Harga Bitcoin merosot ke level 63.600 dolar AS pada Jumat, 17 Juli 2026, setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara baru terhadap Iran. Penurunan ini dipicu oleh memburuknya sentimen risiko global menyusul eskalasi geopolitik serta pernyataan Presiden Donald Trump soal dugaan campur tangan China dalam pemilu AS.
Mata uang kripto dengan kapitalisasi terbesar di dunia itu melanjutkan tren turun setelah jatuh 1,4 persen sehari sebelumnya dari posisi 65.000 dolar. Data CoinDesk menunjukkan BTC sempat menyentuh 63.395,05 dolar dan bergerak di bawah rata-rata bergerak sederhana 50 hari, indikator yang kerap dipakai pelaku pasar untuk membaca momentum jangka pendek.
Serangan terbaru AS menargetkan lima jembatan di Provinsi Hormozgan, Iran selatan, seperti dilaporkan kantor berita semi-resmi Fars yang mengutip pernyataan pemerintah provinsi setempat. Sebuah menara kendali maritim di Pelabuhan Chabahar juga terkena serangan rudal. Peristiwa ini memperkeruh situasi Timur Tengah yang sudah tegang sejak tahun-tahun sebelumnya.
Di sisi lain, Trump pada Kamis malam mengumumkan pembukaan dokumen intelijen yang menyebut China mengintervensi pemilu AS 2020. Ia menuduh Beijing menguasai 220 juta data pemilih Amerika dan menyebutnya ancaman serius bagi demokrasi. Kedutaan China langsung membantah tuduhan tersebut.
Ketegangan antara dua ekonomi terbesar dunia itu berimbas ke pasar keuangan regional. Bursa saham Asia kompak melemah, dengan indeks Nikkei Jepang anjlok hampir 3 persen ke level terendah dalam lebih dari sebulan. Indeks ASX 200 Australia turun 0,5 persen, sementara kontrak berjangka Nasdaq kehilangan 0,8 persen menyusul penurunan 1,6 persen di Wall Street sehari sebelumnya.
Dolar Australia, yang dianggap sebagai proksi risiko terhadap China, terdepresiasi terhadap dolar AS. Mata uang tersebut sensitif terhadap komoditas dan sentimen perdagangan dengan Beijing. Kejatuhan AUD mencerminkan kekhawatiran investor akan memanasnya kembali hubungan Washington dan Beijing jelang rencana pertemuan Trump dengan Presiden Xi Jinping pada September.
Bagi pembaca di Indonesia, gejolak ini relevan karena masyarakat lokal semakin aktif berinvestasi aset kripto. Data sejumlah platform lokal menunjukkan lonjakan pengguna BTC dan altcoin dalam dua tahun terakhir. Ketika harga global berfluktuasi tajam akibat isu geopolitik, nilai portofolio investor ritel di Tanah Air ikut tergerus tanpa mereka memiliki instrumen lindung nilai memadai.
Indonesia tidak memiliki eksposur langsung ke konflik Iran, namun pergerakan modal asing keluar masuk pasar emerging sering berkorelasi dengan sentimen risiko global. Rupiah dan saham sektor teknologi bisa tertekan bila investor global memilih aset aman. Hal ini pernah terjadi pada episode konflik geopolitik sebelumnya yang memicu capital outflow dari Asia.
Eamonn Sheridan, Kepala Analis Mata Uang Asia-Pasifik di InvestingLive, menilai tuduhan Trump kepada China menambah friksi baru dalam hubungan yang sedang stabil. "Keputusan Trump melontarkan tuduhan luas kepada Beijing beberapa pekan sebelum pertemuan itu memasukkan sumber risiko gesekan baru ke dalam relasi yang mulai tenang," ujarnya dalam catatan pasar.
Sheridan menambahkan, retorika tersebut berpotensi merusak jalur diplomasi menuju September terlepas dari kebenaran faktanya. Bagi pelaku pasar, sinyal politik kerap cukup untuk mengubah posisi portofolio secara cepat, termasuk pada aset berisiko seperti kripto.
Ke depan, pelaku pasar akan memantau respons Iran dan perkembangan hubungan AS-China menjelang pertemuan puncak September. Jika ketegangan memburuk, Bitcoin dan aset risiko lain berpotensi tertekan lebih dalam. Namun jika diplomatik mereda, BTC dapat mencoba kembali ke level psikologis 65.000 dolar.
Harga minyak WTI relatif stabil di kisaran 79 dolar per barel meski ada serangan baru, sebuah anomali yang menunjukkan pasar energi belum memasukkan risiko pasokan ekstrem. Ketenangan di pasar minyak belum cukup menenangkan pasar kripto yang lebih responsif terhadap narasi politik dan likuiditas global.