Dana yang dikelola oleh exchange-traded fund (ETF) spot bitcoin di Amerika Serikat mencatat arus masuk bersih sebesar 181 juta dolar AS pada perdagangan Selasa. Capaian tersebut membalikkan kondisi sehari sebelumnya yang mengalami penarikan dana hingga 425 juta dolar AS. Di sisi lain, ETF spot ether juga berhasil menyerap modal segar sekitar 58 juta dolar AS.
Kondisi ini sejalan dengan penguatan harga aset kripto utama. Bitcoin sempat menyentuh level 65.000 dolar AS untuk pertama kalinya dalam beberapa pekan terakhir, sebelum ditutup menguat 2,1 persen di posisi 64.800 dolar AS dalam 24 jam. Ether pun mencatatkan kenaikan yang lebih impresif dengan lonjakan harga mendekati 6 persen pada sesi tersebut.
Pelemahan data inflasi di AS menjadi katalis utama di balik optimisme pasar. John Williams, Presiden Federal Reserve Bank of New York (FRBNY), menyampaikan pidato pada Rabu pagi waktu setempat yang menyatakan bahwa inflasi telah mencapai puncaknya. Pernyataan dovish tersebut muncul bersamaan dengan rilis data Producer Price Index (PPI) Juni yang lebih rendah dari perkiraan, di mana PPI turun 0,3 persen dibandingkan ekspektasi pasar yang stagnan.
Tekanan harga yang mereda langsung memicu spekulasi bahwa bank sentral tidak akan menaikkan suku bunga acuan. Kevin Hassett, Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih, menegaskan bahwa data terbaru tidak memberikan justifikasi bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun pun langsung turun ke level 4,58 persen dari sebelumnya 4,61 persen.
Sementara itu, institusi keuangan tradisional mulai menunjukkan eksperimentasi serius dengan teknologi blockchain. Depository Trust & Clearing Corp (DTCC) meluncurkan proyek percontohan tokenisasi aset yang melibatkan hampir 40 pemain keuangan konvensional, termasuk Goldman Sachs, BlackRock, JPMorgan, dan Vanguard. Sekelompok saham dan surat utang Treasury akan diubah menjadi token digital, mencakup saham Microsoft, Circle, hingga ETF Treasury iShares.
Bagi ekosistem kripto global, berita ini mengonfirmasi bahwa adopsi aset digital tidak lagi sekadar didorong oleh investor ritel spekulatif. Masuknya institusi berkaliber raksasa ke dalam mekanisme tokenisasi menunjukkan bahwa infrastruktur keuangan masa depan mulai dibangun di atas fondasi ledger terdistribusi. Hal ini memberikan angin segar bagi pergerakan modal yang sempat keluar dari pasar kripto akibat pembersihan posisi momentum trading pada awal Juli.
Dampak dari pergerakan ETF di AS ini terasa secara tidak langsung bagi investor kripto di Indonesia. Meskipun Bappebti belum mengizinkan peluncuran ETF berbasis aset kripto di dalam negeri, sentimen harga global selalu menjadi acuan utama bagi perdagangan aset digital di platform lokal. Penguatan bitcoin dan ether secara global berpotensi mendongkrak volume transaksi di bursa kripto domestik yang tengah berupaya bangkit pasca-pengetatan regulasi.
Selain itu, akuisisi yang direncanakan oleh Stripe dan Advent International terhadap PayPal senilai 53 miliar dolar AS juga layak dicermati. Penggabungan dua raksasa pembayaran yang sama-sama ekspansif di bidang stablecoin ini akan mempercepat adopsi settlement berbasis blockchain. PayPal melalui PYUSD memiliki kapitalisasi pasar 2,8 miliar dolar AS, sebuah angka yang mengintimidasi dibandingkan ekosistem stablecoin lokal di Tanah Air yang masih terfragmentasi.
"Terdapat alasan yang meyakinkan untuk memperkirakan bahwa inflasi telah mencapai puncaknya dan seharusnya melandai pada kuartal-kuartal mendatang," ujar Williams. Ia memproyeksikan inflasi keseluruhan akan turun ke kisaran 3,25 persen pada akhir tahun, lalu mencapai target 2 persen pada 2028.
Pandangan berbeda justru muncul dari internal komunitas pengembang bitcoin. Michael Saylor, Chairman Eksekutif Strategy, menyoroti proposal BIP 110 sebagai langkah yang berbahaya bagi jaringan. Proposal tersebut memicu perdebatan sengit dengan sejumlah pendukungnya seperti Matthew Kratter dan Luke Dashjr mengenai arah masa depan protokol bitcoin.
Menyongsong sisa bulan Juli, arus kas ETF diprediksi akan tetap berfluktuasi tajam. Data menunjukkan bahwa sepanjang bulan ini, ETF bitcoin berpindah antara arus masuk dan keluar hampir setiap dua sesi perdagangan. Bitcoin sendiri telah menguat sekitar 10 persen dan ether melesat 20 persen sejak awal Juli, membalikkan posisi terendah siklus yang sempat terbentuk.
BlackRock melalui produk IBIT menjadi pendorong utama dengan menyerap 139 juta dolar AS, sementara Fidelity FBTC menambah 21 juta dolar AS. Total aset ETF bitcoin merangkak naik ke 78 miliar dolar AS. Ke depannya, stabilitas data makroekonomi AS akan menjadi penentu apakah institusi terus mempertahankan posisi atau kembali melakukan aksi jual dalam waktu dekat.