Artificial Intelligence

Speaker AI OpenAI Dikabarkan Dijual Rp4,8 Jutaan, Bentuknya Donat

Ringkasan

  • OpenAI dikabarkan akan merilis speaker AI berbentuk donat dengan harga 300-400 dolar AS.
  • Perangkat ini merupakan bentuk fisik ChatGPT dan dikembangkan bersama desainer Jony Ive.

OpenAI semakin serius merambah industri perangkat keras. Kabar terbaru menyebutkan perangkat speaker pintar bertenaga kecerdasan buatan yang tengah dikembangkan perusahaan itu akan dibanderol dengan harga antara 300 sampai 400 dolar AS atau setara Rp4,5 juta hingga Rp6 juta. Bocoran ini pertama kali diungkapkan Bloomberg, yang juga merinci desain fisik perangkat yang disebut-sebut sebagai "manifestasi fisik" dari ChatGPT.

Menurut laporan tersebut, perangkat ini akan memiliki bentuk menyerupai donat atau cincin. Desain ini dipilih dengan tujuan agar pengguna mudah membawa dan memindahkan perangkat dari satu ruangan ke ruangan lain, misalnya dari meja samping tempat tidur ke dapur. Bentuknya yang unik memang berbeda dari speaker pintar pada umumnya yang cenderung berbentuk tabung atau kotak.

Dari segi material, OpenAI dikabarkan akan menggunakan logam berkualitas tinggi untuk memberikan kesan premium. Namun yang paling menarik, perangkat ini disebut memiliki "bagian yang bergerak" atau moving parts. Belum ada penjelasan detail mengenai fungsi dari komponen bergerak tersebut, dan justru memicu banyak spekulasi di kalangan pengamat teknologi.

Harga tersebut jelas jauh lebih tinggi dibandingkan speaker pintar kebanyakan. Sebagai gambaran, produk speaker pintar Amazon yang paling mahal pun hanya dijual sekitar 240 dolar AS. Dengan rentang harga 300-400 dolar AS, OpenAI tampaknya memang tidak menyasar pasar konsumen biasa, melainkan pengguna yang mencari perangkat premium dan siap membayar lebih untuk integrasi ChatGPT yang lebih dalam.

Langkah OpenAI masuk ke ranah speaker pintar sebenarnya memiliki logika yang cukup kuat. ChatGPT telah menjadi asisten AI paling populer saat ini, dan menghadirkannya dalam bentuk perangkat fisik yang selalu dalam jangkauan akan semakin mengintegrasikan layanan tersebut ke dalam rutinitas harian pengguna. Ini bisa menjadi cara untuk menjauh dari layar smartphone dan memberikan pengalaman yang lebih imersif.

Namun, sejarah industri menunjukkan bahwa pasar speaker pintar tidak selalu menguntungkan. Amazon dan Google telah lama berkecimpung di pasar ini, dan bahkan mereka kesulitan mencetak profit dari perangkat keras semacam ini. Mereka lebih mengandalkan penjualan speaker sebagai pintu masuk untuk ekosistem layanan dan komersial. OpenAI dengan harga yang lebih tinggi akan menghadapi tantangan yang lebih besar.

Kehadiran "moving parts" juga menjadi tanda tanya besar. Apakah ini sekadar elemen desain yang estetis, atau punya fungsi fungsional tertentu? Beberapa analis berspekulasi bahwa bagian yang bergerak tersebut bisa menjadi penunjuk arah suara atau mekanisme untuk mengaktifkan perangkat. Namun, tanpa konfirmasi resmi, semua itu masih sebatas dugaan.

Perangkat yang dikembangkan bersama LoveFrom, studio desain yang didirikan Jony Ive, mantan kepala desain Apple itu, dijadwalkan akan dirilis pada 2027. Keterlibatan Ive menegaskan bahwa OpenAI serius menciptakan produk dengan desain yang sangat diperhatikan, bukan sekadar aksesori baru.

Di tengah persiapan peluncuran itu, OpenAI juga sedang menghadapi gugatan hukum dari Apple. Raksasa teknologi asal Cupertino itu menuduh OpenAI telah mencuri rahasia dagang. OpenAI membantah tuduhan tersebut. Perkara hukum ini bisa menjadi penghambat, terutama jika berkaitan dengan teknologi yang digunakan dalam perangkat keras baru ini.

Bagi Indonesia, kabar ini menarik karena menunjukkan arah perkembangan asisten AI di masa depan. Saat ini, pengguna di dalam negeri lebih banyak mengandalkan speaker pintar dari Google dan Amazon yang belum sepenuhnya mendukung Bahasa Indonesia secara optimal. Kehadiran perangkat dari OpenAI dengan harga yang lebih tinggi mungkin tidak akan langsung menjadi mainstrem, tapi bisa menjadi katalis bagi pemain lokal untuk berinovasi.

Ke depannya, kita mungkin akan melihat lebih banyak lagi perangkat keras yang dirancang khusus untuk AI, bukan hanya speaker. OpenAI sendiri telah menunjukkan ambisi besar dengan berinvestasi di bidang perangkat keras. Jika sukses, ini bisa menjadi kategori produk baru yang akan mengubah cara kita berinteraksi dengan AI di rumah.

Namun, kunci keberhasilan tidak hanya pada desain atau harga. OpenAI harus memastikan bahwa perangkat ini benar-benar memberikan fungsi yang tidak bisa dilakukan oleh smartphone. Jika tidak, konsumen akan kesulitan membenarkan pengeluaran ratusan dolar untuk sebuah perangkat yang hanya repot dibawa. Inilah tantangan terbesar yang harus dijawab OpenAI sebelum 2027 tiba.

Sementara itu, publik menunggu detail lebih lanjut, terutama tentang "moving parts" dan bagaimana perangkat ini akan bekerja dalam ekosistem ChatGPT. Apakah akan ada langganan khusus? Fitur apa saja yang akan dibuka? Semua jawaban itu akan menentukan apakah speaker donat ini akan menjadi produk ikonik atau sekadar menjadi barang mahal yang gagal menjawab kebutuhan.1. Kurs dolar Rp 15.000.

Mengapa Ini Penting

Langkah OpenAI masuk ke perangkat keras menandakan pergeseran strategi besar dari sekadar perusahaan perangkat lunak. Bagi Indonesia, ini menjadi sinyal bahwa asisten AI akan semakin personal dan hadir dalam bentuk fisik. Jika berhasil, ini bisa mendorong adopsi AI di rumah tangga dan memaksa pemain lokal untuk beradaptasi. Namun, harga yang tinggi dan pasar speaker pintar yang belum terbukti profitabel membuat langkah ini berisiko. Keberhasilannya akan menentukan apakah perangkat AI khusus akan menjadi kategori baru atau hanya tren sesaat.

Sumber Asli
TechCrunch
Tanggal
6 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit