SpaceX secara resmi mencatatkan sejarah baru dalam dunia korporasi global setelah nilai valuasinya melonjak hingga melampaui raksasa teknologi Amazon. Perusahaan antariksa milik Elon Musk ini kini memegang predikat sebagai perusahaan kelima paling berharga di dunia dengan valuasi mencapai lebih dari USD 2,7 triliun. Peningkatan drastis ini dipicu oleh lonjakan harga saham sebesar 20 persen pada hari Senin, diikuti dengan kenaikan lebih dari 8 persen pada perdagangan awal hari Selasa.
Fenomena kenaikan valuasi ini dianggap cukup kontras jika dibandingkan dengan kinerja fundamental keuangan kedua perusahaan. Amazon tercatat mampu membukukan laba sebesar USD 78 miliar dari total pendapatan USD 717 miliar pada tahun 2025. Sebaliknya, SpaceX masih melaporkan kerugian sebesar USD 4,9 miliar dengan pendapatan sekitar USD 18,7 miliar. Meski demikian, investor tampaknya memberikan sentimen positif terhadap diversifikasi bisnis SpaceX yang kini merambah sektor komputasi awan melalui kemitraan strategis dengan Anthropic dan Google.
Optimisme pasar juga didorong oleh langkah agresif SpaceX dalam mengakuisisi startup pengodean berbasis kecerdasan buatan, Cursor, dalam transaksi saham senilai USD 60 miliar. Akuisisi ini dipandang sebagai upaya memperkuat ekosistem kecerdasan buatan xAI yang kini telah terintegrasi di bawah naungan SpaceX. Elon Musk sebelumnya sempat menyatakan bahwa fondasi awal pengembangan AI miliknya perlu dibangun ulang secara menyeluruh, dan integrasi dengan Cursor menjadi kunci utama dalam visi tersebut.
Sejak melakukan penawaran umum perdana (IPO) pada hari Jumat lalu, SpaceX telah berhasil menambah nilai valuasi sebesar USD 1 triliun. Saat debut di bursa saham, perusahaan tersebut tercatat memiliki valuasi sekitar USD 1,7 triliun dan berhasil menggalang dana sebesar USD 86 miliar. Keberhasilan IPO ini menandai babak baru bagi perusahaan yang sebelumnya beroperasi secara privat dalam waktu yang cukup lama.
Para analis pasar menyoroti volatilitas saham SpaceX yang dipengaruhi oleh kebijakan perusahaan yang hanya melepas sekitar 4 persen dari total sahamnya ke publik. Ketersediaan saham yang terbatas di pasar terbuka membuat harga saham SpaceX cenderung sangat fluktuatif terhadap sentimen berita terkini. Kondisi ini menuntut para investor untuk memiliki kewaspadaan tinggi terhadap pergerakan harga yang bisa berubah sewaktu-waktu akibat spekulasi pasar.
Ke depannya, fokus investor akan tertuju pada kemampuan SpaceX dalam menyeimbangkan antara ambisi teknologi tinggi di sektor antariksa dan AI dengan perbaikan kinerja keuangan yang lebih solid. Keberhasilan perusahaan untuk terus mengintegrasikan teknologi AI ke dalam model bisnis mereka akan menjadi penentu apakah valuasi sebesar USD 2,7 triliun ini dapat dipertahankan atau justru akan menghadapi koreksi tajam di masa depan.