Thinking Machines Lab, perusahaan kecerdasan buatan yang didirikan oleh mantan petinggi OpenAI, meluncurkan model pertama mereka bernama Inkling pada Februari 2025. Model berbasis open-weight ini dapat diunduh dan dimodifikasi oleh peneliti maupun startup, menandai masuknya pemain baru ke dalam persaingan AI global yang semakin ketat.
Inkling dikembangkan dari nol untuk memahami masukan berupa audio, video, dan teks sekaligus. Meski tidak memuncaki tolok ukur populer, perusahaan menyatakan model ini mumpuni dalam penalaran tingkat lanjut dan penulisan kode. Dengan 975 miliar parameter, Inkling tergolong besar dan membutuhkan klaster chip khusus untuk menjalankannya.
Peluncuran ini bukan sekadar rilis produk. Thinking Machines menggunakan Inkling untuk menyempurnakan dirinya sendiri, mencerminkan tren di mana model AI kini turut membangun model AI lainnya. Langkah itu sekaligus mempertegas posisi lab tersebut sebagai entitas serius di industri yang didominasi oleh pengeluaran raksasa.
Thinking Machines berdiri pada Februari 2025 oleh sejumlah nama besar yang meninggalkan OpenAI. Mira Murati, mantan CTO sekaligus CEO sementara OpenAI, memimpin pendiriannya bersama John Schulman, cofounder OpenAI perancang ChatGPT, dan Lilian Weng, mantan VP bidang keamanan dan robotika. Kehadiran mereka memberi kredibilitas instan bagi perusahaan rintisan tersebut.
Sebelum Inkling, lab ini sudah merilis Tinker, perangkat untuk fine-tuning model, serta demo interaksi suara natural. Mereka juga menerbitkan riset machine learning. Visi yang mereka bawa cukup jelas: kecerdasan buatan tidak boleh dikendalikan segelintir perusahaan saja, melainkan harus terdesentralisasi agar lebih banyak pihak bisa membangun model dengan data sendiri.
Model open-weight memang semakin digemari karena biaya operasionalnya lebih rendah ketimbang model tertutup berbasis langganan. Keleluasaan modifikasi untuk kebutuhan spesifik menjadi daya tarik utama. Saat ini, model open-weight terbaik berasal dari Tiongkok, namun Thinking Machines mengklaim Inkling menyamai kemampuannya.
Bagi ekosistem teknologi Indonesia, ketersediaan model sekelas Inkling memberi ruang bagi pengembang lokal untuk bereksperimen tanpa terikat biaya API mahal. Startup dalam negeri yang selama ini mengandalkan layanan tertutup seperti GPT dapat mulai mengevaluasi alternatif terbuka. Hal ini krusial mengingat isu kedaulatan data mulai mengemuka di sektor publik.
Di sisi lain, ukuran Inkling yang masif menuntut infrastruktur komputasi yang belum merata di Tanah Air. Klaster GPU atau ASIC masih terkonsentrasi di segelintir institusi. Tanpa akses terhadap perangkat keras tersebut, manfaat open-weight baru akan dirasakan kalangan terbatas.
Sumber anonim yang mengetahui proses pelatihan mengungkap fenomena menarik. Inkling awalnya menghilangkan penjelasan bahasa alami pada proses penalarannya demi efisiensi karena menganggap tata bahasa sebagai beban. Perusahaan kemudian mengembalikan fitur itu agar keputusan model tetap dapat dijelaskan.
"Ia menentukan bahwa tata bahasa adalah overhead, yang menarik," ujar sumber tersebut. Pengembalian penalaran berbahasa alami menunjukkan bahwa keterjelasan tetap menjadi prioritas meski efisiensi ditawarkan sebagai nilai tambah.
Ke depan, Thinking Machines diproyeksikan menantang dominasi model tertutup lewat strategi keterbukaan. Anthropic, perusahaan lain yang lahir dari eksodus OpenAI, baru saja mengajukan IPO dengan valuasi potensial di atas satu triliun dolar. Persaingan antarpendiri yang sama akan mempercepat inovasi di level arsitektur maupun aplikasi.
Bagi Indonesia, tren ini mengisyaratkan perlunya investasi pada pusat data AI dan talenta penyetelan model. Inkling mungkin belum tersedia secara luas di sini, namun dokumentasi dan bobotnya yang terbuka memungkinkan adopsi bertahap oleh universitas dan kementerian.