Platform belanja via livestream Whatnot mengumumkan akuisisi terhadap perusahaan machine learning Shaped pada Rabu pekan ini. Langkah tersebut diambil untuk memperkuat sistem rekomendasi dan pencarian produk secara langsung saat tayangan berlangsung.
Akuisisi ini menyatukan teknologi Shaped yang fokus pada sistem rekomendasi serta pencarian berbasis kecerdasan buatan dengan infrastruktur yang sudah dimiliki Whatnot. Tujuannya adalah memecahkan salah satu tantangan terbesar dalam perdagangan langsung: membantu pembeli menemukan barang tepat ketika stok, lelang, dan minat pengguna berubah setiap detik.
Whatnot bukanlah toko online konvensional. Katalog di platform tersebut terus bergerak karena sesi lelang bisa berakhir dalam hitungan menit atau berlanjut selama berjam-jam. Kondisi itu membuat sistem rekomendasi klasik yang dirancang untuk katalog statis tidak lagi memadai.
Emmanuel Fuentes, Vice President of Data and AI di Whatnot, menuturkan bahwa perusahaan telah enam tahun memperbaiki kecepatan mesin rekomendasinya. Latensi yang sebelumnya mencapai sekitar satu hari kini ditekan menjadi hitungan menit. Integrasi teknologi Shaped diharapkan membawa rekomendasi semakin mendekati waktu nyata.
Shaped didirikan untuk membantu bisnis membangun sistem rekomendasi berbasis AI. Teknologi mereka memadukan data pelanggan dengan large language model serta pembelajaran mesin guna menghasilkan pengalaman pencarian yang sangat personal. Klien mereka mencakup Outdoorsy dan QVC.
Pendiri sekaligus CEO Shaped, Tullie Murrell, akan bergabung ke Whatnot bersama hampir selusin insinyur dan peneliti AI. Murrell, yang sebelumnya bekerja di Meta, akan memimpin grup riset Applied AI yang baru dibentuk. Penggabungan tim ini menunjukkan betapa seriusnya Whatnot menginvestasikan sumber daya manusia di bidang kecerdasan buatan.
Bagi industri, akuisisi ini mencerminkan perlombaan platform resale dan live commerce dalam mengadopsi AI. eBay serta Poshmark juga memasukkan kecerdasan buatan ke berbagai sisi layanan mereka. Persaingan kini tidak lagi sekadar soal inventaris, melainkan siapa yang paling cepat memahami niat belanja pengguna.
Di Indonesia, tren belanja live sudah tumbuh melalui TikTok Shop, Shopee Live, dan Tokopedia Live. Namun, sistem rekomendasi lokal umumnya masih mengandalkan perilaku historis yang diproses secara berkala. Tantangan yang dihadapi Whatnot sebenarnya mirip dengan pasar Indonesia: pengguna berpindah cepat antar sesi, dan stok barang flash sale habis dalam detik.
Startup lokal seperti Superbank atau perusahaan sosial commerce seperti Evermos belum banyak menyuarakan infrastruktur rekomendasi real-time setara Shaped. Kolaborasi semacam ini bisa menjadi referensi bagi pemain domestik yang ingin menekan tingkat abandonment cart saat live streaming.
Fuentes menegaskan bahwa kecepatan sangat menentukan karena perdagangan langsung adalah masalah rekomendasi yang unik. Inventaris berubah tiap detik, tayangan terus menyala dan padam, serta minat pembeli bergeser sepanjang sesi berjalan. Ia menyatakan gabungan teknologi Shaped dan sistem eksisting Whatnot membuat rekomendasi lebih cepat, responsif, dan personal.
Whatnot mencatat pertumbuhan pesat sejak diluncurkan pada 2019. Penjual di platform tersebut telah melewati 1 miliar pesanan. Tahun lalu, perusahaan mengantongi pendanaan Seri F senilai 225 juta dollar AS dengan valuasi lebih dari 11 miliar dollar AS setelah menambah 20 juta pembeli dalam setahun.
Ekspansi kategori juga agresif. Whatnot meluncurkan lebih dari 35 kategori baru tahun lalu, termasuk seni, golf, dan vinil. Pada paruh pertama 2026, mereka menambah lebih dari 45 kategori lain, dengan subkategori baru yang terus muncul tiap bulan. Sistem rekomendasi yang adaptif menjadi kunci agar pembeli tidak tersesat di tengah ragam pilihan.
Ke depan, pembentukan Applied AI Research di bawah Murrell akan menentukan arah produk Whatnot. Jika integrasi berjalan mulus, rekomendasi real-time bisa menjadi standar baru di live commerce global. Pemain Indonesia perlu mempersiapkan infrastruktur serupa sebelum selisih pengalaman belanja menjadi jurang kompetitif.