Sebuah dompet bitcoin yang tidak aktif sejak akhir 2017 tiba-tiba memindahkan seluruh saldo 5.908 BTC pada Kamis pekan ini, dengan nilai sekitar 383 juta dolar AS atau setara Rp6,2 triliun. Koin tersebut dipindahkan ke alamat baru yang belum teridentifikasi, bukan ke platform bursa, sehingga belum menunjukkan tanda penjualan langsung di pasar terbuka.
Data on-chain menunjukkan dompet tersebut mengakumulasi bitcoin ketika harga berada di kisaran 16.000 dolar AS per keping, tepat saat pasar mendekati puncak siklus akhir 2017 hingga awal 2018. Modal awal yang ditanamkan mencapai kurang lebih 100 juta dolar AS. Kini posisi itu meraih keuntungan sekitar 284 persen meski sempat berada di bawah harga beli saat krisis 2022.
Pergerakan ini menarik karena waktu pembeliannya sangat tidak lazim. Setelah memuncak dekat 20.000 dolar AS, bitcoin anjlok hampir 80 persen sepanjang 2018 ke level 3.200 dolar AS. Dompet itu tetap tertidur saat aset naik ke 69.000 dolar AS pada 2021, lalu jatuh ke 15.500 dolar AS pada November 2022 yang membuat posisinya sesaat rugi. Pemiliknya tidak bergeming.
Pada Oktober 2025, nilai tumpukan tersebut sempat menyentuh 726 juta dolar AS saat bitcoin mencatat rekor tertinggi sepanjang masa. Tahun lalu, ketika harga menembus 122.000 dolar AS, dompet itu kembali diam padahal nilainya sudah tujuh kali lipat dari modal awal. Kini bitcoin berada di kisaran 64.800 dolar AS, separuh dari puncak 2025, dan barulah saldo dipindahkan.
Arah tujuan koin jauh lebih penting daripada fakta perpindahannya. Pelacakan menunjukkan aset mendarat di alamat tak bernama yang bukan milik bursa seperti Coinbase atau Binance. Pola tersebut umum digunakan pemegang besar untuk mengganti sistem penitipan, rotasi kunci privat, penyelesaian warisan, atau menyiapkan transaksi di luar bursa yang tidak menyentuh buku pesanan publik.
Jika koin dikirim ke alamat deposit bursa, itu baru menjadi sinyal kuat akan adanya aksi lepas posisi. Sampai saat ini, tidak ada bukti penjualan telah terjadi. Hal itu membedakan kasus ini dari kelompok investor jangka panjang yang membeli di harga tinggi tahun lalu dan justru menjual rugi saat rebound, sebagaimana data Glassnode yang dirilis pagi hari yang sama.
Bagi industri kripto global, peristiwa ini mengingatkan bahwa pasokan bitcoin yang selama bertahun-tahun dikunci bisa kembali bergerak tanpa peringatan. Sentimen pasar kerap terpengaruh oleh kekhawatiran atas dompet paus yang bangun tiba-tiba. Namun karena tujuannya bukan bursa, tekanan jual langsung belum muncul.
Dari perspektif Indonesia, tingkah laku dompet tua ini relevan mengingat masyarakat lokal termasuk pengguna aktif aset digital. Bursa kripto dalam negeri mencatat jutaan pelanggan, dan mayoritas masih menyimpan aset di dompet pihak ketiga. Pergerakan senilai triliunan rupiah di luar negeri sering memicu volatilitas yang menjangkau harga di aplikasi lokal dalam hitungan jam.
Pengamat pasar kripto menilai pemindahan tanpa penjualan justru menunjukkan kedewasaan manajemen aset oleh pemegang lama. Mereka tidak panik saat pasar merah, dan tidak tergoda saat harga meledak. Strategi diam delapan tahun menghindarkan posisi dari pajak transaksi dan risiko likuidasi paksa.
Ke depan, pelaku pasar akan memantau apakah alamat baru itu kelak menyambung ke bursa. Jika ya, suplai 5.908 BTC bisa menekan harga regional. Sebaliknya, apabila tetap di luar ekosistem perdagangan publik, pasar cukup menganggapnya sebagai rotasi kepemilikan biasa.
Tren dompet dorman yang kembali aktif diprediksi bertambah seiring harga bitcoin stabil di kisaran enam puluhan ribu dolar. Pemilik lama mulai menata ulang keamanan aset menjelang siklus berikutnya. Bagi investor ritel Indonesia, momentum ini menguatkan pentingnya penyimpanan mandiri dan pemahaman on-chain sebagai tameng dari gejolak yang tidak terduga.