Artificial Intelligence

StrictlyVC Kembali ke New York, Keith Rabois dan Deven Parekh Jadi Pembicara Utama

Bagikan: X Facebook WhatsApp Telegram LinkedIn
StrictlyVC Kembali ke New York, Keith Rabois dan Deven Parekh Jadi Pembicara Utama

Ringkasan

  • Acara boutique TechCrunch, StrictlyVC, akan digelar di West Village, New York, pada 10 September 2026 dengan deretan pembicara ternama seperti Keith Rabois dari Khosla Ventures dan Deven Parekh dari Insight Partners.

StrictlyVC, rangkaian acara malam eksklusif milik TechCrunch, resmi kembali ke New York setelah dua tahun vakum. Acara ini dijadwalkan berlangsung pada Kamis malam, 10 September 2026, di kawasan West Village — area yang dikenal dengan bangunan brownstone dan trotoar batu kuno, jauh berbeda dari nuansa "Vest Village" di Mission Bay, San Francisco, yang identik dengan venture capitalist berjaket Patagonia. Kehadiran StrictlyVC di ibukota bisnis ini menandai momentum baru bagi ekosistem startup di pantai timur Amerika Serikat.

Acara tahun ini dibuka oleh Keith Rabois, mitra Khosla Ventures yang baru saja pindah dari Silicon Valley ke New York. Rabois dikenal sebagai sosok yang tidak segan mengutarakan pendapat tajam soal praktik industri venture capital. Ia telah empat kali berinvestasi di Ramp dan juga menaruh dana di State Affairs, startup yang memanfaatkan AI dan jurnalis lokal untuk melacak data kebijakan di 50 negara bagian AS. Topik yang pasti dibahas meliputi kebiasaan founder mengumpulkan dana melebihi kebutuhan hanya karena tersedia, serta taruhan awal Khosla Ventures sebesar 50 juta dolar ke OpenAI pada 2019 — saat perusahaan itu belum memiliki model bisnis yang jelas.

Konteks kehadiran Rabois di New York bukan sekadar relokasi pribadi. Pergerakan investor senior ke pantai timur mencerminkan pergeseran gravitasi ekosistem teknologi. New York kini menyaingi San Francisco sebagai hub AI dan fintech, didorong oleh kehadiran talenta dari universitas top seperti Columbia dan NYU, serta kedekatan dengan pusat keuangan global. Rabois sendiri pernah mengkritik kultur "raise as much as you can" yang melanda Silicon Valley, berargumen bahwa kelebihan modal justru membuat founder longgar dalam mengeksekusi.

Setelah sesi Rabois, panggung diserahkan ke Craig Shapiro dari Collaborative Fund — yang sekaligus co-host acara — dan Jason Levien, CEO D.C. United. Percakapan mereka akan mengeksplorasi organisasi olahraga sebagai investasi bisnis, serta pertemuan semakin kompleks antara olahraga, kefanatan, komersial, dan komunitas. Topik ini relevan mengingat boom investasi di liga olahraga profesional AS, mulai dari NBA, MLB, hingga MLS, di mana valuasi klub melonjak berkat hak siar dan komersialisasi properti intelektual.

Tema komunitas dilanjutkan oleh dua founder yang sudah pernah melakukan exit besar. Tristan Walker, yang menjual Walker & Company Brands (pembuat Bevel) ke Procter & Gamble pada 2018, kini memimpin Heirloom Craft. Startup ini berfokus pada reshoring kerajinan halus Amerika — melatih generasi baru artisan dan membangun kembali rantai pasok di baliknya. Walker berargumen bahwa di era AI yang mengotomatisasi banyak pekerjaan, nilai keunikan tangan manusia justru naik.

Brynn Putnam, founder Mirror yang dijual ke Lululemon seharga 500 juta dolar tiga tahun setelah diluncurkan, hadir dengan venture terbarunya: Board. Perusahaan ini mengembangkan permainan fisik yang dikombinasikan dengan alat kreatif bertenaga AI, dirancang sebagai antidote terhadap isolasi yang justru ditimbulkan teknologi. Putnam ingin mengembalikan orang-orang berkumpul di meja yang sama — secara harfiah. Pendekatan ini menarik perhatian karena berlawanan dengan arus dominan startup konsumer yang fokus pada pengalaman digital semata.

Penutup acara diisi Deven Parekh, yang telah memimpin Insight Partners selama lebih dari 25 tahun. Insight dikenal jarang berwawancara, namun Parekh bersedia membuka tabir soal bagaimana firma tersebut menavigasi lanskap di mana kelas aset semakin sulit dibedakan. Dana-dana besar tumbuh eksponensial, membuat modal menjadi komoditas, namun potensi return dari investasi masif juga belum pernah setinggi ini. Parekh diharapkan berbagi wawasan soal strategi Insight bersaing di era tersebut.

Bagi pembaca Indonesia, acara ini menawarkan beberapa pelajaran. Pertama, tren investor senior berpindah ke New York mengisyaratkan bahwa hub teknologi tidak lagi monopoli Silicon Valley. Jakarta, Bandung, dan Surabaya bisa belajar soal pentingnya ekosistem lokal yang terhubung dengan pusat keuangan dan akademik. Kedua, narasi Walker dan Putnam tentang "manusia vs AI" relevan dengan debat otomatisasi di industri kreatif dan manufaktur Indonesia. Apakah kita cukup menyiapkan tenaga kerja untuk peran yang tidak bisa digantikan AI?

Ketiga, pendekatan Insight Partners soal diferensiasi di laut modal melimpah relevan untuk VC Indonesia. Sejumlah dana lokal baru tumbuh pesat, namun banyak yang masih bergantung pada deal flow yang sama. Kemampuan untuk menciptakan nilai tambah di luar modal — seperti bantuan operasional, jaringan exit, dan expertise sektor — akan jadi pembeda jangka panjang. Acara StrictlyVC ini, meski berlokasi jauh, memantulkan dinamika global yang akan membentuk lanskap venture Indonesia ke depan.

Selain pembicaran utama, acara menyediakan sesi networking dengan minuman dan hidangan ringan, dihadiri juga oleh jurnalis TechCrunch seperti Connie Loizos dan Rebecca Bellan. Tiket dan detail lengkap tersedia di situs resmi StrictlyVC. Kolaborasi dengan Collaborative Fund sebagai co-host menegaskan semangat komunitas yang jadi identitas acara ini sejak awal.

Mengapa Ini Penting

Kembalinya StrictlyVC ke New York menandakan pergeseran gravitasi ekosistem teknologi dari Silicon Valley ke pantai timur, di mana AI dan fintech berkembang pesat berkat kedekatan dengan Wall Street dan universitas top. Narasi Tristan Walker dan Brynn Putnam tentang mengembalikan nilai kerajinan tangan dan interaksi fisik di era AI memberikan perspektif segar bagi Indonesia yang tengah gencar mendorong industri kreatif dan manufaktur tinggi. Wawasan Deven Parekh soal bersaing di era modal jadi komoditas sangat relevan untuk VC Indonesia yang menghadapi banjir dana tapi kesulitan diferensiasi. Acara ini juga menunjukkan pentingnya komunitas fisik — bukan hanya digital — dalam membangun ekosistem startup yang tangguh.

Pertanyaan Umum

Apa isi utama artikel "StrictlyVC Kembali ke New York, Keith Rabois dan Deven Parekh Jadi Pembicara Utama"?

Acara boutique TechCrunch, StrictlyVC, akan digelar di West Village, New York, pada 10 September 2026 dengan deretan pembicara ternama seperti Keith Rabois dari Khosla Ventures dan Deven Parekh dari Insight Partners.

Mengapa Artificial Intelligence ini penting?

Kembalinya StrictlyVC ke New York menandakan pergeseran gravitasi ekosistem teknologi dari Silicon Valley ke pantai timur, di mana AI dan fintech berkembang pesat berkat kedekatan dengan Wall Street dan universitas top. Narasi Tristan Walker dan Brynn Putnam tentang mengembalikan nilai kerajinan tangan dan interaksi fisik di era AI memberikan perspektif segar bagi Indonesia yang tengah gencar mend

Sumber Asli
TechCrunch
Tanggal
28 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit