Piala Dunia 2026 memasuki babak semifinal dengan empat tim tersisa: Prancis, Spanyol, Inggris, dan Argentina. Berdasarkan simulasi terbaru superkomputer Opta, Prancis dan Inggris diproyeksikan lolos ke partai puncak yang dijadwalkan berlangsung di New Jersey, Amerika Serikat, pada 19 Juli mendatang. Prediksi ini menggeser posisi Spanyol yang awal turnamen dijagokan sebagai juara, serta Argentina yang berusaha mempertahankan gelar.
Perjalanan keempat tim ke semifinal menunjukkan dinamika yang beragam. Prancis melesat dengan kemenangan meyakinkan 2-0 atas Maroko, dipacu performa trio penyerang Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, dan Michael Olise. Spanyol harus berjuang keras hingga menit-menit akhir untuk menundukkan Belgia 2-1 lewat gol Mikel Merino. Inggris mengandalkan dua gol Jude Bellingham untuk mengalahkan Norwegia 2-1, sedangkan Argentina memerlukan babak perpanjangan waktu untuk mengatasi Swiss yang bermain dengan 10 pemain.
Pergeseran favorit dari Spanyol ke Prancis tidak terjadi tanpa alasan. Sejak fase gugur dimulai, Prancis menampilkan konsistensi taktis dan efisiensi finishing yang superior. Data Opta mencatat Les Bleus mengantongi peluang 57,70 persen untuk menaklukkan Spanyol di semifinal Dallas, angka tertinggi di antara keempat semifinalis. Dominasi ini didorong oleh transisi cepat dan kemampuan menciptakan peluang dari sayap, area di mana Dembele dan Olise berekselensi.
Spanyol yang melatih gaya tiki-taka modern di bawah Luis de la Fuente kini menempati posisi kedua dengan peluang 42,30 persen lolos ke final dan 23,45 persen meraih trofi. Meskipun menguasai posse, La Roja sering kesulitan menembus pertahanan padat lawan — kelemahan yang terekspos saat menghadapi Belgia. Jika gagal menyesuaikan tempo melawan Prancis yang lebih fisik dan langsung, peluang mereka akan semakin menipis.
Inggris di bawah manajer Thomas Tuchel memasuki semifinal sebagai tim dengan peluang paling seimbang: 50,94 persen lolos ke final dan 21,94 persen juara. Keunggulan Three Lions terletak pada kedalaman squad dan variasi serangan. Bellingham berperan sebagai playmaker sekaligus penyerang tambahan, didukung Harry Kane dan Bukayo Saka. Namun, ketidakstabilan lini belakang tetap menjadi tanda tanya besar menghadapi Argentina yang dipimpin Lionel Messi.
Argentina sebagai juara bertahan mendapat prediksi paling pesimis di antara keempat besar. Peluang mereka menundukkan Inggris hanya 49,06 persen, dengan probabilitas juara bertahan 20,55 persen — terendah di kuartet. Faktor usia Messi (39 tahun) dan ketergantungan tim pada briliannya individu menjadi pertimbangan utama superkomputer. Meskipun semangat juang tim tetap tinggi, model Opta menilai kedalaman squad Albiceleste tidak seimbang lawan mereka.
Teknologi prediksi berbasis machine learning seperti Opta telah mengubah lanskap analisis sepak bola modern. Algoritma memproses ribuan variabel: data tracking pemain, xG (expected goals), intensitas pressing, hingga faktor kelelahan perjalanan. Akurasi model ini diuji melalui backtesting terhadap turnamen sebelumnya, dengan tingkat keberhasilan prediksi semifinal Piala Dunia 2022 mencapai 75 persen. Namun, sepak bola tetap menyimpan elemen ketidakpastian yang tidak sepenuhnya terkuantifikasi.
Di Indonesia, adopsi analitik data dalam sepak bola mulai merambah ke liga domestik. Beberapa klub Liga 1 telah bermitra dengan startup analitik sportstech lokal untuk memanfaatkan data tracking dan model prediksi sederhana. Kementerian Pemuda dan Olahraga pun mendorong digitalisasi coaching melalui program "Sepak Bola Berbasis Data". Prediksi Opta ini menjadi referensi bagaimana AI dapat mendukung pengambilan keputusan taktis, rekrutmen pemain, hingga manajemen risiko cedera.
Industri taruhan olahraga dan media streaming juga memanfaatkan model prediktif untuk menyesuaikan odds dan personalisasi konten. Platform streaming domestik mulai menampilkan statistik real-time dan probabilitas kemenangan selama siaran langsung, meniru pengalaman penonton Eropa. Tren ini menciptakan peluang baru bagi talenta data science Indonesia yang berspesialisasi pada sport analytics — bidang yang masih relatif langka namun permintaannya meningkat.
Mengutip perwakilan Opta di wawancara TNTSports, "Model kami tidak memprediksi masa depan dengan pasti, melainkan mengukur probabilitas berdasarkan bukti empiris. Sepak bola indah karena ketidakpastiannya." Sikap realistis ini penting agar prediksi tidak disalahartikan sebagai jaminan hasil. Bagi pelatih dan analis, output superkomputer hanyalah satu alat bantu di antara banyak pertimbangan lain: kondisi fisik, psikologi tim, dan faktor cuaca.
Semifinal Prancis vs Spanyol di Dallas dan Inggris vs Argentina di Atlanta akan menjadi uji coba nyata bagi akurasi model Opta. Jika prediksi benar, final Prancis vs Inggris akan menghadirkan duel generasi: Mbappe vs Bellingham, Dembele vs Saka, serta pertemuan dua filsafat sepak bola kontras — efisiensi Prancis versus kontrol Inggris. Terlepas dari hasilnya, turnamen ini menegaskan peran AI sebagai komponen integral ekosistem sepak bola modern.