Potensi energi panas bumi di seluruh dunia kini mulai dilirik oleh para investor teknologi sebagai alternatif energi bersih yang masif. Menurut data International Energy Agency (IEA), kapasitas panas bumi dunia mencapai setidaknya 42 terawatt, atau dua kali lipat dari total penggunaan energi global tahun lalu. Di tengah dominasi perhatian pada energi nuklir, startup bernama Critical Energy berhasil menarik perhatian dengan mengamankan pendanaan tahap awal sebesar US$22 juta untuk mengembangkan turbin modular yang dirancang khusus bagi pembangkit listrik panas bumi.
Spencer Jackson, CEO dan salah satu pendiri Critical Energy yang merupakan mantan insinyur SpaceX, mengungkapkan bahwa perusahaannya bertujuan mengisi celah krusial dalam infrastruktur panas bumi. Dana segar tersebut akan digunakan untuk membangun proyek turbin berkapasitas 2,5 megawatt sebagai langkah awal. Jackson optimis bahwa teknologi panas bumi akan lebih cepat mencapai skala komersial dibandingkan proyek fusi atau fisi nuklir yang baru menargetkan implementasi di awal tahun 2030-an.
Strategi utama yang diusung oleh Critical Energy adalah efisiensi produksi melalui pendekatan modular. Selama ini, banyak proyek panas bumi terhambat oleh penggunaan turbin skala besar yang membutuhkan waktu perakitan di lokasi selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Dengan mengadopsi prinsip manufaktur yang diterapkan pada mesin roket Raptor dan program Starship di SpaceX, Jackson ingin memproduksi turbin di dalam pabrik agar proses instalasi menjadi jauh lebih cepat, murah, dan efisien.
Pengembangan turbin ini melibatkan kolaborasi dengan berbagai bengkel mesin presisi untuk menciptakan komponen turbin yang memiliki kemiripan teknis dengan komponen mesin roket. Meskipun saat ini perusahaan masih mengandalkan komponen siap pakai untuk bagian tertentu, Jackson tidak menutup kemungkinan untuk membawa seluruh proses manufaktur ke dalam internal perusahaan di masa depan, meniru model integrasi vertikal yang sukses dilakukan oleh Tesla dan SpaceX.
Proyek pertama yang menggunakan turbin modular dari Critical Energy dijadwalkan rampung pada tahun 2027. Turbin ini direncanakan akan dipasang di lokasi panas bumi yang memiliki karakteristik serupa dengan situs di Islandia atau The Geysers di California Utara. Selain itu, perusahaan tengah merancang modul dengan kapasitas lebih besar, yakni 5 megawatt, yang ditargetkan untuk menyasar perusahaan panas bumi canggih seperti Fervo Energy yang melakukan pengeboran lebih dalam untuk ekstraksi panas yang lebih optimal.
Dengan visi jangka panjang, Jackson menargetkan perusahaannya mampu memproduksi turbin dengan total kapasitas gigawatt per tahun pada awal 2030-an. Secara ambisius, Critical Energy memproyeksikan target produksi mencapai 300 gigawatt per tahun pada 2045. Jackson meyakini bahwa seiring matangnya teknologi ini, keterlibatan perusahaan minyak dan gas akan semakin mempercepat adopsi panas bumi sebagai tulang punggung energi dunia yang berkelanjutan.