Bitcoin mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Rabu, 15 Juli 2026, dengan nilai yang meroket mendekati level US$64.800. Lonjakan sekitar 3,6 persen dalam sehari ini menjadi sesi terbaik mata uang kripto terbesar itu dalam beberapa pekan terakhir, didorong oleh meredanya tekanan inflasi di Amerika Serikat.
Data yang dirilis menunjukkan inflasi tahunan AS pada Juni turun ke angka 3,5 persen, melambat dari posisi 4,2 persen pada periode sebelumnya. Lebih penting lagi, inflasi inti yang tidak memasukkan harga pangan dan energi juga melonggar ke level 2,6 persen dari sebelumnya 2,9 persen. Penurunan pada komponen inti ini mengindikasikan bahwa pelemahan harga tidak sekadar ditopang oleh energi yang murah.
Merespons data tersebut, peluang implisit bagi kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve anjlok drastis dari 43 persen menjadi hanya 13 persen. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor dua tahun pun turun enam basis poin. Kondisi ini memicu rotasi dana kembali ke aset berisiko di seluruh dunia.
Mekanisme di balik lonjakan ini cukup logis. Ketika bank sentral AS menaikkan suku bunga, instrumen kas dan obligasi mulai menawarkan imbal hasil yang terjamin. Alhasil, investor kehilangan alasan kuat untuk menahan aset yang tidak memberikan bunga dan harganya bisa berayun lima persen dalam sehari. Sebaliknya, inflasi yang lebih dingin memberi The Fed ruang untuk tidak agresif, sehingga tekanan jual mereda dan likuiditas kembali mengalir ke kripto.
Tidak hanya Bitcoin, aset kripto lainnya juga ikut terangkat. Ethereum memimpin dengan kenaikan hampir 5,3 persen ke level US$1.880 dalam sehari, dan menguat 7,1 persen dalam seminggu. Hyperliquid (HYPE) melesat 6,4 persen ke US$67, XRP naik 3,7 persen ke US$1,10, serta Solana menguat 3,6 persen ke US$78. Dogecoin dan BNB masing-masing mencatatkan kenaikan 2,9 persen dan 1,9 persen.
Sentimen positif serupa juga menyebar ke pasar saham global. Indeks MSCI Asia Pasifik melompat 2,3 persen, menjadi penguatan bulanan terbesarnya, dengan sektor teknologi memimpin. Indeks Kospi Korea Selatan bahkan meroket 8,2 persen dan kembali menjadi benchmark dengan kinerja terbaik di dunia tahun ini, disusul lonjakan saham SK Hynix sebesar 13 persen di Seoul.
Bagi ekosistem kripto di Indonesia, reli global ini memiliki dampak langsung. Harga Bitcoin di sejumlah bursa lokal seperti Indodax dan Pintu otomatis terkerek naik mengikuti pasar internasional. Mengingat nilai tukar rupiah yang kerap berfluktuasi, kenaikan harga aset dollar-denominasi seperti Bitcoin sering dimanfaatkan oleh investor domestik sebagai pelarian alternatif dari depresiasi mata uang dan inflasi pangan dalam negeri.
Namun, masyarakat perlu menyadari bahwa regulasi aset kripto di Tanah Air masih berada di bawah pengawasan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) yang kini dalam masa transisi pengalihan ke OJK. Statusnya sebagai komoditas, bukan alat pembayaran, membuat volatilitas eksternal seperti kebijakan The Fed menjadi faktor penentu tunggal yang sulit dikendalikan oleh pembuat kebijakan lokal.
Jeff Ko, Kepala Analis di CoinEx, menegaskan bahwa Bitcoin saat ini masih berposisi sebagai aset berisiko yang sangat peka terhadap suku bunga, bukan sekadar lindung nilai makro. Menurutnya, data terbaru ini memang mengurangi tekanan penurunan (downside pressure) dalam jangka pendek, namun belum cukup untuk membangun terobosan (breakout) yang berkelanjutan.
Ko menambahkan, inflasi inti di level 2,6 persen masih berada di atas target 2 persen milik The Fed. Artinya, angka terbaru hanya memberi bank sentral ruang untuk menahan suku bunga, bukan alasan untuk memangkasnya. Ia menyoroti pertemuan FOMC September mendatang sebagai ujian makro sesungguhnya, bersama arah pergerakan dolar AS dan keberlanjutan arus masuk (inflows) ke ETF Bitcoin.
Ke depan, tantangan utama bagi Bitcoin adalah mempertahankan momentum di atas level psikologis US$60.000 sembari membuktikan bahwa dana masuk ke ETF spot dapat bertahan lama. Jika The Fed memberikan sinyal pemotongan suku bunga lebih awal tahun depan, pintu bagi ekspansi harga yang lebih luas akan terbuka lebar.
Di sisi lain, risiko eksternal seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah tetap mengintai. Harga minyak Brent sudah naik 1 persen ke atas US$85 per barel setelah ancaman serangan terhadap Iran, membuat biaya energi global berpotensi kembali memicu inflasi. Dinamika ini akan terus menjadi variabel krusial yang menguji ketahanan pasar kripto global dan domestik di kuartal mendatang.