Masayoshi Son, pendiri dan CEO SoftBank Group, kembali mengejutkan dunia teknologi dengan proyeksi megah soal masa depan kecerdasan buatan. Dalam konferensi tahunan SoftBank di Tokyo, Selasa (15/7), ia menyatakan bahwa pengembangan AI akan menelan investasi sebesar 5 triliun dolar per tahun — atau setara 800 triliun yen — menjelang 2040. Angka fantastis itu, menurutnya, bukanlah hyperbole melainkan konsekuensi logis dari transformasi ekonomi global.
Son membantah keras isu gelembung AI yang marak dibicarakan para analis pasar modal. "Bertanya apakah AI adalah gelembung itu absurd. Saya tidak pikir orang yang bertanya itu tahu apa itu AI," tegasnya di hadapan ratusan investor dan mitra bisnis. Keyakinan Son didasarkan pada perhitungan bahwa jika pendapatan AI merepresentasikan 20 persen PDB global pada 2040, pengeluaran 800 triliun yen per tahun hanyalah "kesalahan pembulatan" — rounding error — dalam skala ekonomi dunia.
Latar belakang optimisme Son bukan tanpa jejak. Dua tahun terakhir, SoftBank meluncurkan program investasi ekspansif untuk memposisikan diri sebagai platform AI inti. Grup ini telah menyuntikkan puluhan miliar dolar ke OpenAI, pembangun ChatGPT, membiayai pembangunan pusat data skala besar, dan mengakuisisi perusahaan robotika. Komitmen kumulatif SoftBank ke OpenAI diproyeksikan tembus 60 miliar dolar sebelum akhir 2026 — taruhan terbesar dalam sejarah grup tersebut.
Namun, sejarah Son mencatat campuran kemenangan gemilang dan kegagalan pahit. Ia dikenal awal menanam modal di Alibaba saat masih startup, serta membawa iPhone ke pasar Jepang lewat SoftBank Mobile. Di sisi lain, investasi masif di WeWork berakhir dengan kebangkrutan penyedia kantor bersama itu, menghancurkan narasi sentuhan emas Son. Kali ini, taruhannya jauh lebih besar dan teknologis.
Kebutuhan energi jadi salah satu tantangan paling kritis dalam visi Son. Ia memproyeksikan pusat data AI akan memerlukan daya generasi 3 terawatt pada 2040 — 1,8 kali total konsumsi listrik global saat ini. Awalnya, kebutuhan ini akan dipenuhi terutama oleh pembangkit gas, sebelum fusi nuklir mengambil alih sebagai sumber utama. "Apakah kita akan pakai tenaga surya di luar angkasa seperti kata Elon Musk? Mungkin keduanya, tapi menurut saya fusi di bumi akan jadi sumber energi lebih murah dan bersih," ujar Son.
Perspektif Indonesia: proyeksi Son ini mengirim sinyal keras bagi pembuatan kebijakan digital dan energi di Negeri. Indonesia saat ini menargetkan 23 persen campuran energi baru terbarukan (EBT) pada 2025, namun ketergantungan pada batu bara dan gas masih dominan. Jika prediksi Son benar — kebutuhan listrik AI melonjak drastis — negara penghasil nikel dan kobalt terbesar ini punya peluang strategis di rantai pasokan baterai dan komponen pusat data. Namun, infrastruktur jaringan transmisi dan kebijakan harga listrik industri harus disiapkan jauh hari.
Di sisi adopsi, ekosistem startup AI Indonesia mulai berkembang dengan pemain seperti Nodeflux, Kata.ai, dan Bukalapak yang mengintegrasikan AI ke platform e-commerce. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah merancang Strategi Nasional Kecerdasan Buatan (Stranas KA) 2020-2045, tapi realisasi anggaran dan talenta tetap jadi hambatan. Investasi skala SoftBank — 5 triliun dolar per tahun — mengganggungkan total anggaran belanja negara Indonesia (APBN 2024: ~3.300 triliun rupiah atau ~210 miliar dolar). Kesenjangan skala ini menegaskan perlunya kolaborasi regional dan penarikan investasi asing.
Son melukiskan visi 2040 di mana 100 triliun agen AI — entitas otonom yang mengambil keputusan, bertindak, dan berkomunikasi antar agen — mengisi ruang digital. "Kita akan beralih dari dunia sentris-manusia ke dunia sentris-agen. Era di mana manusia menjadi bentuk kehidupan tertinggi di bumi akan berakhir. Baik atau buruk, itu akan terjadi dan tak bisa dihentikan," kata ia dengan nada fatalistik yang khas.
Pernyataan radical itu memicu perdebatan etis dan filosofis di kalangan akademisi AI. Pakar keamanan AI seperti Yoshua Bengio dan Geoffrey Hinton justru memperingatkan risiko kehilangan kontrol atas sistem superinteligen. Di Indonesia, komisi etik AI baru mulai dibentuk di bawah BRIN dan Komdigi, namun kerangka regulasi binding belum ada. Visi "agent-centric world" Son menuntut persiapan hukum, pendidikan, dan jaringan sosial yang jauh lebih matang.
Bagi investor Indonesia, narasi Son menawarkan dua sisi mata uang. Sisi pertama: peluang investasi di rantai nilai AI — pusat data, chip, energi, hingga aplikasi vertikal untuk pertanian, kesehatan, dan keuangan syariah. Sisi kedua: risiko gelembung valuasi startup AI lokal yang naik terlalu cepat tanpa product-market fit jelas. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) perlu waspadai praktik "AI-washing" di laporan prospektus emisi saham baru.
Langkah selanjutnya SoftBank akan jadi barometer. Eksekusi investasi 60 miliar dolar ke OpenAI, kemitraan dengan produsen chip seperti Arm (yang diakuisisi SoftBank 2016), dan pembangunan pusat data di Jepang serta AS akan menguji apakah proyeksi 5 triliun dolar per tahun realistis atau sekadar retorika visioner. Dunia teknologi menunggu: apakah Son akan mencatat kemenangan lain seperti Alibaba, atau menambah daftar WeWork dalam portofolionya?