Harga Bitcoin turun 1,2% ke level $63.052,72 pada 17 Juli 2026, sementara Ether kehilangan 1,74% seiring meluasnya sentimen risk‑off yang dipicu oleh penjualan saham semikonduktor di Asia hingga Amerika Utara dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Total kapitalisasi pasar kripto menyusut 1,86% menjadi $2,16 triliun, dengan indeks kekuatan relatif (RSI) rata‑rata di 42,23 yang mendekati zona oversold yang memicu reli pada Juli lalu.
Penurunan ini tidak terbatas pada aset kripto saja. Indeks Nasdaq 100 futures anjlok 1,91% dan S&P 500 futures melemah 0,96%, sementara Nikkei 225 Jepang turun 4%. Di sisi lain, Dolar Index (DXY) naik ke 100,75 dan harga emas kembali menembus $4.000, mencerminkan perpindahan dana ke aset aman. Penjualannya berasal dari aksi profit‑taking yang berubah menjadi position‑clearing di saham semikonduktor, seperti diungkapkan Patrick Munnelly dari Tickmill Group, yang menyatakan pasar berakhir pekan dengan dua guncangan: kelelahan AI dan ketegangan Hormuz.
Sektor AI menunjukkan ketahanan terbatas. Token FET dan TAO masing-masing naik 0,20%, meskipun sektor ini kesulitan mempertahankan momentum sejak pertengahan Juni. Di sisi lain, privasi coin ZEC dan DASH masing-masing menguat 1,56% dan 0,78%, mempertahankan kekuatan relatif mereka dalam beberapa pekan terakhir.
Dari sisi teknis, rasio long‑short di pasar futures kripto turun ke 0,94, level terendah sejak 2 Juni, menandakan dominasi bearish. Volume 24 jam turun 4% ke $163 miliar, sementara open interest (OI) stabil di $111 miliar. Bitcoin OI turun ke 747K BTC dari puncaknya 755K BTC kemarin, dengan ETH, XRP, dan SOL juga menunjukkan tren penurunan OI yang ringan. Pengecualian adalah HYPE, yang OI-nya naik hampir 2% bersamaan dengan penurunan harga spot 8%, mengindikasikan pembukaan short baru dan CVD negatif terburuk di antara token utama.
Aktivitas opsi mencerminkan ketakutan akan penurunan lebih lanjut. Put BTC $62.500 menjadi yang paling banyak diperdagangkan, sementara call ETH $2.100 masih dominan, dengan tiga dari lima kontrak ETH teratas adalah put options. Volatilitas implikasi 30 hari BTC dan ETH tetap dekat level terendah baru-baru ini, menunjukkan pasar masih stabil tanpa kepanikan.
Di tengah tekanan, token LIT mengalami kerugian terbesar dengan anjlok 3,55% ke $2,195 setelah reli lebih dari 200% pada Mei–Juli. Altcoin Season Indicator CoinMarketCap rebound ke 53/100, mengindikasikan pelemahan relatif BTC terhadap banyak altcoin.
Bagi pasar Indonesia, penurunan ini terasa moderat. Platform seperti Tokocrypto dan Indodax melaporkan volume trading yang sedikit melemah, namun minat ritel masih tinggi, terutama di token privasi dan AI. Bappebti menyatakan sedang memantau perkembangan global untuk memastikan perlindungan investor dan stabilitas sistem keuangan. Startup AI lokal yang bergantung pada pendanaan eksternal juga mengawasi ketat sentimen pasar, karena kelelahan AI global dapat memengaruhi aliran modal.
“Pasar berakhir pekan dengan dua memar: kelelahan AI dan Hormuz heat,” kata Patrick Munnelly di Tickmill Group. “Selloff semikonduktor telah bergeser dari profit‑taking ke position‑clearing, membawa Asia ke level terburuk dalam berbulan‑bulan.”
Tekanan bearish saat ini memberikan peluang bagi pembeli jika RSI benar‑benar memasuki zona oversold. Secara historis, kondisi tersebut memicu reli singkat, namun kombinasi kelelahan AI dan geopolitik dapat membatasi kenaikan. Investor saat ini lebih memilih untuk melakukan hedging, terlihat dari tingginya aktivitas put options.
Langkah selanjutnya adalah pemantauan ketat terhadap perkembangan geopolitik dan laporan pendapatan sektor semikonduktor. Regulator di Indonesia akan mengevaluasi apakah perlu ada penyesuaian kebijakan untuk melindungi konsumen dan menjaga kepercayaan pasar. Bagi trader, diversifikasi ke token privasi dan altcoin mungkin dapat mengurangi risiko, meskipun volatilitas tetap tinggi hingga ada kejelasan baru.