Jackery resmi memperluas lini produk pengisian daya portabelnya dengan meluncurkan Explorer 100D. Perangkat ini diklaim sebagai power station paling ringkas yang pernah diproduksi perusahaan hingga saat ini. Dengan dimensi fisik hanya 4,6 x 3,4 x 3,4 inci dan bobot sekitar 850 gram, perangkat ini dirancang khusus bagi pengguna dengan mobilitas tinggi yang membutuhkan cadangan daya andal di dalam tas jinjing mereka.
Berbeda dengan varian pendahulunya yang mengandalkan teknologi baterai lithium-ion konvensional, Explorer 100D mengadopsi sel baterai Lithium Iron Phosphate (LFP). Penggunaan material LFP ini bukan tanpa alasan. Jackery merancang sel baterai tersebut agar mampu bertahan hingga 3.000 siklus pengisian daya, yang secara teoritis memberikan masa pakai hingga delapan tahun penggunaan reguler. Ketahanan ini menjadi keunggulan kompetitif utama dibandingkan power bank 30.000 mAh di pasaran yang umumnya memiliki degradasi lebih cepat.
Dari sisi performa, perangkat ini menawarkan kapasitas baterai 96Wh atau setara dengan 30.000 mAh. Meskipun ukurannya tergolong mungil, Jackery tetap menyematkan fitur konektivitas yang cukup lengkap pada bagian depan perangkat. Terdapat dua port USB-C dengan output 140W dan satu port USB-A 18W. Namun, perlu dicatat bahwa total output daya maksimal yang dapat dikeluarkan perangkat ini adalah 158W. Artinya, ketika ketiga port digunakan secara bersamaan, distribusi daya akan terbagi secara otomatis.
Jackery juga memikirkan aspek kenyamanan penggunaan dengan tetap menyertakan pegangan terintegrasi pada bodi perangkat. Bagi pengguna yang merasa kurang nyaman menjinjingnya langsung, perusahaan menyediakan opsi aksesori tali bahu. Desain ini menunjukkan upaya Jackery untuk tetap mempertahankan identitas sebagai solusi daya luar ruang, meski dalam skala yang jauh lebih kecil dan personal.
Bagi pengguna yang gemar berpetualang di luar jangkauan listrik PLN, Explorer 100D mendukung input tenaga surya hingga 100W. Dalam kondisi optimal, panel surya mampu mengisi daya perangkat hingga 80 persen hanya dalam waktu sekitar 90 menit. Kemampuan pengisian mandiri ini menjadi nilai tambah krusial bagi fotografer lapangan atau pelancong yang sering berkegiatan di lokasi terpencil tanpa akses stopkontak.
Secara komersial, Explorer 100D mulai dipasarkan pada 15 November melalui jaringan ritel Walmart dengan harga 99 dolar AS. Bagi konsumen yang membutuhkan jumlah lebih banyak, Costco juga menyediakan paket bundel berisi dua unit dengan harga 179,99 dolar AS. Strategi pemasaran ini mengindikasikan bahwa Jackery ingin menyasar pasar pengguna gadget harian, bukan sekadar profesional yang membutuhkan suplai daya besar untuk peralatan berat.
Di Indonesia, tren penggunaan portable power station memang tengah meningkat seiring dengan tingginya minat masyarakat terhadap kegiatan berkemah dan gaya hidup 'van life' atau bekerja dari lokasi wisata. Namun, pasar lokal saat ini masih didominasi oleh power bank konvensional yang kapasitasnya jauh di bawah 96Wh atau power station berukuran besar yang berat dibawa bepergian dengan pesawat.
Kehadiran produk seperti Explorer 100D membuka celah pasar baru di Indonesia, yakni segmen gadget 'ultra-portable' yang aman dibawa ke dalam kabin pesawat. Mengingat regulasi penerbangan internasional dan domestik yang membatasi kapasitas baterai lithium, kapasitas 96Wh yang dibawa Explorer 100D berada tepat di bawah batas aman yang biasanya diizinkan maskapai, yakni di bawah 100Wh.
Analisis teknis menunjukkan bahwa peralihan ke baterai LFP merupakan langkah strategis industri. Baterai jenis ini dikenal lebih stabil secara termal dan memiliki risiko kebakaran yang jauh lebih rendah dibandingkan lithium-ion standar. Bagi konsumen Indonesia yang tinggal di wilayah tropis dengan suhu lingkungan yang cenderung panas, stabilitas termal baterai LFP menjadi faktor keamanan yang sangat krusial.
Jackery menyatakan bahwa inovasi ini didorong oleh kebutuhan akan efisiensi ruang tanpa mengorbankan durabilitas. Perusahaan tampaknya ingin menggeser persepsi publik bahwa power station selalu identik dengan kotak besar yang berat. Dengan mengecilkan faktor bentuk, mereka memperluas jangkauan pasar ke pengguna laptop dan perangkat mobile yang membutuhkan durasi penggunaan lebih panjang di luar kantor.
Ke depan, adopsi teknologi LFP pada perangkat berukuran kecil kemungkinan akan menjadi standar baru di industri pengisian daya. Kita akan melihat lebih banyak produsen yang meninggalkan lithium-ion untuk perangkat portabel kelas atas. Langkah Jackery ini kemungkinan besar akan diikuti oleh kompetitor lainnya dalam beberapa bulan ke depan, mengingat permintaan akan perangkat yang lebih awet dan ramah lingkungan terus meningkat.
Sebagai penutup, tantangan utama bagi Jackery di pasar Indonesia nantinya adalah penyesuaian harga dan ketersediaan layanan purnajual. Jika mereka mampu membawa produk dengan durabilitas tinggi seperti Explorer 100D ke pasar lokal dengan harga yang kompetitif, bukan tidak mungkin perangkat ini akan menjadi standar baru bagi para pekerja digital yang mengutamakan mobilitas.