W3 & Crypto

Bitcoin Anjlok di Bawah 64.000 Dolar Gegara Serangan AS ke Iran

Ringkasan

  • Bitcoin turun ke 63.600 dolar Jumat (17/7/2026) usai serangan AS ke Iran dan tuduhan Trump ke China menekan pasar.

Harga Bitcoin merosot ke level 63.600 dolar pada Jumat (17/7/2026) setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara baru ke wilayah Iran, memicu kecemasan pasar terhadap eskalasi geopolitik global. Penurunan itu diperparah oleh pernyataan Presiden Donald Trump yang menuding China ikut campur dalam pemilu AS, sehingga menekan sentimen risiko di berbagai instrumen aset.

Mata uang kripto dengan kapitalisasi terbesar di dunia itu melanjutkan tren pelemahan setelah sebelumnya turun 1,4 persen dari posisi 65.000 dolar pada Kamis. Data CoinDesk menunjukkan BTC diperdagangkan tepat di bawah rata-rata bergerak sederhana 50 hari, indikator yang kerap dipakai pelaku pasar untuk membaca momentum jangka pendek. Posisi tersebut mencerminkan tekanan jual yang mulai mendominasi dibandingkan fase konsolidasi awal pekan ini.

Serangan terbaru AS menghantam lima jembatan di Provinsi Hormozgan, Iran selatan, serta menargetkan menara kendali maritim di Chabahar. Fars, kantor berita semi-resmi Iran, mengutip pernyataan pemerintah provinsi setempat terkait rentetan serangan tersebut. Meski demikian, harga minyak mentah WTI relatif stabil di kisaran 79 dolar per barel, mengabaikan ketegangan yang biasanya mendongkrak komoditas energi.

Kondisi itu berbeda dengan reaksi pasar saham Asia yang langsung melemah. Indeks Nikkei Jepang anjlok hampir 3 persen ke level terendah dalam lebih dari sebulan. Di Australia, ASX 200 turun 0,5 persen seiring kontrak berjangka Nasdaq yang kehilangan 0,8 persen. Indeks teknologi Wall Street memang sudah terkoreksi lebih dari 1,6 persen pada sesi Kamis.

Trump mendeklasifikasi laporan intelijen yang menyebut China mengambil 220 juta data pemilih AS. Ia menyebut tindakan Beijing sebagai ancaman besar bagi demokrasi negara itu. Kedutaan China membantah keras tuduhan tersebut. Isu ini muncul hanya beberapa pekan sebelum rencana pertemuan Trump dengan Presiden Xi Jinping pada September mendatang.

Bagi pembaca dan pelaku industri di Indonesia, guncangan pada aset kripto global seperti Bitcoin bukan sekadar berita luar negeri. Indonesia menempati peringkat atas dalam adopsi aset digital di Asia Tenggara, dengan ribuan investor ritel yang menyimpan BTC melalui platform lokal seperti Pintu, Tokocrypto, dan Indodax. Ketika harga Bitcoin berfluktuasi tajam akibat sentimen eksternal, nilai portofolio mereka ikut tergerus dalam hitungan jam.

Bank Indonesia dan OJK sejauh ini memang tidak mengakui kripto sebagai alat bayar, namun perdagangan aset digital legal melalui bursa berizin. Volatilitas yang dipicu perang dan politik luar negeri AS menunjukkan betapa rentannya investor domestik terhadap keputusan negara lain. Dampaknya meluas ke likuiditas platform lokal yang biasanya meningkat saat terjadi panik selling.

Eamonn Sheridan, Kepala Analis Mata Uang Asia-Pasifik di InvestingLive, menilai manuver Trump menambah gesekan baru dalam hubungan Washington dan Beijing. "Keputusan Trump melontarkan tuduhan luas kepada Beijing beberapa pekan jelang pertemuan memperkenalkan risiko friksi ke dalam hubungan yang sedang stabil," ujar Sheridan dalam catatan pasar. Ia menambahkan retorika tersebut berpotensi merusak jalur diplomasi menuju September terlepas dari fakta yang sebenarnya.

Pelemahan dolar Australia menjadi sinyal awal bahwa ketegangan AS-China dapat merembet ke aset berisiko lain, termasuk Bitcoin. Mata uang yang kerap dijadikan proksi terhadap sentimen China itu turun karena kekhawatiran konflik dagang kembali memanas. Pergerakan AUD sering dipakai pelaku pasar sebagai barometer sebelum kripto dan saham emerging market bergerak.

Menjelang akhir pekan, pelaku pasar akan mencermati respons resmi Iran dan langkah balasan diplomatik China. Jika eskalasi militer berlanjut, Bitcoin berpotensi menguji level psikologis 60.000 dolar yang terakhir disentuh saat koreksi besar tahun lalu. Sebaliknya, jika retorika Trump tidak diikuti tindakan konkret, aset kripto dapat rebound mengikuti stabilisasi saham Asia.

Pertemuan September antara Trump dan Xi kini menjadi penentu arah sentimen makro. Investor kripto Indonesia sebaiknya menyiapkan strategi lindung nilai dan menghindari leverage berlebih selama periode ketidakpastian ini. Dinamika geopolitik telah membuktikan dirinya sebagai penggerak utama harga BTC di luar siklus halving dan kebijakan suku bunga bank sentral.

Ketegangan yang membayangi pasar keuangan global mempertegas bahwa Bitcoin belum sepenuhnya lepas dari korrelasi dengan aset risiko konvensional. Lonjakan atau amblesnya harganya kerap mengikuti narasi politik dan keamanan internasional, bukan sekadar adopsi teknologi murni.

Mengapa Ini Penting

Volatilitas Bitcoin akibat geopolitik luar negeri memperlihatkan bahwa regulator dan investor ritel Indonesia belum memiliki pelindung struktural dari guncangan eksternal. Tingginya adopsi kripto domestik membuat stabilitas portofolio warga sangat bergantung pada narasi politik AS dan Timur Tengah. Ke depan, Bappebti perlu mempertimbangkan edukasi manajemen risiko geopolitik dalam kurikulum literasi aset digital. Selain itu, platform lokal wajib menyiapkan infrastruktur likuiditas yang tahan shock agar panic selling tidak merusak ekosistem secara sistemik.

Sumber Asli
CoinDesk
Tanggal
17 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit