Artificial Intelligence

Upaya Boikot The Odyssey di AS Berujung Kegagalan Telak

Ringkasan

  • Boikot online terhadap film The Odyssey gagal total meski digaungkan sejak pra-rilis di AS.

Christopher Nolan merilis film epik The Odyssey pekan ini, namun sekelompok pembenci di media sosial gagal menggagalkan minat penonton. Meski kampanye boikot digaungkan sejak pengumuman film, pemutaran perdana justru mencetak tren penjualan tiket luar biasa di Amerika Serikat.

Seorang jurnalis teknologi yang menyaksikan langsung hari pembukaan di pinggiran Philadelphia menceritakan kekacauan kecil di satu bioskop IMAX 70mm. Listrik padam sehingga tayangan pukul 08.00 dibatalkan. Petugas mencatat nomor tiket secara manual untuk pengembalian dana. Penonton yang kecewa bukan karena filmnya, melainkan karena tak bisa menonton format aslinya di waktu paling awal.

Kampanye penolakan terhadap The Odyssey bukan muncul tiba-tiba. Sejak Nolan mengumumkan adaptasi wiracarita Homer itu, kelompok sayap kanan di internet melancarkan protes. Elon Musk ikut memvalidasi narasi tersebut lewat platform X miliknya. Mereka menyerang pemilihan pemain berkulit hitam dan transgender, pen_castingan Matt Damon sebagai Odysseus, hingga penggunaan dialek Inggris bergaya Amerika.

Beberapa penonton menuduh film itu sebagai operasi psikologis yang merusak budaya Barat. Ada pula pengguna X yang menyebut Nolan sebagai musuh Barat hanya karena Tom Holland mengucapkan kata "dad" di trailer. Ulasan positif dari kritikus pun dianggap bagian dari konspirasi woke. Mereka berupaya menurunkan rating trailer dan mengajak orang tidak menonton.

Faktanya, Rotten Tomatoes mencatat 96 persen skor kritikus untuk The Odyssey. Boikot yang direncanakan itu justru berbalik arah. Penjualan tiket IMAX di berbagai negara ludes terjual. Proyeksi pendapatan pembukaan global mencapai 200 juta dolar AS, angka tertinggi bagi film Nolan tanpa karakter Batman.

Di pasar sekunder, tiket The Odyssey dijual hingga 1.000 dolar AS per lembar. Tidak mustahil film ini tembus satu miliar dolar secara global. Orang rela mengambil cuti kerja, melintasi batas negara bagian, bahkan ada cerita wanita di California yang menunda kehamilan demi menonton format IMAX 70mm di akhir pekan pembukaan.

Kondisi ini mencerminkan jurang lebar antara keributan di ruang digital dan realitas penonton. Di Indonesia, pola serupa kerap muncul saat film Hollywood memuat representasi minoritas. Netizen lokal sempat memviralkan tagar tolak film tertentu, namun penonton bioskop tetap memadati studio. Industri hiburan Tanah Air membuktikan bahwa gimmick boikot online jarang mengubah perilaku konsumsi riil.

Bagi pembaca Indonesia, fenomena ini relevan dengan meningkatnya pengaruh platform seperti X dalam membentuk opini publik. Namun, seperti kasus The Odyssey, monetisasi kemarahan di internet tidak selalu berdampak pada dompet penonton. Bioskop Indonesia yang mulai menghadirkan format IMAX juga diuntungkan oleh antusiasme serupa bila film serupa tayang di sini.

Studio AI bernama Fountain 0 kemudian mengumumkan film Odyssey versi sepenuhnya buatan kecerdasan buatan. Mereka menangkap momentum baik dari euforia penggemar Nolan maupun dari kelompok pembenci. Ini memberi pilihan lain bagi yang enggan menonton karya sutradara asli.

Langkah Fountain 0 terlihat sebagai konsesi bagi pembenci sekaligus eksploitasi pasar. Penggemar film mendapat epik tiga jam di layar lebar. Sebaliknya, kritikus budaya Barat bisa menikmati sajian AI di streaming sambil tetap menyerang Nolan. Ke depan, kolaborasi konten AI dengan momentum budaya pop akan makin sering muncul sebagai strategi komersial.

Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa film berskala besar dengan dukungan teknologi proyeksi tinggi tetap menang atas kebisingan media sosial. Nolan membuktikan bahwa merek pribadinya setara jaminan box office. Sementara itu, studio AI akan terus mencari celah dari setiap perpecahan budaya di internet untuk meraup untung cepat.

Mengapa Ini Penting

Kegagalan boikot The Odyssey menunjukkan bahwa noise budaya di media sosial tidak menggoyahkan ekonomi industri hiburan riil, pelajaran penting bagi platform lokal yang sering terprovokasi tagar. Munculnya studio AI seperti Fountain 0 mengonfirmasi bahwa konten generatif mulai mengeksploitasi friksi sosial sebagai model bisnis baru. Bagi Indonesia, tren ini mengingatkan pentingnya regulasi distribusi film AI agar tidak menggerus karya sinema tradisional domestik. Di sisi lain, operator bioskop nasional dapat memetik peluang dari format premium bila euforia serupa merembet ke pasar lokal.

Sumber Asli
Wired
Tanggal
17 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit