Lembaga pemeringkat S&P Global menurunkan peringkat kredit Oracle dari BBB menjadi BBB- pada 9 Juli. Penurunan ini menempatkan raksasa database tersebut hanya satu tingkat di atas status spekulatif atau junk bond. Prospek perusahaan masih stabil menurut S&P, namun penurunan lebih lanjut akan mendorong Oracle ke wilayah investasi berisiko tinggi. Langkah ini merupakan konsekuensi langsung dari ambisi agresif Oracle membangun pusat data AI yang membebani neraca keuangan perusahaan.
S&P sebelumnya menetapkan outlook Oracle pada posisi 'negatif' pada Juli 2025 sebagai peringatan dini atas skenario ini. Penurunan peringkat kini terjadi karena bisnis infrastruktur AI Oracle tumbuh sangat cepat, memicu kebutuhan modal dan utang yang masif. Perusahaan harus menanggung defisit arus kas operasi bebas hampir 42 miliar dolar AS untuk tahun fiskal 2027.
Akar masalah dari penurunan peringkat ini adalah investasi raksasa Oracle dalam ekspansi pusat data AI. Untuk tahun fiskal 2027 yang berakhir Mei mendatang, Oracle menaikkan proyeksi belanja modalnya menjadi 90 hingga 95 miliar dolar AS. Angka ini jauh melampaui estimasi awal S&P yang hanya 60 miliar dolar AS. S&P mengaitkan membengkaknya pengeluaran tersebut dengan lonjakan biaya komponen seperti GPU dan peralatan jaringan.
Transformasi Oracle dari sekadar perusahaan perangkat lunak menjadi hyperscaler cloud tengah berlangsung cepat. Infrastruktur cloud menyumbang sekitar 27 persen dari total pendapatan pada tahun fiskal 2026. S&P memproyeksikan porsi tersebut meroket mendekati 60 persen pada 2028. Namun, dibandingkan pesaing sekelas Microsoft, Google, atau Amazon, Oracle berada dalam posisi lebih rentan karena ketergantungannya pada klien eksternal dan minimnya fleksibilitas finansial saat industri melambat.
Risiko ini semakin tajam dengan munculnya kompetitor baru di luar nama-nama besar teknologi. SpaceX misalnya, kini ikut menyewakan kapasitas komputasi kepada Anthropic dan Alphabet. Di tengah ekspansi AI yang serba cepat, Oracle juga memangkas lebih dari 21.000 karyawan dalam dua belas bulan terakhir, setara 13 persen dari total tenaga kerjanya. Perusahaan mengalihkan sumber daya dari manusia ke mesin guna mendanai infrastruktur AI tersebut.
Bagi ekosistem teknologi di Indonesia, tren ekspansi agresif Oracle ini relevan karena perusahaan gencar membangun region cloud di Tanah Air. Penurunan peringkat kredit menandakan model bisnis 'burn rate' tinggi di sektor AI mulai diwaspadai pasar global. Jika Oracle kesulitan likuiditas, layanan cloud bagi korporasi Indonesia bisa terdampak dari sisi stabilitas harga maupun komitmen penyediaan kapasitas jangka panjang.
Ketergantungan Oracle pada satu klien raksasa seperti OpenAI juga menjadi pelajaran berharga bagi perusahaan teknologi lokal. S&P mencatat sekitar separuh dari 638 miliar dolar AS nilai kontrak layanan yang belum terkirim berasal dari OpenAI. Konsentrasi risiko pada satu pelanggan membuat Oracle rentan jika boom AI tiba-tiba berhenti. Startup atau perusahaan cloud Indonesia perlu menghindari pola serupa dengan mendiversifikasi portofolio klien sebelum membangun infrastruktur padat modal.
Di sisi lain, fenomena utang infrastruktur AI ini mencerminkan kecemasan regulator internasional. Bank for International Settlements (BIS) menyatakan investasi AI yang didanai utang memiliki paralelisme dengan gelembung dot-com dan krisis finansial 2008. Risiko sistemik akibat utang Nvidia dan OpenAI disebut berpotensi memicu kehancuran sistem layaknya krisis satu dekade lalu. Hal ini mengingatkan pengambil kebijakan di Indonesia untuk berhati-hati menyambut investasi pusat data asing yang masif.
S&P secara eksplisit menyebut OpenAI sebagai 'risiko kredit sentral' bagi Oracle. Jika OpenAI gagal memenuhi kewajiban pembayaran, Oracle akan terbebani kontrak sewa pusat data jangka panjang yang sulit dihentikan atau dialihkan ke klien lain dengan syarat setara. Kemampuan OpenAI membayar sangat bergantung pada keberlanjutan boom AI, dominasi model mereka di pasar, serta akses terhadap modal eksternal yang belum tentu terjamin.
Peringatan BIS menambah tebal catatan risiko tersebut. Lembaga tersebut menyoroti bahaya kehancuran sistem akibat penumpukan utang oleh pemain kunci seperti Nvidia dan OpenAI. Pandangan ini menegaskan bahwa euforia AI saat ini tidak lepas dari fundamental pembiayaan yang bisa goyah kapan saja.
Ke depan, Oracle diproyeksikan akan menutupi defisit belanja melalui campuran utang dan ekuitas. Strategi ini mungkin menahan laju penurunan peringkat dalam jangka pendek, namun tidak menyelesaikan akar masalah ketergantungan pada pasar AI yang fluktuatif. Investor global akan terus memantau kemampuan Oracle menyeimbangkan ambisi hyperscaler dengan disiplin neraca.
Tren kompetisi penyewaan komputasi juga diprediksi semakin ketat dengan masuknya pemain di luar industri teknologi tradisional. Perusahaan harus membuktikan bahwa infrastruktur yang dibangun dengan utang puluhan miliar dolar benar-benar menghasilkan arus kas berkelanjutan. Jika tidak, risiko status junk bond bagi Oracle bukan lagi sekadar ancaman, melainkan kepastian.