Pengembang aplikasi Ethereum saat ini bergantung pada penyedia RPC untuk berkomunikasi dengan blockchain tanpa menjalankan node sendiri. RPC (remote procedure call) memungkinkan permintaan seperti pengecekan saldo, pengiriman transaksi, atau pengambilan blok dilakukan secara remote, menghemat biaya dan kompleksitas.
Penyedia RPC tersentralisasi seperti Alchemy, Infura, dan QuickNode mendominasi pasar, tetapi memiliki kelemahan struktural: kurangnya transparansi dan kekuatan penetapan harga yang tinggi. Pengguna tidak dapat memverifikasi kebenaran data secara independen, dan biaya sering kali mencerminkan ekonomi oligopoli daripada biaya marginal sebenarnya.
Blockmachine muncul sebagai alternatif dengan konsep pasar kompetitif di mana operator node independen (termasuk penambang) berlomba memberikan layanan untuk setiap permintaan. Arsitektur ini dirancang untuk mengatasi empat tekanan utama yang tidak terlihat dalam uji coba cepat: kebenaran di bawah beban, latensi saat kemacetan, cakupan metode lengkap, dan biaya transparan.
Untuk menjamin kebenaran, Blockmachine menerapkan verifikasi dua lapis. Verifikasi kriptografis real-time meminta bukti dari node untuk pembacaan penyimpanan yang dapat diekspresikan sebagai trie lookup, lalu mencocokkannya dengan state root yang terpercaya sebelum data sampai ke aplikasi. Jika bukti gagal, respons ditolak dan operator yang bersalah dikeluarkan.
Verifikasi deterministik pasca-eksploitasi melengkapi proses tersebut. Validator independen menjalankan ulang sampel permintaan terhadap infrastruktur referensi dan membandingkan hasilnya. Ketidakcocokan yang terkonfirmasi berakibat pada ban permanen tanpa kesempatan kedua, sebuah jaminan yang tidak ditawarkan oleh penyedia RPC tersentralisasi mana pun.
Model biaya Blockmachine juga berbeda. Alih-alih paket dengan aturan overage yang tidak jelas, jaringan menggunakan unit normalisasi yang mencerminkan biaya aktual penyediaan permintaan. Hal ini menghilangkan “tagihan kejutan” saat lalu lintas meningkat, sebuah masalah umum bagi startup yang bergantung pada penyedia tersentralisasi.
Dari sudut pandang pengembang di Indonesia, solusi seperti Blockmachine dapat mengurangi ketergantungan pada penyedia asing yang mungkin memiliki latensi lebih tinggi dan transparansi biaya yang terbatas. Banyak proyek Web3 lokal, seperti platform pinjaman DeFi yang berbasis di Jakarta atau inkubator blockchain di Bali, saat ini menggunakan layanan Alchemy atau Infura karena kemudahan penggunaannya, tetapi mereka sering menghadapi peningkatan biaya saat acara minting NFT atau likwidasi.
Ketika sebuah aplikasi menjadi kritis secara komersial—misalnya, platform DEX yang menangani volume perdagangan tinggi—latensi dan uptime menjadi sangat penting. Jaringan RPC terdistribusi dapat memberikan redundansi geografis yang lebih baik, mengurangi risiko satu titik kegagalan yang dapat menjatuhkan seluruh layanan karena perubahan kebijakan atau pemadaman di pusat data penyedia.
Di sisi lain, untuk proyek-proyek tahap awal atau alat internal, endpoint RPC bersama dengan kuota rendah masih menjadi pilihan yang praktis. Artikel sumber menekankan bahwa perhitungan ini berubah ketika satu pekerjaan backend mulai mendominasi permintaan, ketika aplikasi berhadapan langsung dengan pengguna, atau ketika akses arsip dan metode trace diperlukan dalam skala besar.
Ke depan, tren menuju verifikasi data on-chain yang dapat dibuktikan dan ekonomi biaya yang transparan kemungkinan akan mendorong lebih banyak pengembang—termasuk di pasar berkembang seperti Indonesia—untuk mempertimbangkan jaringan terdistribusi. Seiring dengan pertumbuhan ekosistem Web3 lokal, permintaan akan infrastruktur yang dapat diaudit dan hemat biaya akan semakin meningkat, sehingga Blockmachine dan platform serupa menjadi pesaing serius bagi penyedia tradisional.