Dalam sebuah momen bersejarah yang menandai peningkatan hubungan bilateral, Selandia Baru dan India secara resmi mengumumkan pembentukan kemitraan strategis. Kesepakatan ini dicapai selama kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Selandia Baru, yang berlangsung pada 11-12 Juli 2026. Kemitraan ini mencakup berbagai sektor krusial, mulai dari kerja sama pertahanan yang lebih erat, termasuk latihan angkatan laut bersama, hingga penguatan hubungan di bidang perdagangan, diplomasi, kebudayaan, olahraga, dan ilmu pengetahuan. Langkah ini diharapkan dapat memperdalam ikatan antara kedua negara yang memiliki pandangan serupa mengenai stabilitas kawasan.
Perdana Menteri Selandia Baru Christopher Luxon menyambut hangat PM Modi dengan upacara adat Maori yang khas dan penghormatan kehormatan (guard of honour). Kunjungan ini merupakan bagian dari tur PM Modi ke Asia Pasifik yang juga mencakup Indonesia dan Australia, dan datang di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan tersebut. Sebelumnya, pada awal pekan yang sama, Tiongkok melakukan uji coba rudal balistik di Samudra Pasifik, yang menimbulkan kekhawatiran di negara-negara tetangga. Kemitraan strategis ini dinilai sebagai respons proaktif terhadap dinamika keamanan regional yang kompleks.
Kunjungan PM Modi ke Selandia Baru ini merupakan yang pertama kali dilakukan oleh seorang Perdana Menteri India dalam kurun waktu 40 tahun terakhir. Momen ini sangat signifikan mengingat India semakin meningkatkan keterlibatannya di kawasan Indo-Pasifik, terutama seiring dengan penguatan kehadiran diplomatik dan militer Tiongkok di wilayah tersebut. PM Modi sendiri menggambarkan kemitraan strategis ini sebagai "tonggak sejarah" yang akan menginspirasi energi dan kepercayaan yang lebih besar dalam hubungan kedua negara. Ia menekankan bahwa kesamaan nilai-nilai demokrasi menjadi fondasi kuat bagi kemitraan ini.
Dalam pernyataan bersama, kedua negara menegaskan komitmen mereka terhadap kawasan Indo-Pasifik yang "bebas, terbuka, damai, dan sejahtera". Perjanjian kemitraan strategis ini secara spesifik akan memperkuat kerja sama pertahanan, termasuk frekuensi dan cakupan latihan angkatan laut bersama. Selain itu, kolaborasi di bidang ekonomi, diplomasi, pertukaran budaya, pengembangan olahraga, dan riset ilmiah juga akan ditingkatkan. Hal ini mencerminkan ambisi kedua negara untuk membangun tatanan regional yang stabil dan menguntungkan bagi semua pihak.
PM Luxon dalam konferensi pers pasca-pertemuan bilateralnya dengan PM Modi menyatakan bahwa kedua pemimpin "dengan cepat membahas" uji coba rudal Tiongkok. Meskipun demikian, Luxon memilih untuk tidak secara langsung mengaitkan peningkatan hubungan Selandia Baru-India dengan upaya membendung ambisi Beijing. Ia menekankan bahwa Selandia Baru, sebagai negara maritim dan perdagangan kecil, perlu menjalin sebanyak mungkin hubungan dengan negara-negara mitra yang memiliki kesamaan pandangan, baik dalam bidang pertahanan maupun perdagangan.
Di luar agenda kenegaraan, PM Modi juga bertemu dengan ribuan diaspora India di Spark Arena, Auckland. Acara yang dihadiri sekitar 10.000 orang ini menunjukkan dukungan kuat dari komunitas India di Selandia Baru, yang berjumlah sekitar 300.000 jiwa. PM Modi memuji audiens yang hadir sebagai cerminan dari "India yang maju dan kemakmuran Selandia Baru". PM Luxon pun mengapresiasi kontribusi diaspora India dalam membangun Selandia Baru.
Namun, kunjungan ini juga diwarnai unjuk rasa oleh sekitar 20 aktivis Sikh yang memprotes kebijakan PM Modi, bahkan membawa manekin yang menggambarkan PM Modi mengenakan pakaian penjara. Mereka menuduh PM Modi sebagai representasi "teror Hindu". Aksi ini memicu reaksi dari ratusan pendukung PM Modi yang meneriakkan namanya, sehingga memaksa polisi turun tangan untuk menjaga kedua kelompok agar tidak bentrok.
Secara internal, PM Luxon yang akan menghadapi pemilihan umum pada November 2026, terus mempromosikan manfaat ekonomi dari perjanjian perdagangan bebas (FTA) dengan India yang telah disepakati pada April lalu. Namun, FTA ini menghadapi tentangan dari beberapa pihak di Selandia Baru, terutama terkait ketentuan yang mempermudah imigrasi dan akses visa bagi pelajar serta pekerja asal India. Beberapa politisi, termasuk dari partai New Zealand First yang merupakan bagian dari koalisi pemerintahan, menyuarakan keberatan mereka. Menteri Shane Jones bahkan secara kontroversial menyatakan tidak akan pernah menyetujui "tsunami ayam mentega" yang merujuk pada potensi masuknya tenaga kerja India secara masif, yang kemudian dikritik oleh pemimpin komunitas India sebagai bentuk "rasisme terang-terangan".
Kemitraan strategis antara Selandia Baru dan India ini menandai evolusi geopolitik di kawasan Indo-Pasifik. Dengan meningkatnya pengaruh Tiongkok, negara-negara seperti India dan Selandia Baru mencari cara untuk menyeimbangkan kekuatan melalui kerja sama bilateral yang lebih erat. Penguatan di sektor pertahanan, termasuk latihan gabungan, dapat memberikan sinyal kepada kekuatan regional lainnya mengenai komitmen kedua negara terhadap stabilitas dan keamanan maritim. Bagi Indonesia, yang juga memiliki kepentingan besar di kawasan ini, kemitraan ini dapat dilihat sebagai potensi kolaborasi baru dalam menjaga tatanan regional yang damai dan terbuka.
Di sisi ekonomi, perjanjian perdagangan bebas yang menyertai kemitraan strategis ini menawarkan peluang besar bagi kedua negara. Peningkatan arus perdagangan dan investasi, serta mobilitas tenaga kerja dan pelajar, dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, seperti yang terlihat dari reaksi domestik di Selandia Baru, integrasi ekonomi ini juga memerlukan manajemen yang cermat untuk mengatasi kekhawatiran sosial dan politik agar tercipta manfaat yang merata dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat.