Harga Bitcoin turun ke level $64.000 pada hari Rabu, setelah sebelumnya menyentuh rekor tertinggi bulanan di $65.500. Penurunan ini dipicu oleh aksi ambil untung para trader dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama serangan Iran terhadap pangkalan militer Amerika di wilayah Teluk. Kedua faktor tersebut memicu penjualan besar‑besaran di seluruh pasar kripto.
Tren bearish kini mendominasi tidak hanya Bitcoin, tetapi juga mayoritas altcoin. Data volume menunjukkan bahwa order jual pasar (market‑order selling) lebih dominan dibandingkan order limit, yang mencerminkan sentimen negatif yang kuat. Open interest pada kontrak berjangka XRP bahkan mencapai level tertinggi dalam 10 hari terakhir, bersamaan dengan penurunan harga, sebuah pola yang biasanya mengindikasikan peningkatan eksposur bearish.
Di tengah tekanan jual, MORPHO justru mencatatkan kenaikan 3,5% dan berupaya menembus level resistensi $2.20. Sementara itu, memecoin Robinhood Chain, CASHCAT, mengalami penurunan drastis dari nilai pasar $220 juta pada minggu pertama peluncuran menjadi $91 juta saat ini, meskipun volume perdagangan harian masih bertahan di kisaran $60 juta.
Bitcoin dan Ethereum masing-masing melemah 1.1% dan 1.7% sejak tengah malam UTC. Altcoin seperti PUMP dan ZEC juga turun 4.4% setelah reli tajam pada hari sebelumnya, menunjukkan likuiditas yang masih rapuh. Saham teknologi di AS, yang tercermin dalam Nasdaq‑100, juga mengalami penurunan 0.25%, melanjutkan tren turun yang telah berlangsung selama 30 hari.
Salah satu katalis utama di balik pergerakan harga di semua kelas aset adalah eskalasi konflik di Timur Tengah. Serangan Iran terhadap pangkalan AS di negara‑negara Teluk pada Kamis lalu, ditambah serangkaian serangan balik AS, menciptakan ketidakpastian yang mendorong investor menuju aset yang lebih aman.
Dari sisi derivatif, open interest Ether (ETH) turun ke level 14.35 juta ETH dari puncak lima minggu sebelumnya, yang mengindikasikan bahwa aksi take‑profit lebih dominan daripada pembukaan posisi short baru. Sementara itu, open interest XRP melonjak ke 2.21 miliar XRP di tengah penurunan harga spot sebesar 0.6%, sebuah kombinasi yang dianggap sebagai sinyal bearish, meskipun suku bunga pendanaan XRP masih positif. SUI, token asli blockchain Sui, juga mencatat kenaikan open interest sebesar 15%, meskipun harganya turun hampir 2% dalam 24 jam terakhir.
Secara umum, sebagian besar koin—kecuali BTC, ETH, dan XMR—mencatatkan cumulative volume delta (CVD) negatif dalam 24 jam terakhir, yang menegaskan bahwa bear masih mengendalikan pasar. Indeks volatilitas tersirat Bitcoin selama 30 hari naik 2% ke level 38%, dan secara historis level di bawah 40% sering kali mendahului turbulensi pasar baru.
Di pasar opsi, terjadi kenaikan volume dan open interest yang signifikan pada call BTC dengan strike $70.000 dan $72.000, yang kemungkinan merupakan bagian dari bull call spread besar yang dieksekusi baru‑baru ini. Strategi ini mencerminkan keyakinan bahwa harga akan naik ke $72.000 sebelum akhir Juli. Sementara itu, call ETH dengan strike $2.300 untuk expiry akhir Juli menjadi instrumen paling aktif diperdagangkan dalam 24 jam terakhir.
Dari perspektif Indonesia, pergerakan harga Bitcoin ini mendapat perhatian besar karena pasar kripto di dalam negeri terus tumbuh, dengan volume perdagangan harian mencapai miliaran dolar melalui platform seperti Tokocrypto, Indodax, dan Zipmex. Penurunan tajam di pasar global biasanya berdampak pada sentimen investor ritel Indonesia, yang sebagian besar merupakan trader jangka pendek. Selain itu, OJK (Otoritas Jasa Keuangan) sedang mempertimbangkan regulasi baru yang lebih ketat terkait aset kripto, sehingga fluktuasi harga seperti ini dapat memicu pembahasan kebijakan yang lebih lanjut.
Para analis di Indonesia memperingatkan bahwa investor lokal perlu mewaspadai risiko leverage tinggi yang melekat pada perdagangan derivatif, terutama ketika pasar global mengalami tren bearish. Mereka juga menyarankan diversifikasi portofolio dan penggunaan stop‑loss untuk membatasi kerugian.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada data inflasi AS dan keputusan kebijakan moneter Federal Reserve yang akan dirilis minggu depan. Jika data menunjukkan tekanan inflasi yang menurun, sentimen bullish mungkin akan kembali muncul, sementara hasil yang mengecewakan dapat memperpanjang tren bearish saat ini.
Bagi Indonesia, perkembangan ini juga menjadi pengingat akan pentingnya literasi kripto yang lebih baik di kalangan masyarakat. Dengan potensi adopsi blockchain yang semakin luas—terutama dalam sektor keuangan, logistik, dan pemerintahan—fluktuasi harga yang tajam dapat memengaruhi kepercayaan investor domestik dan menghambat pertumbuhan ekosistem kripto lokal.
Secara keseluruhan, penurunan Bitcoin ke $64.000 mencerminkan dinamika pasar yang masih rapuh di tengah ketidakpastian geopolitik dan teknis. Investor di Indonesia, baik profesional maupun pemula, perlu terus memantau perkembangan global dan menyesuaikan strategi investasi mereka sesuai dengan profil risiko masing‑masing.