Vint Cerf, salah satu arsitek protokol internet yang dikenal sebagai "bapak internet", resmi meninggalkan Google pekan lalu setelah dua dekade berkarier di sana. Kini, ia bergabung sebagai penasihat Innovation Labs untuk merancang arsitektur terbuka bagi identitas agen kecerdasan buatan (AI) di dunia maya.
Langkah Cerf menandai babak baru dalam upaya menata masa depan interaksi digital. Innovation Labs, anak usaha penyelenggara registri DNS Identity Digital, melihat infrastruktur nama domain sebagai kunci untuk mempertanggungjawabkan perilaku agen AI sekaligus memposisikan diri di era baru di mana interaksi antarmesin melampaui interaksi manusia.
Saat ini, mayoritas agen AI beroperasi dalam ekosistem tertutup milik perusahaan teknologi raksasa. Mereka hanya memanggil sumber daya internal untuk tugas-tugas spesifik yang sudah ditentukan. Namun, para pelaku bisnis mulai membayangkan skenario di mana agen tersebut bergerak otonom melintasi internet terbuka dan bernegosiasi langsung dengan agen lainnya.
Kendala utama yang menghambat visi tersebut adalah absennya standar bersama untuk identifikasi dan audit. Tanpa protokol yang disepakati, agen AI dari penyedia berbeda tidak dapat saling mengenali atau memverifikasi otoritas satu sama lain. Ketiadaan standar ini menciptakan risiko akuntabilitas yang sulit dilacak.
Untuk menjawab tantangan itu, Innovation Labs mengusulkan sistem bernama DNSid. Mekanisme ini menciptakan identitas unik untuk setiap agen AI dan mengaitkannya dengan nama domain internet yang sudah ada. Bukti kriptografis digunakan untuk mencatat proses registrasi secara berkesinambungan, memastikan jejak digitalnya dapat diaudit.
Bagi ekosistem teknologi di Indonesia, gagasan ini membawa implikasi besar. Sebagai pasar digital dengan adopsi internet yang luas, tanah air sangat rentan terhadap penyalahgunaan agen otomatis jika tidak ada regulasi identitas yang jelas. Kehadiran standar terbuka dapat melindungi konsumen dari bot penipuan yang menyamar sebagai agen sah.
Di sisi lain, perusahaan lokal yang mengembangkan solusi berbasis AI, seperti layanan chatbot perbankan atau asisten virtual e-commerce, akan mendapatkan kerangka kerja global untuk berinteraksi lintas batas. Tanpa standar semacam ini, pemain domestik terancam terkunci dalam ekosistem raksasa teknologi asing yang proprietary.
Allie Kline, CEO interim Innovation Labs, menekankan bahwa pihaknya tidak memiliki ambisi untuk menguasai data registrasi atau masuk ke bisnis AI lainnya. Pendekatan netral ini sengaja diambil untuk menghindari penolakan dari industri yang khawatir akan dominasi satu pihak. "Saya rasa banyak penolakan organ jika hyperscaler merilis standar dan memonopoli data tersebut," ujar Kline.
Cerf menambahkan, pertanyaan tentang otoritas dan akuntabilitas agen AI akan menjadi isu pelik. Agen beroperasi jauh lebih aktif dibandingkan sekadar nama domain statis. "Saya merasa bisa membantu di masa ketika penamaan dan identifikasi menjadi sangat penting, terutama karena kita harus tahu siapa yang bertanggung jawab atas perilaku agen ini," kata Cerf kepada TechCrunch.
Ia membandingkan situasi saat ini dengan lahirnya TCP/IP dahulu. Adopsi luas protokol apa pun akan bergantung pada fungsionalitasnya dan tekanan dari pengguna. Jika perusahaan A menggunakan teknologi agen X dan perusahaan B menggunakan agen Y, keduanya harus bisa berinteroperasi agar ekonomi agen bisa berkembang.
Meski demikian, Cerf tidak melihat ekonomi agen sebagai takdir mutlak internet. Namun, sifat dasar manusia yang cenderung mencari kemudahan akan mendorong adopsi masif. "Kita adalah makhluk malas, dan jika ada cara membuat agen melakukan sesuatu untuk kita, kita pasti memilih itu karena lebih mudah," tuturnya.
Uji coba DNSid saat ini tengah berjalan bersama beberapa hyperscaler dan perusahaan identitas yang belum diumumkan namanya. Keberhasilan proyek ini akan menentukan apakah internet terbuka siap menyambut jutaan agen AI yang berkeliaran tanpa pengawasan manusia, atau justru terjebak dalam fragmentasi sistem proprietary.