CEO OpenAI, Sam Altman, kembali memicu perdebatan sengit setelah mempromosikan penggunaan ChatGPT sebagai asisten pengasuhan anak. Melalui sebuah unggahan, ia menyarankan orang tua untuk menghubungkan kalender keluarga dengan ChatGPT Work guna membuat podcast harian yang dipersonalisasi bagi anak-anak saat perjalanan menuju sekolah. Podcast ini dirancang untuk membahas jadwal kegiatan anak, mulai dari pertandingan sepak bola hingga perayaan ulang tahun, dengan tujuan efisiensi waktu di pagi hari.
Namun, ide ini justru mendapatkan respons dingin dari warganet. Salah satu kritik paling tajam datang dari Alex Hirsch, kreator serial animasi populer Gravity Falls. Hirsch mempertanyakan efektivitas teknologi tersebut dengan kalimat sederhana namun menohok: "Bagaimana jika Anda sekadar berbicara dengan anak-anak Anda sendiri?" Respons ini viral dengan 122.000 likes, jauh melampaui popularitas unggahan asli Altman yang hanya mengumpulkan sekitar 9.600 likes.
Fenomena ini menyoroti tren para pemimpin teknologi yang berusaha menawarkan AI sebagai solusi atas realitas kehidupan manusia yang kompleks. Sebelumnya, CEO Microsoft Satya Nadella pernah menyatakan bahwa ia tidak lagi mendengarkan podcast favoritnya secara langsung, melainkan meminta chatbot AI untuk merangkum konten tersebut. Bagi para petinggi Silicon Valley, efisiensi tampaknya menjadi prioritas utama, bahkan untuk urusan yang bersifat intim seperti komunikasi keluarga.
Bagi OpenAI, segmen orang tua merupakan pasar strategis yang sangat potensial. Perusahaan ini diketahui tengah mencari product manager berpengalaman untuk membangun pengalaman konsumen yang sensitif terhadap kepercayaan bagi keluarga. Langkah ini menunjukkan ambisi OpenAI untuk mengintegrasikan diri ke dalam rutinitas rumah tangga, meski di sisi lain, perusahaan juga menghadapi berbagai gugatan hukum terkait dampak negatif ChatGPT terhadap kesehatan mental pengguna muda.
Di Indonesia, adopsi AI dalam kehidupan sehari-hari memang sedang tumbuh pesat. Banyak keluarga kelas menengah urban mulai menggunakan asisten virtual untuk mengatur jadwal atau mencari ide kegiatan anak. Namun, gagasan untuk menggantikan interaksi emosional orang tua dengan narasi buatan AI masih memicu perdebatan etis yang serupa dengan di Amerika Serikat. Budaya kekeluargaan yang erat di Indonesia cenderung memandang interaksi langsung sebagai pilar utama pembentukan karakter anak.
Kritik terhadap Altman mencerminkan kegelisahan publik mengenai batas antara bantuan teknologi dan alienasi sosial. Ketika AI mengambil alih peran komunikasi dasar dalam keluarga, muncul kekhawatiran bahwa kedalaman emosional yang terbangun melalui obrolan spontan akan terkikis oleh efisiensi algoritmik. Penggunaan teknologi untuk merangkum agenda harian anak mungkin membantu secara logistik, namun tidak bisa menggantikan peran orang tua sebagai pendengar dan teman berbagi.
Ke depannya, tantangan bagi pengembang AI seperti OpenAI adalah menyeimbangkan antara utilitas produk dan batasan etika pengasuhan. Meski fitur-fitur baru terus ditambahkan untuk meningkatkan keamanan interaksi sensitif, kepercayaan publik tetap menjadi variabel yang sulit diukur. Apakah orang tua bersedia menyerahkan bagian dari peran pengasuhan mereka kepada mesin? Data menunjukkan bahwa meskipun ada kemudahan, resistensi terhadap otomasi hubungan manusia tetap tinggi.
Industri teknologi di Indonesia harus memperhatikan sentimen ini. Produk yang sukses di pasar global belum tentu diterima jika mengabaikan nilai-nilai sosial lokal yang menjunjung tinggi interaksi manusiawi. Perusahaan lokal yang ingin merambah ruang keluarga harus lebih berhati-hati dalam memosisikan AI sebagai pendukung, bukan pengganti fungsi utama orang tua.
Sam Altman sendiri bukan kali pertama melontarkan gagasan kontroversial terkait pengasuhan. Dalam penampilannya di acara Jimmy Fallon, ia mengaku tidak bisa membayangkan membesarkan bayi tanpa bantuan ChatGPT. Meski ia mengakui bahwa generasi sebelumnya berhasil membesarkan anak tanpa teknologi tersebut, argumennya tetap menempatkan AI sebagai kebutuhan primer bagi orang tua modern.
Langkah OpenAI selanjutnya akan sangat menentukan arah masa depan teknologi rumah tangga. Jika mereka terus memaksakan narasi bahwa AI adalah "solusi" bagi setiap kerumitan hidup, mereka berisiko menghadapi penolakan yang lebih luas. Sebaliknya, jika mereka mampu menempatkan AI sebagai alat pendukung yang tidak mengintervensi hubungan emosional, mungkin akan ada ruang bagi teknologi ini untuk diterima secara lebih luas di masa depan.