sejalan dengan reli harga aset kripto utama. Bitcoin diperdagangkan di level 64.800 dolar, naik 2,1 persen dalam 24 jam terakhir. Ether bahkan melesat lebih tinggi mengikuti jejak produk ETF-nya. BlackRock melalui IBIT mendominasi hampir seluruh arus masuk bitcoin dengan raupan 139 juta dolar, sementara FBTC dari Fidelity menambah 21 juta dolar. Tidak ada satupun dana bitcoin yang mencatat kerugian pada sesi tersebut.

Latar belakang menguatnya minat investor terhadap aset digital ini tidak lepas dari data ekonomi makro AS yang mengejutkan pasar. Indeks Harga Produsen (PPI) Juni tercatat turun 0,3 persen, berbanding terbalik dengan prediksi yang memperkirakan angka datar, serta melawan tren kenaikan 0,6 persen pada Mei. PPI inti yang mengecualikan harga pangan dan energi hanya naik 0,2 persen.

John Williams, Presiden Federal Reserve New York, memberikan pernyataan yang semakin meredakan kecemasan. Ia menegaskan bahwa inflasi AS telah mencapai puncaknya dan diproyeksikan melandai menuju target 2 persen pada 2028. Pernyataan dovish itu muncul bersamaan dengan data PPI yang lunak, sehingga mendorong bitcoin kembali menembus level psikologis 65.000 dolar untuk pertama kalinya dalam beberapa pekan.

Imbasnya terasa pada instrumen keuangan lain. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun turun ke 4,58 persen dari 4,61 persen. Nasdaq 100 futures menguat 0,5 persen. Kevin Hassett, penasihat ekonomi utama Gedung Putih, menambahkan bahwa data terbaru tidak memberikan justifikasi bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga. Ia mengklaim telah berbicara dengan Ketua The Fed, Kevin Warsh, mengenai arah kebijakan moneter yang tepat.

Bagi pembaca dan pelaku industri teknologi keuangan di Indonesia, geliat ETF kripto global ini menjadi barometer psikologis yang kuat. Meskipun Bappebti dan OJK belum mengizinkan kehadiran ETF kripto domestik, sentimen arus masuk dana institusional AS kerap menjadi acuan trader ritel lokal dalam menentukan posisi. Minat spekulatif yang kembali mengalir ke bitcoin dan ether menunjukkan bahwa aset berisiko tinggi kembali dicari setelah tren momentum saham teknologi (AI) babak belur di Juli.

Terkait tokenisasi aset, langkah Depository Trust & Clearing Corp (DTCC) yang mengonversi saham dan Treasury menjadi token digital patut dicermati. Uji coba yang melibatkan hampir 40 pemain tradfi seperti Goldman Sachs, BlackRock, dan JPMorgan ini memasukkan aset seperti Microsoft dan SPDR SPY. Di Indonesia, arah serupa mulai terlihat dari rencana pengembangan pasar modal digital dan diskusi mengenai tokenisasi surat berharga oleh lembaga kliring, meski masih dalam tahap awal.

Kabar akuisisi PayPal oleh Stripe dan Advent senilai 53 miliar dolar juga relevan dengan ekosistem pembayaran Tanah Air. PayPal melalui PYUSD memiliki kapitalisasi pasar stabilcoin 2,8 miliar dolar. Penggabungan dua raksasa pembayaran yang ekspansif di arena stablecoin ini akan mempercepat adopsi settlement berbasis blockchain, sebuah tren yang juga diantisipasi Bank Indonesia melalui pengembangan Rupiah Digital.

Tidak semua kabar di komunitas bitcoin berbau positif. Michael Saylor, Executive Chairman Strategy, menyerang proposal BIP 110 melalui cuitannya. Ia menyebut rancangan tersebut sebagai "Bitcoin Iatrogenic Proposal" atau usulan yang berpotensi merugikan ekosistem itu sendiri akibat efek samping dari penanganannya. Cuitan itu memicu perdebatan sengit dengan pendukung BIP 110 seperti Matthew Kratter dan Luke Dashjr mengenai arah masa depan protokol bitcoin.

Williams sebelumnya menyatakan dalam pidatonya, "Ada alasan yang meyakinkan untuk memperkirakan bahwa inflasi telah mencapai puncak dan harus turun perlahan pada kuartal-kuartal mendatang." Keyakinan tersebut menjadi pijakan bagi pelaku pasar bahwa likuiditas tidak akan seketat tahun lalu.

Menyongsong akhir Juli, pola arus masuk ETF kripto diprediksi masih akan berombak. Data menunjukkan aliran dana bergantian antara masuk dan keluar hampir setiap dua sesi, dengan rebounds Selasa menjadi inflow terbesar kedua setelah pencabutan dana 13 Juli. Total aset ETF bitcoin merangkak naik ke 78 miliar dolar, sedangkan ether menembus 10 miliar dolar.

Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa jika The Fed benar-benar mulai memangkas suku bunga sesuai jalur yang digariskan Williams, aliran modal spekulatif ke aset kripto berpotensi membesar. Tokenisasi institusional ala DTCC dan konsolidasi raksasa pembayaran global akan semakin mengaburkan batas antara keuangan tradisional dan dunia terdesentralisasi, membuka babak baru bagi adopsi blockchain secara masif.

Mengapa Ini Penting

Melambatnya inflasi AS dan masuknya dana institusional ke ETF kripto menandakan pergeseran rezim moneter global yang akan memengaruhi harga aset berisiko di pasar Indonesia. Tokenisasi surat berharga oleh DTCC memberikan blueprint konkret bagi percepatan digitalisasi pasar modal domestik yang digagas OJK dan BI. Konsolidasi raksasa pembayaran seperti PayPal dan Stripe di ranah stabilcoin juga akan mempercepat urgensi regulasi Rupiah Digital agar tidak ketinggalan zaman. Fenomena ini membuktikan bahwa adopsi blockchain oleh institusi tradisional bukan lagi wacana, melainkan ancaman kompetitif sekaligus peluang integrasi bagi ekosistem fintech lokal.

Sumber Asli
CoinDesk
Tanggal
15 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit