Apple TV+ kembali menayangkan musim kedua serial sci-fi andalan, Dark Matter, yang ternyata semakin memicu kebingungan penonton lewat kompleksitas multiverse-nya. Berbasis pada novel bestseller Blake Crouch, serial ini mengikuti Jason Dessen, seorang fisikawan di Chicago, yang terjebak dalam perangkap realitas paralel setelah versi alternatif dirinya mencuri kehidupannya.
Pada musim pertama, Jason berhasil kembali ke dunianya namun akhirnya memilih untuk membawa keluarganya—istri Daniela dan anaknya Charlie—masuk ke dalam 'kotak' yang dapat membuka pintu ke alam semesta lain. Mereka berusaha mencari dunia baru untuk hidup dengan damai, namun tak lama mereka menyadari bahwa setiap pilihan membawa konsekuensi yang tidak terduga.
Musim kedua menggali lebih dalam mekanisme kotak tersebut. Ternyata, tujuan perjalanan antar-dunia dipengaruhi oleh keadaan mental pengguna. Jika seorang pengguna merasa cemas atau stres, kemungkinan besar mereka akan tiba di dunia pasca-apokalipsis. Inovasi naratif ini memungkinkan penayang untuk menjelajahi berbagai tema eksistensial, seperti identitas, pilihan hidup, dan konsekuensi setiap keputusan.
Serial ini juga menampilkan episode yang tidak terkait langsung dengan alur utama, seperti kisah hidup seorang Jason lain yang memilih untuk tinggal di dunia yang tenang dan damai. Episode semacam ini memberi ruang bagi penonton untuk merasakan dampak emosional dari teknologi yang tak terkendali.
Namun, kompleksitas cerita juga menjadi kelemahan. Banyaknya varian karakter—termasuk Jason, Daniela, Charlie, hingga teman-teman seperti Ryan dan Amanda—seringkali membuat penonton kesulitan membedakan siapa yang sedang ditampilkan. Bahkan, Jason dan Daniela pun di satu momen saja saling memberi tatu untuk memastikan identitas masing-masing.
Apple tidak memberikan komentar resmi terkait keputusan kreatif musim ini. Namun, pihak produksi sempat menyatakan bahwa mereka ingin mengeksplorasi lebih jauh potensi filosofis di balik konsep multiverse. "Kami ingin penonton merasakan betapa kompleknya setiap pilihan," ujar salah satu produser eksekutif secara anonim.
Bagi pasar Indonesia, eksistensi Dark Matter menandakan minat global yang terus tumbuh terhadap konten lokal berkualitas tinggi. Platform streaming seperti Apple TV+ terus menguasai pasar dengan menawarkan cerita yang eksperimental dan berbasis teknologi. Meski belum ada regulasi khusus untuk konten asing di Indonesia, popularitas serial semacam ini mungkin akan mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan kebijakan yang lebih inklusif bagi industri kreatif lokal.
Di sisi lain, industri lokal Indonesia masih berusaha menyaingi produk-produk asing yang didanai besar. Serial-seral asing dengan anggaran besar dan dukungan teknologi canggih sulit untuk ditiru secara langsung oleh pembuat konten lokal yang lebih kecil.
Namun, ada peluang. Konsep multiverse dan realitas paralel memiliki daya tarik universal. Jika diadaptasi dengan baik, cerita serupa bisa dikembangkan menggunakan latar belakang budaya lokal, sehingga lebih relatable bagi penikmat lokal.
Apple TV+ belum memberi konfirmasi resmi mengenai musim ketiga. Namun, mengingat respons positif dari kritikus dan penonton, kemungkinan besar proyek lanjutan akan terus dipertimbangkan.
Bagi pembuat konten Indonesia, Dark Matter bisa menjadi studi kasus bagaimana menyampaikan ide besar tanpa harus mengorbankan keterlibatan emosional penonton. Keseimbangan antara inovasi teknis dan narasi yang manusiawi adalah kunci agar cerita dapat menembra batas budaya dan geografi.
Dengan semakin matanya teknologi, serial seperti ini tidak hanya hiburan, tetapi juga cerminan dari bagaimana kita memandang pilihan, identitas, dan realitas di tengah perubahan zaman.
Dark Matter musim 2 tayang secara eksklusif di Apple TV+ mulai 28 Agustus 2024.