Artificial Intelligence

Smartbird: CEO Baru, Rencana Besar, dan Tantangan Membangun Perusahaan AI dari Nol

Smartbird: CEO Baru, Rencana Besar, dan Tantangan Membangun Perusahaan AI dari Nol

Ringkasan

  • Setelah melepas bisnis sepatu Allbirds, perusahaan kini bertransformasi menjadi Smartbird, sebuah startup infrastruktur AI yang dipimpin oleh Nadia Carlsten.

Transformasi drastis dilakukan oleh perusahaan ritel sepatu Allbirds yang kini beralih fokus menjadi entitas baru bernama Smartbird. Setelah melepas bisnis sepatu mereka senilai $43 juta dan menghimpun pendanaan tambahan sebesar $100 juta dari pasar saham, perusahaan ini kini menatap masa depan di sektor kecerdasan buatan (AI). Langkah strategis ini sempat memicu perdebatan di Silicon Valley, namun kini perusahaan tersebut secara resmi memulai lembaran baru di bawah kepemimpinan CEO yang baru ditunjuk, Nadia Carlsten.

Nadia Carlsten, mantan eksekutif AWS yang memiliki gelar PhD di bidang teknik, baru saja memulai tugasnya sebagai CEO Smartbird. Dalam wawancara terbarunya dari Amsterdam, Carlsten mengungkapkan bahwa tantangan utamanya saat ini adalah membangun fondasi perusahaan dari nol. Saat ini, Smartbird praktis merupakan startup dengan pendanaan awal yang besar namun belum memiliki tim operasional yang lengkap. Misi pertama Carlsten adalah merekrut jajaran pimpinan kunci, termasuk posisi untuk memimpin operasional infrastruktur.

Fokus bisnis Smartbird kini diarahkan pada penyediaan infrastruktur AI. Di tengah permintaan global yang melonjak untuk kebutuhan komputasi dalam melatih model deep learning, Smartbird memilih untuk mengambil posisi yang spesifik. Berbeda dengan penyedia layanan cloud konvensional yang mengandalkan arbitrase harga chip atau waktu GPU, Smartbird akan berfokus pada penerapan model yang dikelola secara lebih personal dan terukur sesuai kebutuhan klien.

Target pasar utama Smartbird adalah perusahaan yang membutuhkan kendali penuh atas server mereka sendiri. Hal ini biasanya didorong oleh pertimbangan regulasi, kedaulatan data, atau kebutuhan bisnis spesifik yang tidak terpenuhi oleh layanan cloud publik yang umum. Carlsten menilai bahwa pasar ini masih dalam tahap awal, terutama karena banyak perusahaan besar saat ini masih berada dalam fase uji coba atau piloting terhadap alat-alat berbasis AI.

Dalam pengalamannya di DCAI, Carlsten telah menangani klien dari sektor-sektor krusial seperti farmasi, energi, keuangan, dan sektor publik yang sangat memperhatikan keamanan data. Dengan pendekatan ini, Smartbird memosisikan diri bukan sebagai pesaing langsung bagi penyedia layanan cloud raksasa atau hyperscalers, melainkan sebagai mitra bagi perusahaan yang ingin mengelola proyek AI internal mereka dengan standar keamanan dan kendali yang lebih ketat.

Meski persaingan di sektor ini cukup ketat dengan kehadiran pemain besar seperti Hewlett Packard dan Equinix yang sudah menawarkan layanan serupa, Carlsten tetap optimis. Ia menargetkan untuk memiliki klaster komputasi yang telah diimplementasikan bagi beberapa pelanggan pada akhir tahun ini. Fokus perusahaan saat ini adalah membuktikan model bisnisnya melalui eksekusi yang matang, meskipun tidak terburu-buru melakukan komitmen pembelian chip dalam skala masif seperti startup pesaing lainnya.

Mengapa Ini Penting

Fenomena pivot perusahaan publik menjadi startup AI menunjukkan betapa besarnya pergeseran modal menuju infrastruktur komputasi. Bagi industri di Indonesia, ini menggarisbawahi pentingnya kedaulatan data dan kebutuhan akan solusi infrastruktur AI yang lebih terkelola, terutama bagi sektor perbankan dan pemerintah yang memiliki regulasi privasi data yang ketat.

Sumber Asli
Techcrunch
Tanggal
19 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit