Sitelas, layanan pembuat situs web berbasis kecerdasan buatan, meluncurkan cara baru menjalankan situs tanpa menyentuh dasbor administrasi. Melalui konektor Model Context Protocol (MCP) yang dipasang sekali di Claude, pengguna cukup mengetik perintah untuk melihat masuknya prospek, membalas pesan, hingga mengubah tampilan halaman.
Skenario harian terlihat sederhana: pemilik situs bertanya, 'Ada yang mengisi formulir hari ini?' Claude lantas membaca kiriman masuk dari situs, menampilkan nama prospek baru beserta kebutuhannya, lalu menyusun balasan hangat dengan gaya penulis. Semua terjadi dalam satu utas obrolan yang sama, tanpa membuka tab lain.
Kemampuan menghasilkan halaman web dari prompt kini sudah merata. Siapa pun dapat mengetik permintaan dan mendapatkan halaman yang cukup memadai dalam hitungan menit. Masalahnya muncul di hari kedua, ketika lead mulai masuk, salinan perlu disesuaikan, atau section terlupakan diminta oleh klien.
Di titik itulah situs berhenti menjadi proyek desain dan berubah menjadi entitas yang harus dioperasikan. Sebagian besar platform justru menyerahkan dasbor baru yang harus login dan dipantau. Sitelas mengambil taruhan berbeda: karena situsnya hidup di dalam Claude, obrolan yang membangun situs juga yang menjalankannya.
Claude terhubung ke alat luar lewat konektor MCP—fitur yang sudah familiar untuk Gmail, Calendar, dan Drive. Sitelas menambahkan konektor sendiri. Pengguna cukup menambahkannya sekali melalui claude.ai: Customize → Connectors → Add custom connector, lalu menempelkan URL https://sitelas.com/api/mcp. Setelah itu, Claude dapat memublikasikan, membaca kiriman, mengubah gaya, dan menambah bagian baru.
Di Indonesia, kemudahan ini menyentuh segmen UMKM dan kreator yang kerap kesulitan mengelola sistem manajemen konten konvensional. Memusatkan operasi situs ke dalam obrolan AI berpotensi memangkas waktu belajar alat terpisah. Namun, ketersediaan Claude yang belum sepenuhnya dilokalkan menjadi batu sandungan, meski akses via web masih terbuka bagi pengguna dengan koneksi stabil.
Perbandingan dengan penyedia lokal memperlihatkan jarak. Platform seperti WordPress atau builder domestik masih menuntut pengguna masuk ke halaman admin untuk melihat statistik dan formulir. Integrasi ke spreadsheet pun biasanya butuh plugin atau layanan otomasi pihak ketiga. Sitelas memotong rantai tersebut dengan memanfaatkan konektor Sheets milik Claude yang sudah ada.
Dampak lain menyangkut kedaulatan data. Setiap kiriman formulir otomatis tersimpan di kotak masuk Sitelas dan dapat dibaca oleh asisten AI asing. Pelaku usaha lokal perlu memastikan persetujuan pelanggan sebelum detail kontak diproses melintasi batas yurisdiksi. Di sisi lain, absennya CRM bawaan dan pengirim email massal membuat layanan ini cocok untuk aliran lead awal, bukan kampanye besar.
Pengembang Sitelas menegaskan bahwa situs bukan lagi destinasi yang dikunjungi, melainkan endpoint yang dioperasikan di samping alat lain dalam Claude. Mereka menyertakan kiat jujur: ini bukan paket operasi perusahaan. Tidak ada CRM terintegrasi, tidak ada pengiriman email massal, dan komersial terbatas pada tombol Beli tunggal per produk melalui tautan pembayaran pengguna.
Untuk pengubahan halaman, Claude menampilkan pratinjau URL sebelum perubahan dipublikasikan. Halaman langsung tetap menyajikan versi lama hingga pemilik mengetik 'publish'. Revisi terakumulasi di pratinjau, sehingga tidak ada kejutan publikasi. Satu langkah pengembalian selalu tersedia apabila pemilik berubah pikiran.
Layanan ini gratis selama masa akses awal. Calon pengguna cukup membuat akun di sitelas.com, menghubungkannya ke Claude, lalu mulai bertanya: siapa yang mengisi formulir, susun balasan, salurkan lead ke Sheet, atau tambah section. Bila volume funnel melampaui kapasitas obrolan, transisi ke alat khusus seperti Zapier atau CRM disarankan.
Ke depan, pola pengelolaan situs lewat percakapan diprediksi meluas seiring matangnya standar MCP. Sitelas juga menyediakan editor visual dengan AI tertanam bagi yang enggan meninggalkan antarmuka klik. Untuk pasar Indonesia, adaptasi serupa kemungkinan muncul dari startup lokal yang menghubungkan model bahasa ke layanan Gojek, Tokopedia, atau WhatsApp Business guna menciptakan loop operasional serupa.