CEO Apple, John Ternus, mengakui bahwa raksasa teknologi tersebut belum memiliki jadwal pasti mengenai kapan kendala pasokan iPhone Duo akan berakhir. Perangkat lipat pertama besutan Apple yang diluncurkan bulan lalu dengan harga 1.999 dolar AS ini memang menarik minat pasar yang luar biasa tinggi, namun rantai pasokan justru menjadi penghambat utama di tengah permintaan yang melonjak.
Ternus mengungkapkan bahwa Apple saat ini tengah menghadapi tantangan harga memori yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kondisi ini memaksa perusahaan melakukan penyesuaian harga pada jajaran produk mereka, termasuk pada seri iPhone 18 Pro dan Pro Max. Meski pendapatan iPhone mencapai rekor 57,58 miliar dolar AS pada kuartal keempat tahun 2026, ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan tetap menjadi pekerjaan rumah yang berat.
Masalah pasokan ini diperparah dengan biaya komponen memori yang diprediksi akan terus menanjak pada kuartal Desember. Apple mencoba mengompensasi kenaikan biaya produksi tersebut dengan strategi penetapan harga baru di pasar global. Namun, langkah ini tentu memiliki batasan psikologis bagi konsumen yang telah terbiasa dengan struktur harga Apple sebelumnya.
Selain kendala pasokan, Apple juga merespons laporan mengenai masalah layar retak pada sejumlah unit iPhone Duo. Ternus menegaskan bahwa insiden tersebut hanya dialami oleh persentase yang sangat kecil dari total unit yang beredar. Apple berkomitmen untuk mengganti unit yang bermasalah, sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap kualitas produk premium mereka.
Bagi pasar Indonesia, fenomena ini menunjukkan betapa rentannya rantai pasok global terhadap fluktuasi harga komponen elektronik. Sebagai salah satu basis pengguna iPhone yang cukup besar di Asia Tenggara, konsumen tanah air kemungkinan besar akan merasakan dampak berupa keterlambatan ketersediaan barang atau harga yang lebih tinggi dibandingkan peluncuran seri-seri sebelumnya.
Ketergantungan Apple pada memori berkinerja tinggi untuk perangkat lipat membuktikan bahwa inovasi desain layar lipat memiliki ongkos produksi yang sangat mahal. Industri ponsel pintar di Indonesia, yang kini didominasi oleh perangkat kelas menengah ke atas, perlu mencermati tren ini. Jika harga komponen terus naik, produsen lain kemungkinan akan mengikuti jejak Apple dalam menaikkan harga jual produk flagship mereka.
Secara teknis, iPhone Duo dengan layar luar 5,4 inci dan layar dalam 7,6 inci memang menjadi standar baru bagi Apple dalam bersaing di pasar perangkat lipat. Namun, keberhasilan sebuah produk tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan fitur, melainkan juga oleh kemampuan perusahaan menjaga stabilitas pasokan di tangan konsumen.
Analisis pasar menunjukkan bahwa Apple saat ini berada dalam posisi dilematis. Mereka harus menjaga margin keuntungan di tengah biaya operasional yang melonjak, namun di sisi lain, mereka tidak ingin kehilangan momentum pertumbuhan di kategori produk baru yang sangat menjanjikan ini.
Apple sendiri menyatakan tengah bekerja keras untuk menyalurkan unit kepada sebanyak mungkin pelanggan secepat mungkin. Kendati demikian, ketidakpastian ini menciptakan spekulasi di kalangan analis mengenai apakah Apple akan melakukan perubahan strategi pada kuartal berikutnya untuk mengamankan stok komponen.
Ke depannya, efisiensi rantai pasok akan menjadi kunci utama bagi Apple. Jika mereka gagal menyeimbangkan pasokan dalam waktu dekat, ada risiko konsumen beralih ke merek kompetitor yang memiliki ketersediaan unit lebih stabil di pasar global, termasuk di Indonesia.
Situasi ini juga memberikan pelajaran bagi ekosistem teknologi di Indonesia mengenai pentingnya diversifikasi sumber komponen. Ketergantungan pada satu jenis teknologi memori yang harganya fluktuatif terbukti mampu mengganggu arus kas perusahaan sebesar Apple, apalagi bagi perusahaan teknologi lokal.
Pada akhirnya, perjalanan iPhone Duo baru saja dimulai. Keberhasilan Apple dalam mengatasi krisis pasokan ini akan menjadi tolok ukur apakah perangkat lipat mereka mampu menjadi pemimpin pasar atau sekadar produk eksklusif dengan ketersediaan terbatas yang sulit dijangkau oleh khalayak luas.